Enam Puluh Tiga

1152 Words
*Author Pov* Selesainya pertandingan tim kedua, Rio menyuruh anggota timnya untuk berlatih sebentar di lapangan pemanasan yang disediakan oleh panitia. Lapangan itu tidak terlalu besar, namun cukup untuk melakukan passing, servis, dan beberapa simulasi permainan ringan. Rasa gugup mulai menyerang mereka semua. Bahkan Genta dan Radi melakukan beberapa kesalahan yang sama berulang kali. Servis yang biasanya masuk dengan mudah justru keluar lapangan. Passing yang biasanya rapi malah memantul terlalu tinggi. Juna sendiri beberapa kali terlambat membaca arah bola. "Fokus, Jun!" tegur Haqi saat bola yang seharusnya bisa diterima malah jatuh begitu saja. "Iya, Kak." Juna melakukan pemanasan pada pergelangan kakinya. Melompat-lompat kecil bahkan melakukan peregangan sedikit. Aneh. Padahal ia sudah berkali-kali mengikuti pertandingan pencak silat. Sudah terbiasa berada di bawah sorotan penonton, bahkan sudah terbiasa mendengar teriakan dan sorakan. Tapi hari ini rasanya berbeda. Mungkin karena ia tidak bertarung sendirian. Kali ini ada tim yang bergantung padanya. Pada satu sama lain. Ada Rio, Haqi, Genta dan Radi. Dan entah kenapa, itu justru membuatnya jauh lebih gugup. Di sisi lain, Genta kembali gagal melakukan servis. Bola melambung terlalu jauh. "Anjir!" umpatnya sambil menepuk dahinya sendiri. "Itu yang keempat." "Makasih udah ngitungin, Radi." "Sama-sama." "Gw gak minta." Radi terkekeh kecil, meskipun dirinya sendiri tidak jauh lebih baik. Beberapa menit terakhir ia juga berkali-kali salah posisi. Melihat kondisi anggota timnya, Rio akhirnya meniup peluit kecil yang dibawanya. "Cukup." Semua langsung berhenti dan mereka menoleh ke arah Rio sambil mengatur napas mereka yang rasanya jauh lebih cepat lelah. Pemuda itu berdiri di tengah lapangan sambil menyilangkan kedua tangan di depan d**a. Tatapannya berpindah dari satu orang ke orang lain. Bohong jika Rio tidak merasa gugup. Karena sejujurnya, ia sendiri sedang berusaha keras mengendalikan perasaannya. Ini adalah pertandingan yang sudah lama ia tunggu. Pertandingan yang menjadi alasan kenapa ia terus mempertahankan klub ini. Pertandingan yang menjadi bukti apakah perjuangan mereka selama ini benar-benar berarti. Namun sebagai kapten, ia tidak bisa menunjukkan kegelisahan itu. Jika dirinya goyah, maka yang lain akan ikut goyah. "Dengar." Suasana langsung hening. "Aku tahu kalian gugup." Rio berbicara pelan namun tegas. "Aku juga gugup." Semua sedikit terkejut mendengarnya. Bahkan Genta mengangkat alisnya. Rio? Gugup? Rasanya aneh mendengar itu keluar dari mulut kapten mereka. "Tapi kalau kita terus mikirin rasa gugup itu, kita gak akan bisa main." Rio menatap mereka satu per satu. "Kita sudah latihan berbulan-bulan. Kalian rela pulang sore, rela capek, rela badan pegal, rela dimarahin pelatih, dan sekarang kalian mau kalah sama rasa gugup?" Tidak ada yang menjawab. "Kita gak datang sejauh ini cuma buat takut." Nada suara Rio semakin mantap. "Kita datang ke sini untuk menunjukkan hasil latihan kita, kita tunjukkan kalau Harimau Putih sudah bangkit. Kita tunjukkan kalau klub ini masih layak diperhitungkan." Matanya menatap lurus ke arah anggota timnya. "Kita juga tunjukkan kalau kita berhak masuk ke babak berikutnya!" "Ooooo!!!" Seruan semangat langsung terdengar. Kobaran semangat yang sempat meredup perlahan mulai kembali muncul. Juna mengepalkan kedua tangannya. Benar. Mereka tidak datang ke sini hanya untuk merasa takut. Mereka datang untuk bermain. Untuk bertanding, untuk membuktikan kemampuan mereka. Juna menatap kedua telapak tangannya. Pemuda itu bisa merasakan di beberapa bagian telapak kakinya sudah mengeras karena latihan. Betisnya berkali-kali pegal selama beberapa bulan terakhir. Tubuhnya sering terasa remuk setiap selesai latihan. Semua itu bukan untuk berhenti di sini. Ia teringat saat pertama kali Rio mengajaknya bergabung. Saat pertama kali Haqi melatih mereka dengan keras. Saat pertama kali mereka kalah dari White Lily bahkan saat pertama kali mereka kalah dari Elang. Semua pengalaman itu membawa mereka sampai ke titik ini. Juna menarik napas panjang. Perlahan rasa gugup itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Semangat, keinginan untuk bermain dan keinginan untuk menang. Di dekatnya, Radi juga terlihat mulai lebih tenang. "Tadi gue gugup banget." "Gue juga," jawab Genta. "Lah, kirain cuma gue." "Malah gue dari pagi." Mereka bertiga saling menatap lalu tertawa kecil. Ketegangan yang sempat menyelimuti perlahan mulai menghilang. "Udah mendingan?" tanya Haqi. "Mendingan, Kak." "Kalau gitu lanjut." Mereka kembali melakukan latihan ringan. Namun kali ini suasananya berbeda. Servis Genta mulai kembali masuk. Passing Radi jauh lebih rapi. Juna juga mulai menemukan ritmenya. Di pinggir lapangan, Riri memperhatikan semuanya sambil memegang clipboard kecilnya. Gadis itu tersenyum tipis. Walaupun dirinya tidak bermain, ia juga ikut merasakan ketegangan yang sama. Tangannya bahkan berkeringat sejak tadi. "Deg-degan juga ya." Riri menoleh. Ternyata yang berbicara adalah Ina yang sejak tadi masih menemani Satria di tribun dekat area pemanasan. "Iya, Mbak." "Keliatan banget." Riri terkekeh pelan. "Padahal yang main bukan aku." "Itu tandanya kamu peduli sama mereka." Riri kembali melihat ke arah lapangan. Matanya berhenti sesaat pada Rio. Kapten klub itu sedang menjelaskan sesuatu pada Haqi. Kemudian berpindah ke Juna yang sedang berlatih menerima bola. Lalu ke Genta dan Radi yang mulai bercanda lagi. Tanpa sadar, Riri ikut merasa bangga. Karena beberapa bulan lalu, klub ini hampir tidak memiliki siapa-siapa. Sekarang mereka berada di pertandingan resmi tingkat nasional antar sekolah. Mungkin perjalanan mereka masih panjang, mungkin mereka belum sekuat tim-tim lain. Tapi mereka sudah melangkah jauh. Sangat jauh. Waktu berlalu dengan cepat. Pertandingan sebelum mereka akhirnya selesai. Suara tepuk tangan penonton menggema di seluruh gedung. Tim yang menang terlihat bersorak bahagia. Sedangkan tim yang kalah mulai meninggalkan lapangan dengan wajah muram. Pemandangan itu membuat suasana hati Harimau Putih kembali sedikit tegang. Karena sekarang, giliran mereka. "Tim Harimau Putih dipersilakan bersiap menuju area pertandingan." Suara pengumuman dari pengeras suara terdengar jelas. Jantung Juna langsung berdetak lebih cepat. Begitu juga yang lainnya. Rio menarik napas panjang. "Oke." Satu kata itu langsung membuat semua perhatian tertuju padanya. "Kita jalan." Mereka mulai mengambil tas dan perlengkapan masing-masing. Riri memastikan botol minuman sudah siap. Handuk sudah tersedia dan peralatan tidak ada yang tertinggal. Alvian berjalan paling depan memimpin mereka menuju lorong menuju lapangan utama. Semakin dekat mereka ke lapangan, suara penonton semakin jelas terdengar. Sorakan. Tepuk tangan. Suara peluit. Semuanya bercampur menjadi satu. Radi menelan ludah. "Anjir..." "Kenapa?" tanya Genta. "Ini lebih gede dari yang gue bayangin." "Jujur, gue juga." Mereka akhirnya sampai di dekat pintu masuk lapangan. Dari sana mereka bisa melihat tribun yang hampir penuh. Ratusan pasang mata, puluhan tim dari berbagai sekolah. Semuanya berkumpul di tempat yang sama. Untuk pertama kalinya, mereka benar-benar menyadari skala pertandingan yang mereka ikuti. Juna memejamkan mata sesaat.Mengatur napas. Satu. Dua. Tiga. Saat membuka mata kembali, ia melihat Rio berdiri di depan mereka. Kapten mereka tersenyum tipis. Tidak lebar. Tapi cukup untuk membuat semua orang merasa tenang. "Siap?" Rio mengulurkan tangannya ke tengah. Satu per satu anggota tim ikut menumpukkan tangan mereka. Juna, Radi, Genta, Haqi. Bahkan Riri ikut menyentuhkan tangannya dari samping. Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik. Mereka hanya saling menatap. Mengingat semua latihan yang telah mereka lalui. Semua rasa lelah, semua kegagalan, semua harapan. Rio menarik napas panjang. "Harimau Putih?" Dan kali ini suara mereka menggema jauh lebih keras dibanding sebelumnya. "BERJUANG!" Tepat setelah itu, pintu menuju lapangan pertandingan mulai dibuka. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah kebangkitan klub mereka, Harimau Putih melangkah masuk menuju pertandingan resmi yang sesungguhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD