Enam Puluh Dua

1170 Words
*Author Pov* “Jam berapa pertandingan selanjutnya?” tanya Genta pada kedua temannya yang sedang melihat selebaran berisi jadwal pertandingan. “Sebentar lagi,” jawab Juna sambil memperhatikan urutan tim yang sudah tersusun rapi di kertas itu. “Habis ini baru kita main.” “Anjir…” Genta langsung menyandarkan punggungnya ke kursi tribun. “Makin deg-degan banget gue.” Sejak tadi pemuda itu tidak berhenti meminum air mineralnya agar rasa gugupnya sedikit berkurang. Radi yang duduk di sebelahnya malah menertawakan tingkah itu. “Lo udah minum hampir tiga botol.” “Biar gak tegang.” “Itu mah namanya bukan ngilangin tegang. Itu malah bikin lo bolak-balik toilet.” “Bacot.” Juna tersenyum kecil melihat mereka. Walaupun semua terlihat masih bisa bercanda tapi ia tahu mereka sebenarnya sama-sama gugup. Apalagi suara sorakan dari lapangan utama terdengar semakin ramai. Pertandingan sebelum mereka ternyata berlangsung cukup sengit. “Juna!” Mendengar namanya dipanggil cukup keras, Juna langsung menoleh dari pamflet di tangannya. Ia melihat seorang pria melambaikan tangan dari arah lorong tribun. “Mas Satria?” gumamnya kaget. Di samping pria itu ada seorang wanita yang langsung memutar mata malas begitu sadar Juna melihat mereka. “Mbak Ina?” Keduanya berjalan mendekati tempat duduk Juna dan yang lainnya. “Kok kalian ada di sini?” tanya Juna begitu mereka sampai. “Ya buat dukung kamu sama tim kamu dong,” jawab Satria dengan senyum lebarnya. Juna menatap kakak perempuannya curiga. “Mbak sendiri nonton sukarela apa diseret Mas Satria?” Ina langsung mencubit lengan adiknya itu pelan hingga membuat Juna sedikit meringis. “Sukarela dong. Emang gak boleh mbak lihat pertandingan adik mbak sendiri?” “Boleh lah.” Juna nyengir lebar sebelum akhirnya memperkenalkan mereka. “Oh iya Mas Satria, kenalin ini teman-teman Juna.” Satria langsung mengulurkan tangannya satu per satu. “Kenalin, saya Satria. Calon kakak iparnya Juna.” Buk! Pukulan dari Ina langsung mendarat telak di bahu pria itu. “Ngaco aja lo!” Genta langsung terkekeh keras mendengar jawaban dari Ina. “Wihh, sejak kapan Mbak Ina udah di-keep?” Buk! Dan sekarang giliran bahu Genta yang kena pukul. “Aduh! Kok gue juga kena, mba?!” “Karena mulut lo gak ada rem.” Radi sampai tertawa sambil memegangi perut. Sedangkan Rio yang baru datang dari membeli minuman hanya geleng-geleng kepala melihat keributan kecil itu. “Rame banget,” gumamnya. “Oh iya!” Juna langsung berdiri sedikit. “Kak Rio, kenalin ini Mbak Ina sama Mas Satria.” Rio langsung mengangguk sopan. “Rio, kapten tim.” “Wah, yang sering diceritain Juna ya?” ujar Satria santai. Juna langsung menoleh cepat. “Lah? Gue cerita apa?” “Katanya kaptennya galak.” jawab Satria jahil. “WOY!” Semua langsung tertawa, Rio malah menyeringai kecil ke arah Juna. “Oh jadi gue galak?” Juna langsung panik. “Bukan gitu maksudnya!” “Tenang,” sahut Rio santai. “Emang gue galak.” “Tau tuh,” timpal Haikal yang baru muncul sambil membawa roti. Rio langsung melempar botol kosong ke arah Haikal. Keributan kecil itu membuat suasana mereka terasa jauh lebih santai dibanding sebelumnya. Bahkan rasa gugup yang sejak tadi mengganjal perlahan mulai berkurang. Sementara itu pertandingan di bawah masih berlangsung cukup sengit. Sorakan penonton terus terdengar. “Eh serius,” ujar Satria sambil melihat lapangan. “Ini pertama kali kalian ikut pertandingan resmi?” “Iya,” jawab Radi. “Gokil sih.” “Makanya kita tegang,” sambung Genta. “Tegang tapi tadi paling berisik,” celetuk Riri dari belakang. “Biar mental lawan down.” “Belum main juga.” Mereka kembali tertawa kecil, namun beberapa menit kemudian suara pluit panjang terdengar dari lapangan. Pertandingan selesai. Salah satu tim langsung bersorak merayakan kemenangan mereka sementara tim yang kalah terlihat lesu meninggalkan lapangan. Dan itu langsung membuat suasana hati Harimau Putih berubah lagi. Karena sekarang giliran mereka untuk bertanding. Juna menarik napas panjang sambil melihat jadwal di tangannya sekali lagi. “Anjir…” “Kenapa?” tanya Radi cepat. “Beneran giliran kita.” Genta langsung berdiri mendadak. “Oke gue mau muntah.” “Drama banget lo,” ujar Haqi sambil tertawa kecil. Walaupun begitu, Haqi sendiri sebenarnya ikut tegang. Sebagai pemain yang lebih berpengalaman dibanding yang lain, ia tahu atmosfer pertandingan resmi memang berbeda. Sekecil apa pun kesalahan bisa langsung jadi tekanan mental untuk mereka. “Eh bentar.” Ina tiba-tiba membuka tas kecilnya lalu mengeluarkan beberapa snack cokelat. “Nih buat kalian.” “Wah rezeki!” seru Genta cepat. “Tapi jangan banyak-banyak,” ujar Ina. “Nanti malah enek pas main.” “Tenang Mbak,” jawab Genta santai. “Perut saya veteran.” “Veteran apaan.” “Veteran jajan.” Tawa kecil kembali terdengar. Juna memperhatikan timnya satu per satu. Radi masih mondar-mandir kecil karena gugup, Genta berusaha santai walaupun jelas kelihatan tegang. Haqi terlihat tenang seperti biasa, Rio sibuk memperhatikan lapangan sambil sesekali memberi arahan kecil. Dan Riri, gadis itu sedang sibuk mengecek perlengkapan mereka sekali lagi. Botol minuman, handuk, tas P3K. Semua ia pastikan sudah lengkap. Entah kenapa melihat itu membuat Juna sedikit lebih tenang, karena tanpa sadar, mereka benar-benar sudah jadi satu tim. “Jun.” Suara Rio membuatnya menoleh. “Hm?” “Masih gugup?” Juna terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk jujur. “Masih.” Rio tersenyum tipis. “Bagus.” “Bagus?” “Berarti lo peduli sama pertandingan ini.” Juna menatap Rio beberapa detik. “Kalau gak gugup?” “Entah terlalu percaya diri atau emang kosong.” Juna terkekeh kecil mendengarnya. Rio lalu berdiri sambil menepuk pundaknya pelan. “Tapi jangan kebanyakan mikir. Main aja.” Kalimat sederhana itu entah kenapa selalu berhasil membuat d**a Juna terasa sedikit lebih ringan. Tidak lama kemudian suara pengumuman dari speaker kembali terdengar. “Tim berikutnya dipersilakan bersiap memasuki area pertandingan.” Deg. Jantung mereka semua seperti langsung berdetak bersamaan. “Anjir beneran…” gumam Radi. Genta menepuk kedua pipinya pelan. “Oke. Fokus. Fokus.” “Lo jangan pingsan ya nanti,” ujar Haikal. “Kalau gue pingsan, angkat gue baik-baik.” “Gak sekalian kita bungkus pake karung?” “Bangsat.” Rio langsung berdiri di depan mereka. “Oke.” Semua langsung sedikit lebih serius. “Kita gak perlu mikirin harus sehebat tim lain. Kita main sesuai latihan kita.” Tatapannya berpindah ke satu per satu anggota timnya. “Kalau bikin salah?” “Bangun lagi.” “Kalau kehilangan poin?” “Ambil lagi.” “Kalau kalah?” Rio tersenyum kecil. “Kita latihan lagi.” Suasana mendadak hening beberapa detik. Lalu tanpa sadar semua mengangguk. Karena itulah Harimau Putih. Mereka mungkin belum sempurna. Belum kuat, belum berpengalaman. Tapi mereka selalu mau bangkit lagi. “Yuk.” Rio mengulurkan tangannya ke tengah. Satu per satu tangan lain ikut menumpuk di atasnya. Juna, Radi, Genta, Haqi. Bahkan Riri ikut menyentuhkan ujung tangannya sambil tertawa kecil. “Harimau Putih?” Rio menatap mereka penuh semangat. Dan secara bersamaan mereka menjawab keras, “BISA!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD