*Author Pov*
“Romeo! Oh Romeo ku! Mengapa takdir begitu kejam memisahkan kita!”
“Oh Juliet, mengapa harus kau. Tapi demi dirimu aku rela membuang segalanya!”
Juna, Radi, Haqi, Rio, juga Genta menatap pertunjukan drama di depan mereka dengan wajah heran, melihat pertunjukan drama di sela-sela waktu istirahat pertandingan.
Para penonton yang datang dibuat tertawa karena tingkah para pemain drama dadakan tersebut. Juna bahkan benar-benar tidak menyangka kalau acara pertandingan olahraga nasional seperti ini ternyata juga memiliki hiburan di sela pertandingan.
Apalagi drama yang mereka bawakan benar-benar absurd.
Kostumnya yang berlebihan, dialognya yang sengaja dilebih-lebihkan, dan salah satu pemerannya bahkan memakai wig panjang warna pirang yang jelas-jelas terlihat murahan.
“Romeo! Jangan tinggalkan aku demi wanita lain!”
“Tidak Juliet! Aku hanya pergi membeli seblak!”
Satu tribun langsung pecah tertawa. Genta bahkan sampai menepuk-nepuk kursinya sambil ngakak tanpa ampun.
“ANJIRR! Seblak!” serunya sambil memegangi perut.
Radi ikut tertawa sampai hampir tersedak minuman. “Gue gak kuat sumpah!”
Bahkan Rio yang biasanya terlihat lebih santai sampai tertawa sambil menundukkan kepala.
Sdangkan Haqi hanya geleng-geleng kepala sambil terkekeh kecil.
“Sumpah random banget.”
Juna masih memperhatikan panggung kecil darurat yang dipasang di tengah lapangan.
“Serius deh gue mau nanya,” katanya sambil menoleh ke Rio, “emang beginian boleh ya?”
Rio mengangkat bahu santai.
“Kayaknya buat hiburan penonton.”
“Gue baru tahu pertandingan olahraga ada dramanya juga,” sambung Radi.
“Seumur-umur gue nonton pertandingan belum pernah lihat yang beginian dah.”
Genta masih belum berhenti tertawa.
“Siapa sih yang punya ide bikin short drama begini? Top banget!”
“Gila sih ini pecah banget,” tambah Haikal yang baru duduk kembali setelah pemuda itu ijin untuk ke toilet, dan sekarang ia duduk santai sambil membawa beberapa snack di tangannya.
Riri yang duduk tidak jauh dari mereka langsung menutup telinganya sebentar.
“Berisik banget sih kalian.”
“Maaf beb,” jawab Genta refleks.
Semua langsung diam beberapa detik.
Riri menatap Genta datar. “Bab beb bab beb.”
Radi langsung menahan tawanya. Sedangkan Rio malah menyeringai jahil.
“Wih… beb katanya.”
“Mulut lo pengen gue lakban gak?” balas Genta cepat.
Namun justru itu membuat semuanya semakin tertawa.
Sementara drama di tengah lapangan semakin ngawur. Pemeran Romeo sekarang berlutut sambil mengangkat sapu pel sebagai pengganti pedang.
“Kalau dunia tak merestui cinta kita, maka aku akan pergi!”
“Pergi kemana, Romeo?”
“Ke warmindo!”
Tepuk tangan dan suara tawa langsung menggema satu gedung.
Bahkan beberapa atlet dari sekolah lain terlihat merekam pertunjukan itu menggunakan ponsel mereka.
“Ini pertandingan olahraga apa festival pensi sih?” gumam Juna geli.
Namun harus diakui, suasana seperti ini cukup membantu mengurangi rasa tegang mereka.
Terutama untuk tim-tim yang masih menunggu jadwal pertandingan. Karena sejak tadi pagi atmosfer gedung atlet memang cukup menegangkan.
Apalagi setelah melihat White Lily kalah tadi. Diam-diam itu membuat beberapa dari mereka mulai gugup.
Namun sekarang, setidaknya suasana hati mereka sedikit lebih ringan.
Drama singkat itu akhirnya selesai dengan adegan paling absurd. Romeo dan Juliet bukannya mati tragis malah buka usaha seblak bersama.
Pluit kecil berbunyi menandakan hiburan selesai. Satu gedung kembali dipenuhi tepuk tangan meriah.
“Encore! Encore!” teriak beberapa penonton bercanda.
Genta sampai berdiri sambil ikut tepuk tangan heboh.
“Itu keren banget sumpah!”
“Lo cocok masuk situ,” celetuk Haikal.
“Jelas. Gue jadi pemeran utama.”
“Pemeran orang hilang mungkin.”
“Bacot.”
Tawa kembali terdengar. Namun tidak lama kemudian suara pengumuman terdengar dari speaker gedung.
“Pertandingan berikutnya akan dimulai lima belas menit lagi. Para atlet diharapkan segera mempersiapkan diri.”
Suasana tribun mulai berubah lagi. Beberapa tim berdiri dan mulai bergerak menuju area pemanasan.
Penonton juga mulai kembali fokus ke lapangan.
Rio menoleh ke arah timnya dengan serius, hilang sudah ekspresi santai pemuda itu.
“Oke.”
Satu kata itu langsung membuat suasana mereka berubah lebih serius.
“Mulai fokus sekarang,” lanjut Rio sambil berdiri.
Radi langsung menarik napas panjang.
“Anjir… tiba-tiba gue gugup lagi.”
“Barusan ketawa paling kenceng,” balas Genta.
“Iya tapi sekarang beda.”
Juna ikut berdiri sambil meregangkan bahunya perlahan. Entah kenapa jantungnya mulai berdegup lebih cepat lagi.
Sore ini giliran mereka. Harimau Putih akan bertanding.
“Lo tegang?” tanya Haqi pada Juna.
Juna mengangguk kecil. “Lumayan.”
Haqi tersenyum tipis.
“Itu wajar kok.”
Rio menepuk pundak Juna pelan.
“Yang penting jangan hilang fokus.”
“Iya, Kak.”
Mereka pun mulai turun dari tribun menuju area pemanasan. Di sepanjang lorong, banyak atlet dari sekolah lain berlalu-lalang sambil membawa tas dan perlengkapan mereka masing-masing.
Suara sepatu bergesekan dengan lantai terdengar bersahutan. Begitu sampai di area pemanasan, Alvian sudah menunggu mereka.
“Nah, akhirnya,” ucap pelatih itu sambil melipat tangan di d**a. “Masih bisa ketawa-ketawa?”
“Masih Pak,” jawab Genta santai.
“Bagus. Berarti mental kalian belum hancur.”
Mereka mulai melakukan peregangan. Awalnya santai, namun semakin lama suasana mulai berubah lebih serius.
Juna memutar bahunya perlahan sambil mencoba mengatur napas. Radi beberapa kali melompat kecil untuk melemaskan kaki.
Sedangkan Genta tetap berisik seperti biasa walaupun jelas terlihat gugup.
“Kalau nanti gue jatuh jangan diketawain ya.”
“Lo belum main juga udah ngomong jatuh,” sahut Haikal.
“Antisipasi.”
Rio memperhatikan teman-temannya satu per satu. Walaupun mereka masih bercanda, ia tahu semuanya sedang tegang.
Dan itu wajar, karena ini pertandingan resmi pertama mereka.
“Dengerin gue sebentar,” ucap Rio akhirnya.
Semua langsung menoleh.
“Kita mungkin belum sekuat tim-tim lain di sini.”
“Belum sepengalaman mereka juga. Tapi kita gak datang buat takut.”
Tatapan Rio berubah serius.
“Kita datang buat main.”
Suasana mendadak lebih hening.
“Jangan mikirin harus menang telak atau apa, main aja kayak biasanya. Percaya dengan hasil latihan kalian.”
Juna mengepalkan tangannya perlahan.
Kata-kata Rio sederhana. Tapi cukup membuat rasa gugupnya sedikit lebih stabil.
“Kalau capek?” tanya Genta tiba-tiba.
Rio langsung menatapnya datar. “Jangan capek.”
“Anjir motivasi apaan itu.”
Radi langsung tertawa. Suasana yang sempat serius langsung kembali buyar lagi. Namun justru itu membuat mereka lebih nyaman.
Alvian menggeleng kecil melihat tingkah anak-anak didiknya.
“Udah selesai bercandanya?”
“Belum Pak,” jawab Haikal cepat.
“Kalau begitu saya tambah sprint dua puluh putaran.”
“SIAP SALAH PAK!”
Tawa kecil kembali terdengar. Namun beberapa menit kemudian, suara pengumuman dari speaker kembali menggema.
“Pertandingan berikutnya, tim Harimau Putih dipersilakan bersiap memasuki area pertandingan.”
Jantung Juna langsung berdegup lebih cepat. Radi menelan ludah pelan, sedangkan Genta langsung menarik napas panjang sambil menepuk pipinya sendiri.
Rio menatap mereka satu per satu, lalu tersenyum tipis.
“Yuk.”
Dan untuk pertama kalinya, Harimau Putih berjalan menuju lapangan pertandingan resmi mereka sendiri.