*Author Pov*
Permainan semakin seru di babak terakhir ini, mereka hanya terpaut selisih angka yang tidak jauh. Sena terlihat menggeram saat lagi-lagi tim lawan bisa mencuri angka pada mereka.
“Fokus! Jangan sampai mereka bisa ambil angka lagi!” teriak Sena memberikan semangat pada teman-temannya.
Namun sepertinya dewi keberuntungan memang tidak berpihak pada mereka hari ini.
Saat bola terakhir dilemparkan oleh tim lawan, Sena mencoba bergerak cepat untuk menerimanya. Tubuhnya melompat rendah sambil memutar kaki, namun—
Tak!
Bola justru memantul keluar area dan pluit panjang pertandingan pun berbunyi nyaring.
Pertandingan berakhir. Dan White Lily kalah.
Beberapa detik suasana terasa hening bagi tim White Lily, seolah mereka masih berusaha mencerna kenyataan yang baru saja terjadi.
Sedangkan di sisi lain, tim Jahe Boy langsung bersorak penuh euforia.
Mereka saling berpelukan dan tertawa puas karena berhasil lolos dari babak penyisihan pertama.
Sedangkan di sisi lain, Sena masih berdiri diam di tengah lapangan. Napasnya memburu. Keringat membasahi wajah dan lehernya.
Tatapannya kosong menatap lantai lapangan.
Juna menelan ludah pelan melihat itu. Baru beberapa saat lalu Sena terlihat begitu percaya diri. Begitu kuat.
Namun sekarang, pemuda itu tampak sangat terpukul.
“Kasihan juga ya…” gumam Radi pelan.
Tidak ada yang menjawab, karena mereka semua merasakan hal yang sama. Haqi menyandarkan tubuhnya ke kursi tribun sambil menghela napas panjang.
“Ini baru penyisihan…” katanya lirih.
Juna diam-diam melirik Rio.
Dan benar saja, rio terlihat terus memperhatikan Sena dari jauh. Tatapannya penuh kekhawatiran.
Dalam diamnya Juna langsung memikirkan sesuatu. Bagaimana kalau nanti mereka juga kalah?
Bagaimana kalau Harimau Putih berhenti sampai babak penyisihan? Bagaimana reaksi Rio nanti?
Walaupun Juna tahu Rio bukan tipe orang yang akan marah atau menyalahkan mereka, tetap saja membayangkan ekspresi kecewa di wajah kapten mereka membuat d**a Juna terasa tidak nyaman.
Sembari menunggu pertandingan berikutnya dimulai, Rio berdiri dari duduknya.
“Gue ke kamar mandi bentar,” katanya singkat.
“Iya,” jawab Genta santai.
Namun begitu Rio berjalan menjauh, Juna, Haqi, dan yang lainnya saling melirik kecil.
Mereka semua tahu, Rio kemungkinan besar bukan pergi ke kamar mandi, melainkan menghampiri Sena.
Dan benar saja, dari kejauhan mereka bisa melihat Rio berjalan menuju lorong belakang dekat ruang ganti atlet.
Sena ternyata berdiri di sana sendirian. Pemuda itu menyandarkan tubuhnya ke tembok sambil menunduk.
Tangan kanannya mengepal kuat. Rio menghentikan langkahnya beberapa meter dari Sena. Entah kenapa melihat temannya dalam kondisi seperti itu membuatnya sedih dan sedikit khawatir.
“Oi.”
Sena menoleh pelan.
Begitu melihat Rio, ia tertawa hambar.
“Dateng buat ngeledek gue?”
Rio mendengus kecil. “Lo kira gue Haikal?”
Sena terkekeh pelan walaupun terdengar dipaksakan. Suasana kembali hening beberapa saat. Rio berjalan mendekat lalu ikut bersandar di tembok sebelah Sena.
“Kalah ya,” ucap Rio santai.
“Nyebelin banget cara lo ngomong.”
“Tapi emang kalah kan?”
Sena mengacak rambutnya kasar.
“Anjir, gue kesel banget.”
Rio hanya diam mendengarkan.
“Gue ngerasa bisa menang tadi,” lanjut Sena lirih. “Set terakhir itu harusnya masih bisa gue ambil.”
“Tapi gak keambil.”
“Iya.”
Rio menoleh menatap sahabatnya itu beberapa detik.
“Terus?”
Sena mengernyit.
“Terus apanya?”
“Mau nangis di sini sampai malam?”
“Bacot.”
Rio tertawa kecil. Namun beberapa detik kemudian ekspresinya berubah lebih serius.
“Kalah itu emang nyebelin.”
Sena menatap lurus ke depan.
“Tapi lo udah main dengan bagus.”
“Bagus tapi kalah.”
Rio mengangguk kecil.
“Iya.”
Sena menghela napas berat.
“Aneh banget rasanya.”
Rio tersenyum tipis.
“Namanya juga pertandingan.”
Beberapa atlet lain mulai berjalan melewati lorong itu, namun keduanya tidak terlalu peduli.
“Lo tau gak bagian paling nyebelin dari kalah?” tanya Sena tiba-tiba.
“Apa?”
“Pas lo sadar kalau semuanya udah selesai.”
Rio terdiam. Karena ia mengerti perasaan itu. Sangat mengerti.
“Gue latihan berbulan-bulan,” lanjut Sena lirih. “Anak-anak juga serius banget buat pertandingan ini.”
Tatapannya menurun.
“Dan sekarang selesai cuma dalam satu hari.”
Rio menatap langit-langit lorong beberapa saat sebelum akhirnya bicara pelan.
“Tapi bukan berarti usaha kalian gak berarti.”
Sena tersenyum hambar.
“Bijak banget lo sekarang.”
“Karena gue pernah ada di posisi lo.”
Sena langsung diam.
Rio tertawa kecil melihat ekspresi temannya itu.
“Waktu pertama kali bawa Harimau Putih tanding lagi, gue juga kalah parah dari tim lo.”
Sena terkekeh saat mengingat pertandingan mereka pertama kali
“Parah banget emang tim lo waktu itu.”
Rio mengangguk santai.
“Setelah pertandingan itu, gue bahkan sampe mikir mau bubarin tim.”
“Buset.”
“Tapi ya… akhirnya lanjut lagi dengan gue dan Haqi, sedangkan yang lain memilih untuk keluar dari tim.”
Rio memasukkan kedua tangannya ke saku jaket.
“Karena itu, menurut gue kalah bukan akhir segalanya.”
Sena menunduk pelan.
Kata-kata Rio memang sederhana. Tapi cukup membuat pikirannya sedikit lebih tenang.
“Lagian,” lanjut Rio sambil menyenggol pundak Sena pelan, “lo pikir gue bakal seneng kalau rival gue berhenti main?”
Sena mendengus kecil.
“Pede Banget lo.”
“Fakta.”
Untuk pertama kalinya sejak pertandingan selesai, Sena tertawa dengan sungguh.
“Anak-anak lo main kapan?”
“Sore.”
“Takut kalah?”
Rio tersenyum tipis. “Takut.”
Jawaban itu membuat Sena tersenyum pada teman baiknya itu.
“Tapi gue percaya sama mereka.”
Rio menatap ke arah tribun tempat timnya berada. Mereka masih terlihat mengobrol dan bercanda kecil. Mungkin mencoba menenangkan rasa gugup masing-masing.
“Kadang,” ucap Rio pelan, “yang bikin kita terus maju bukan karena yakin bakal menang.”
“Tapi karena kita gak mau nyerah sebelum nyoba.”
Sena terdiam mendengarnya. Lalu perlahan ia mengangguk kecil.
“Lo cocok jadi motivator.”
“Ogah. Gaji kecil.”
“Bangsat.”
Keduanya tertawa kecil bersamaan.
Sementara itu di tribun, genta memperhatikan dua orang itu dari jauh.
“Tuh kan bener,” katanya sambil menunjuk Rio dan Sena.
Radi mengangguk.
“Pasti nyamperin Sena.”
“Rio emang gitu orangnya,” gumam Haqi pelan.
Juna masih memperhatikan mereka tanpa bicara. Namun entah kenapa, melihat Rio tetap mendukung Sena setelah kekalahan itu membuat perasaan gugupnya sedikit berubah.
Mungkin benar kata Rio. Pertandingan bukan cuma soal menang. Tapi soal berjuang sampai akhir.
Beberapa menit kemudian Rio kembali ke tribun. Ekspresinya terlihat jauh lebih santai.
“Lama amat,” celetuk Genta.
Rio duduk dengan santai. “Berak.”
“Halah bohong.”
Rio langsung melempar botol air mineral ke arah Genta yang langsung tertawa keras.
“Eh serius,” ujar Radi tiba-tiba. “Kalau nanti kita kalah, Kak Rio bakal marah gak?”
Pertanyaan itu membuat suasana mendadak sedikit lebih hening. Rio menatap mereka satu per satu.
Lalu terkekeh kecil.
“Kalau kalian main asal-asalan, iya gue marah.”
“Kalau udah maksimal?”
Rio tersenyum tipis.
“Ya berarti tinggal latihan lebih keras lagi.”
Juna menatap Rio beberapa detik.
Dan tanpa sadar, rasa tegang di dadanya mulai perlahan menghilang.
Karena sekarang ia benar-benar yakin.
Apapun hasil pertandingan nanti, mereka akan tetap berjalan sebagai satu tim.