*Author Pov*
Karena pertandingan tim Harimau Putih akan dilaksanakan sore nanti, Juna dan yang lain memutuskan untuk menonton pertandingan antara White Lily dan Jahe Boy dari sekolah swasta. Gedung atlet pagi itu sudah jauh lebih ramai dibanding saat mereka datang tadi.
Suara sorakan penonton, peluit wasit, dan pantulan bola dari lapangan lain terdengar bersahutan. Beberapa sekolah bahkan datang membawa spanduk kecil dan yel-yel mereka masing-masing.
“Menurut lo siapa yang bakal menang?” tanya Genta sambil memakan pisang yang ia bawa dari rumah.
Mereka duduk di tribun bagian tengah agar bisa melihat pertandingan dengan jelas. Rio yang duduk paling depan memperhatikan kedua tim yang sedang melakukan pemanasan di lapangan.
“Gue tahu Jahe Boy punya kemampuan bagus,” jawab Rio pelan. “Apalagi beberapa anggota inti mereka jago main capoeira.”
“Capoeira?” tanya Radi bingung.
“Salah satu bela diri dari Brazil,” jawab Juna kali ini.
Semua langsung menoleh ke arahnya.
“Olahraga yang ngandelin gerakan kaki sama tumpuan tangan,” lanjut Juna santai.
“Halah gaya banget lo jelasinnya,” celetuk Haikal.
“Ya emang bener.”
Rio terkekeh kecil.
“Juna bener. Gerakan capoeira itu banyak pakai kelenturan tubuh dan kontrol kaki. Itu bisa jadi nilai tambah buat mereka.”
“Kalau gak salah,” sambung Haqi yang ikut mendengarkan, “ada rumor kalau mau jadi anggota inti Jahe Boy harus ikut latihan capoeira juga.”
“Serius?” tanya Radi langsung tertarik.
Haqi mengangguk.
“Makanya gerakan mereka terkenal fleksibel.”
Genta langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi tribun.
“Anjir, keren juga.”
“Lo jangan tiba-tiba pengen belajar capoeira juga,” sahut Rio cepat.
“Kenapa emang?”
“Takut lo malah salto terus nyangkut di net.”
Tawa langsung pecah di antara mereka. Sementara itu di bawah, kedua tim mulai memasuki lapangan. Suasana tribun langsung berubah lebih ramai.
White Lily datang dengan wajah serius seperti biasanya. Sedangkan Jahe Boy terlihat jauh lebih santai namun penuh percaya diri.
Beberapa pemain mereka bahkan sempat melakukan gerakan peregangan yang cukup unik hingga menarik perhatian penonton.
“Wah gila lentur banget,” gumam Radi kagum.
“Kalau gue kayak gitu mungkin tulang gue udah bunyi semua,” sambung Haikal.
Riri yang duduk di dekat pagar tribun memperhatikan suasana sekitar dengan kagum. Ini pertama kalinya ia melihat pertandingan sebesar ini secara langsung.
Dan jujur saja, suasananya jauh lebih menegangkan dibanding yang ia bayangkan.
Pluit pertandingan akhirnya berbunyi, menandakan pertandingan akan segera dimulai. Tim White Lily dan Jahe Boy memasuki posisi masing-masing.
Sena sebagai ketua klub sekaligus ace tim White Lily berjalan menuju tengah lapangan bersama salah satu anggota Jahe Boy untuk melakukan toss koin dengan wasit.
Beberapa detik kemudian terlihat Sena mengangkat tangannya tinggi.
“Itu artinya White Lily yang servis dulu,” ujar Rio.
Semua langsung fokus ke lapangan. Pertandingan pun dimulai.
Tak!
Servis pertama langsung meluncur cepat ke area lawan. Pemain Jahe Boy menerimanya dengan cukup mudah lalu langsung membalas dengan serangan cepat.
Gerakan mereka benar-benar berbeda. Tubuh mereka terasa lebih ringan, Bahkan lompatan mereka juga jauh lebih fleksibel.
“Njir…” gumam Genta pelan. “Gerakannya serem juga.”
Juna mengangguk kecil. Ia memperhatikan kaki pemain Jahe Boy yang bergerak sangat cepat saat melakukan pertahanan.
“Timing mereka bagus,” katanya pelan.
Rio tersenyum tipis. “Itu hasil latihan panjang.”
Pertandingan berlangsung cepat sejak awal. White Lily yang terkenal kuat dalam serangan harus menghadapi pertahanan Jahe Boy yang sangat sulit ditembus.
Beberapa kali smash dari Sena berhasil dikembalikan. Bahkan salah satu pemain Jahe Boy beberapa kali melakukan gerakan akrobatik yang membuat tribun bersorak kagum.
“Gila keren banget!” seru Radi.
“Kalau gue nyoba gitu mungkin kepala gue duluan yang nyentuh lantai,” balas Haikal.
Namun White Lily tetap bukan lawan mudah. Sena bermain sangat agresif hari itu. Tatapan pemuda fokus penuh ke lapangan.
Smash demi smash dilancarkan tanpa ragu.
“Dia serius banget,” gumam Juna pelan.
“Karena lawannya kuat,” jawab Haqi.
Skor kedua tim mulai saling mengejar. Sorakan penontonpun semakin ramai mendukung tim nya masing-masing, bahkan beberapa sekolah yang sedang menunggu jadwal pertandingan mereka pun ikut menyemangati.
Bahkan beberapa siswa mulai berdiri karena pertandingan terasa semakin panas.
“Menurut kalian siapa yang lebih unggul?” tanya Riri tiba-tiba.
Rio memperhatikan lapangan beberapa detik sebelum menjawab.
“White Lily unggul di power.”
“Kalau Jahe Boy?” tanya Radi.
“Kelenturan sama pertahanan mereka.”
“Jadi?”
Rio tersenyum kecil. “Tergantung siapa yang lebih konsisten.”
Pertandingan semakin intens. Salah satu pemain Jahe Boy berhasil melakukan penyelamatan sulit dengan gerakan setengah salto yang membuat seluruh tribun bersorak keras.
“ANJIRRR!”
Genta sampai berdiri dari kursinya.
“Itu manusia apaan?!”
Haqi tertawa kecil melihat reaksi mereka.
Namun di tengah kekaguman itu, Juna justru semakin serius memperhatikan permainan mereka. Bukan sekadar menonton, tapi mempelajari bagaimana cara mereka bergerak.
Cara mereka membaca arah bola, cara mereka mengatur ritme permainan. Tanpa sadar, rasa gugupnya mulai berubah menjadi semangat. Karena melihat pertandingan itu membuatnya sadar satu hal.
Masih banyak pemain hebat di luar sana, dan ia ingin melawan mereka.
“Jun.”
Suara Rio membuatnya menoleh.
“Hm?”
“Lo fokus banget.”
Juna tersenyum kecil.
“Seru.”
Rio ikut tersenyum tipis.
“Takut?”
Juna terdiam sebentar sebelum akhirnya menggeleng pelan.
“Enggak.”
Kali ini jawabannya jauh lebih yakin dibanding beberapa hari lalu. Rio terkekeh kecil lalu kembali melihat lapangan.
“Nah gitu.”
Sementara pertandingan di bawah semakin panas. White Lily akhirnya mulai unggul beberapa poin setelah Sena berhasil mencetak dua smash berturut-turut yang gagal dibendung lawan. Sorakan pendukung White Lily langsung menggema keras.
“WOOO!”
“Gila Sena keren banget,” gumam Radi kagum.
“Dia emang monster,” balas Haikal.
Namun Jahe Boy tidak tinggal diam. Mereka terus memberikan tekanan dengan permainan cepat dan pertahanan yang disiplin.
Pertandingan berjalan sengit hingga set pertama selesai. White Lily berhasil menang dengan skor tipis.
Semua penonton pun langsung bertepuk tangan meriah.
“Serem juga,” kata Genta sambil menghembuskan napas panjang. “Kalau pertandingan kita nanti kayak gini gimana?”
“Ya tinggal main,” jawab Haqi santai.
“Kalau kalah?”
“Ya jangan kalah.”
“Heh jawaban apaan itu.”
Tawa kecil kembali terdengar, namun jauh di dalam diri mereka masing-masing ada rasa panas yang mulai tumbuh.
Semangat untuk segera turun ke lapangan.
Karena setelah melihat pertandingan itu, mereka semakin sadar kalau dunia pertandingan resmi benar-benar berbeda.
Dan sore nanti adalah giliran Harimau Putih yang akan berdiri di tengah lapangan itu.