*Author Pov*
Alvian melihat jam tangannya. Sudah pukul setengah enam pagi.
Udara pagi masih terasa dingin dan langit bahkan belum benar-benar terang. Jalanan di depan sekolah juga masih cukup sepi.
Hari ini adalah hari pertandingan penyisihan pertama mereka. Dan entah kenapa suasana pagi itu terasa berbeda.
Ada rasa tegang yang samar, namun juga bercampur semangat yang sulit dijelaskan.
Mereka sepakat untuk berangkat pukul enam pagi dan berkumpul di depan gerbang sekolah menggunakan minibus yang sudah disewa oleh Pak Ridwan.
Saat ini yang baru datang hanya Radi, Haqi, Rio, dan juga Riri.
Radi sendiri berangkat bersama Haqi dan Rio karena memang sengaja menginap di rumah kakak kelasnya itu agar bisa berangkat bersama.
Pemuda itu masih terlihat menguap sambil sesekali meregangkan tubuhnya.
“Ngantuk banget gue,” keluhnya sambil mengusap mata.
“Makanya jangan main game sampe jam satu malam,” sahut Haqi santai.
“Gue gak main game.”
“Terus?”
“Gugup.”
Rio langsung terkekeh kecil mendengar jawaban polos itu.
“Masih sempet gugup juga lo.”
“Lah emang lo enggak?”
Rio terdiam beberapa detik. “Sedikit.”
“Halah.”
Riri yang sedari tadi duduk di dekat tas-tas mereka hanya tersenyum kecil melihat percakapan mereka. Ia sendiri sejak tadi sibuk memastikan barang-barang mereka lengkap.
Botol minuman, handuk, kotak P3K kecil, dan buku catatan. Sampai beberapa snack yang sengaja ia bawa dari rumah.
“Ri.”
“Hm?”
“Lo gak gugup?” tanya Radi tiba-tiba.
Riri berpikir beberapa detik sebelum mengangguk kecil.
“Gugup lah.”
“Nah kan.”
“Tapi lebih takut kalau ada barang yang ketinggalan.”
Rio langsung tertawa kecil.
“Manajer sejati.”
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti tidak jauh dari tempat mereka berkumpul. Pintu mobil terbuka dan terlihat Juna dan Haikal keluar bersama sambil membawa tas besar mereka di punggungnya. Rambut mereka berdua masih sedikit berantakan dan wajah mereka pun terlihat belum sepenuhnya segar.
Namun mata keduanya terlihat jauh lebih hidup dibanding biasanya. Mungkin karena rasa antusias dan semangat yang sejak kemarin pemuda itu rasakan.
“Gak ada yang ketinggalan kan?”
Suara ayahnya terdengar dari dalam mobil.
“Gak ada, Pah.”
Juna tersenyum lebar pada ayahnya itu.
“Juna berangkat dulu. Doain semoga tim Juna lolos babak penyisihan.”
“Aamiin,” jawab ayahnya hangat. “Pasti Papah doain.”
Beliau sempat melirik ke arah teman-teman Juna.
“Salam juga buat teman-teman kalian.”
“Iya, Pah.”
Setelah mencium tangan ayahnya sambil berpamitan, Juna langsung berjalan menghampiri yang lain.
“Pagi,” sapa Juna dan Haikal sambil tersenyum kecil.
“Widihh akhirnya datang juga,” sahut Radi cepat.
“Gue telat ya?” tanya Juna.
“Gak kok,” jawab Radi santai. “Ini tinggal nunggu si Genta aja.”
Juna mengangguk lalu langsung menaruh tas besarnya ke bagasi minibus.
“Rio, kaki lo aman?” tanyanya sambil melirik kaki Rio yang masih belum sepenuhnya pulih akibat dari ketegangan otot beberapa hari lalu.
Rio mengangguk kecil.
“Udah sangat amat aman.”
“Syukur deh.”
Alvian yang sejak tadi berdiri memperhatikan mereka akhirnya membuka suara.
“Nanti pas sampai jangan terlalu banyak main-main.”
“Iya Pak.”
“Fokus kalian hari ini pemanasan sama jaga kondisi.”
“SIAP!”
Suasana kembali sedikit ramai.
Walaupun masih pagi, energi mereka perlahan mulai naik.
Namun lima belas menit berlalu di tunggu satu orang masih belum datang.
“Tumben banget si Genta telat,” gumam Haqi sambil melihat jam ponselnya.
“Biasanya dia paling ribut duluan,” sambung Rio.
“Jangan-jangan ketiduran,” kata Radi.
Baru saja mereka membahas itu terlihat seseorang berlari dari ujung jalan menuju gerbang sekolah.
Dengan tas yang berguncang-guncang dan napas yang sudah ngos-ngosan.
“HAHAH… HAH…”
Genta langsung mengangkat tangan begitu sampai.
“Genta… hah… hadir…”
Semua langsung tertawa melihat wajah paniknya.
“Lo abis dikejar debt collector apa gimana?” celetuk Haikal yang berdiri di samping Juna sambil memakan roti yang dia bawa untuk sarapan.
“Macet…” jawab Genta sambil masih mengatur napas. “Terus alarm gue gak bunyi…”
“Atur napas kamu dulu yang bener,” tegur Alvian.
“Iya Pak…”
Riri menggeleng kecil lalu menyerahkan botol minuman padanya.
“Nih.”
“Makasih Ri, penyelamat hidup gue.”
“Drama.”
Walaupun begitu, Genta tetap menerima botol itu dengan senyum lebar.
Setelah memastikan semua anggota sudah datang dan tidak ada drama barang tertinggal, mereka akhirnya mulai masuk ke dalam minibus. Radi langsung memilih duduk paling belakang.
“Ini tempat rebahan gue.”
“Belum juga berangkat,” keluh Haqi.
“Gue menjaga energi.”
“Alasan.”
Sedangkan Juna duduk di dekat jendela sambil melihat keluar. Entah kenapa jantungnya mulai berdebar lagi.
Hari ini benar-benar terasa nyata. Beberapa hari lalu mereka masih latihan seperti biasa.
Tapi sekarang mereka benar-benar akan bermain di pertandingan resmi.
Minibus mulai berjalan meninggalkan area sekolah. Suasana awalnya cukup tenang.
Beberapa masih sibuk dengan pikirannya masing-masing. Namun tentu saja ketenangan itu tidak bertahan lama.
“Eh nanti kalau kita menang pertama kali, kita makan-makan gak?” tanya Haikal tiba-tiba.
“Lo mikirin makan mulu,” balas Rio.
“Ya gapapa dong buat motivasi.”
“Menang dulu sana.”
“Optimis dikit napa.”
Genta langsung menyandarkan kepalanya ke kursi.
“Kalau gue nanti salah smash gimana?”
“Jangan ngomong gitu pagi-pagi,” protes Radi.
“Lah gue cuma antisipasi.”
“Antisipasi pala bapak lo.”
Tawa kembali terdengar memenuhi minibus. Bahkan Pak Ridwan yang duduk di depan sampai ikut tersenyum kecil mendengar keributan mereka.
Riri yang duduk di samping jendela memperhatikan semuanya diam-diam. Walaupun sering ribut dan bercanda, ia sadar satu hal.
Semua orang di mobil ini benar-benar serius dengan tim mereka. Tidak ada yang setengah-setengah dalam menghadapi pertandingan ini.
“Ri.”
Riri menoleh saat Genta memanggilnya dari kursi belakang.
“Apa?”
“Nanti kalau gue pingsan pas tanding jangan panik ya.”
“Kenapa harus panik?”
“Ya kali lo gak khawatir.”
“Enggak.”
“Jahat.”
Radi langsung tertawa keras.
“Ditolak mentah-mentah.”
“Heh diem.”
Riri hanya memalingkan wajah sambil menahan senyum kecilnya.
Perjalanan terus berlanjut. Langit pagi perlahan mulai semakin terang.
Jalanan kota juga mulai ramai. Dan semakin dekat mereka menuju gedung pertandingan, semakin terasa juga ketegangan di dalam d**a masing-masing.
Beberapa mulai diam. Beberapa sibuk mendengarkan musik. Sedangkan Juna hanya memperhatikan pemandangan di luar jendela sambil menarik napas panjang.
“Gugup?”
Suara Rio membuatnya menoleh.
Sedikit.
Rio tersenyum kecil.
“Bagus.”
Juna mengernyit.
“Kenapa bagus?”
“Karena artinya lo peduli.”
Rio lalu menepuk pelan bahunya.
“Tapi jangan sampai gugup bikin lo lupa kalau kita udah latihan keras buat ini.”
Juna terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Benar juga. Mereka sudah latihan sejauh ini. Mereka tidak datang ke sana untuk takut.
Mereka datang untuk bertanding.
Dan perlahan, gedung olahraga tempat pertandingan nasional antar sekolah itu mulai terlihat dari kejauhan.