Lima Puluh Tujuh

1047 Words
*Author Pov* Entah kenapa malam ini Juna hanya bisa berbaring tanpa merasa mengantuk, padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kipas angin di kamarnya berputar pelan, menimbulkan suara berisik kecil yang biasanya cukup membuatnya cepat tertidur. Namun malam ini berbeda. Juna kembali berguling ke sisi kanan kasurnya sambil menghela napas panjang. “Ini kenapa gue gak ngantuk-ngantuk ya?” gumamnya pelan. Ia mengacak rambutnya frustasi lalu kembali menatap langit-langit kamar. Lusa adalah pertandingan sepak takraw pertamanya di ajang olahraga antar sekolah. Walaupun selama ini ia sudah cukup terbiasa mengikuti pertandingan pencak silat yang ditonton banyak orang tapi tetap saja rasanya berbeda. Sangat berbeda. Di pencak silat, ia hanya perlu fokus pada dirinya sendiri. Namun di sepak takraw ini ia justrus harus bermain bersama tim. Sedikit saja ia melakukan kesalahan, maka yang terkena dampaknya bukan hanya dirinya tapi juga semua anggota timnya. Dan entah kenapa, pikiran itu justru membuatnya jauh lebih gugup. Tapi di sisi lain ia juga sangat tidak sabar dengan pertandingan ini. Juna ingin segera merasakan atmosfer pertandingan resmi. Ia ingin melawan tim-tim yang lebih kuat dari White Lily ataupun Elang. Apalagi ia masih mengingat dengan jelas tim milik Putra, teman Rio yang saat itu sempat dimarahi Haqi. Hanya melihat permainan mereka saja sudah cukup membuat darahnya panas. “Njir lah gue gugup banget.” Juna memejamkan mata sambil menutup wajahnya menggunakan bantal. Namun baru beberapa detik kemudian— Ting! Suara notifikasi pesan masuk membuatnya langsung mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas samping kasurnya. Nama Radi muncul di layar. Ia langsung membuka pesan itu dan terkekeh kecil. Rupanya bukan cuma dirinya yang gugup. Radi_Boi : Lo gugup gak cuy? Junaaaa : Wkwkwkwk banget. Ini aja gue dari tadi cuma guling-guling di kasur. Radi_Boi : Sama ege. Gue tadi udah nutup mata sejam tapi gak tidur-tidur Junaaaa : Lo kebanyakan mikir Radi_Boi : YA LO JUGA CHATAN SAMA GUE JAM SEGINI Juna tertawa kecil sendiri. Entah kenapa rasa gugupnya sedikit berkurang mengetahui kalau temannya juga merasakan hal yang sama. Namun belum sempat ia membalas lagi pesan baru masuk dari Genta. Dan lagi-lagi Juna langsung tertawa membaca isinya. Genta : Kalian tidur gak sih? Gue udah nyoba tidur dari jam sembilan tapi gagal total Junaaaa : Lo juga gugup? Genta : Sedikit Radi_Boi : Sedikit pala bapak lo. Orang tadi lo nanya “kalau besok gue keram di lapangan gimana” Genta : Itu kan antisipasi Radi_Boi : Antisipasi apaan anjir Junaaaa : Wkwkwkwk Tak lama kemudian grup chat mereka malah semakin ramai. Bahkan Haikal ikut muncul beberapa menit setelahnya. Haikal : Kalian belum tidur? Radi_Boi : Belum nih, kaga bisa tidur gue Genta : Kami semua sedang ketakutan menghadapi masa depan Haikal : Lebay banget Junaaaa : Lo gak gugup? Haikal : Ya gugup lah g****k. Besok kalau gue salah servis jangan diketawain ya Juna kembali tertawa kecil sambil menatap layar ponselnya. Obrolan random mereka malam itu terus berlanjut. Mulai dari membahas pertandingan, sampai membahas kemungkinan memalukan yang bisa terjadi saat bertanding nanti. “Kalau gue jatuh pas smash gimana?” “Kalau gue malah nendang kepala sendiri gimana?” “Kalau lawan ternyata monster semua gimana?” Dan anehnya, semakin lama mereka mengobrol, rasa gugup itu perlahan berubah menjadi semangat. Di tempat lain, Riri juga belum tidur. Gadis itu sedang duduk santai di lantai kamarnya sambil mengecek ulang beberapa catatan pertandingan yang ia buat. Jadwal, daftar pemain, botol minuman, handuk, hingga kotak P3K kecil. Semua ia tulis rapi di buku catatannya. Karena ini pertandingan pertama mereka, Riri benar-benar tidak ingin ada yang terlupakan. Namun fokusnya buyar saat ponselnya berbunyi. Satu pesan masuk dari Genta. Riri sedikit mengernyit heran sebelum membuka pesan itu. Genta : Belum tidur? Riri : Belum Genta : Tumben Riri : Lagi cek barang buat pertandingan Genta : Rajin banget manajer kita Riri : Iya dong, harus Genta : Jujur gue gugup sih Riri : Lah kirain lo santai Genta : Di luar keliatan santai aja. Padahal dalemnya udah pengen pingsan Riri terkekeh kecil membaca pesan itu. Entah kenapa membayangkan Genta yang biasanya paling santai ternyata ikut gugup terasa lucu baginya. Riri : Bagus berarti lo normal Genta : Maksud lo apa coba Riri : Biasanya lo aneh Genta : Jahat banget ngatain gue aneh. Tapi serius Ri, besok kalau gue mainnya jelek jangan diketawain ya Riri : Liat nanti Genta : Astaga ternyata manajer kita gak punya hati Tanpa sadar senyum kecil muncul di wajah Riri. Malam yang tadinya terasa sepi kini terasa sedikit lebih hangat. Sementara itu, Rio duduk santai di sofa ruang tamu rumahnya sambil memperhatikan layar laptop. Beberapa rekaman pertandingan lawan sedang ia putar. Ia mencatat sesuatu di buku kecilnya sesekali. Walaupun besok bukan dirinya yang akan bermain penuh, tetap saja Rio tidak bisa benar-benar santai. Ia ingin tim mereka siap. Sangat siap. Pintu ruang tamu terbuka pelan. Haqi masuk ke ruang tamu sambil membawa dua gelas kopi instan di tangannya. Sejak sejam yang lalu pemuda itu memutuskan untuk menginap di rumah Rio. “Belum tidur juga lo?” tanyanya sambil menyerahkan salah satu gelas pada Rio. Rio menerimanya dan menyeruput kopi itu dari tangan Haqi.“Belum.” Haqi duduk di sebelahnya lalu melihat layar laptop yang ada di depan Rio. “Nonton itu lagi?” Rio mengangguk. “Gue masih penasaran sama pola permainan mereka.” Haqi terkekeh kecil. “Lo terlalu serius.” “Gue takut mereka gugup pas pertandingan.” “Ya wajar.” Rio terdiam sejenak. “Dulu waktu pertama kali tanding resmi, lo gugup gak?” Haqi langsung tertawa kecil. “Banget.” Rio menoleh. “Serius?” “Gue bahkan muntah sebelum tanding.” Rio langsung tertawa keras. “Anjir.” “Tapi itu normal,” lanjut Haqi santai. “Namanya juga pertama kali.” Rio akhirnya tersenyum kecil. Mungkin benar. Rasa gugup itu bukan sesuatu yang buruk, karena itu artinya mereka peduli. Mereka benar-benar ingin memberikan yang terbaik. Keesokan paginya, grup chat mereka kembali ramai bahkan sejak subuh. Radi mengirim foto matanya yang sembab karena susah tidur. Sedangkan Genta mengirim voice note berisi keluhan kalau tubuhnya terasa pegal semua. Juna hanya bisa tertawa membaca semua itu. Namun di balik candaan mereka ada satu hal yang sama-sama mereka rasakan. Antusias. Mereka tidak sabar menunggu hari pertandingan tiba. Karena sebentar lagi Harimau Putih akan benar-benar menunjukkan dirinya kembali di hadapan semua orang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD