“Memang seharusnya kami nggak menceritakan kisah horor terkutuk itu. Bahkan senior kami pun sebenarnya sudah melarang, tapi tau-tau aja Theo dan yang lainnya setuju. Tanpa sadar, cerita itu mulai menggentayangi kami.” “Jadi ini semua ulah hantu?” Karina mengangguk tegas. “Yup, begitulah.” Kemudian dia menangkap ekspresi wajahku yang kurang setuju. “Kamu kayaknya punya pendapat lain.” “Gue juga masih belum yakin, sih…,” jawabku jujur. “Tapi apa masuk akal kalau semua ini ulah hantu? Gini loh, hantu itu transparan nih, gimana cara lo jelasin teror itu secara mereka juga nggak bisa pegang bolpen?” Karina berpikir sebentar. “Itu bukan hal yang sulit, sih. Kalau mereka bisa merasuki jiwa manusia, seharusnya menulis di kertas bukan hal yang sulit,” jelasnya. “Kamu pernah nonton Death Note?”

