bc

Misi Pelenyapan Tim Paduan Suara

book_age16+
101
FOLLOW
1K
READ
arrogant
badboy
powerful
brave
bxg
mystery
detective
highschool
betrayal
crime
like
intro-logo
Blurb

Awalnya, masa-masa SMA-ku adalah masa-masa yang paling indah. Menjadi cewek beken dan menjabat sebagai ketua ekskul paling bergengsi di SMA Harmony International, paduan suara.

Namun itu tidak bertahan lama. Tahu-tahu saja, masa-masa SMA-ku menjadi masa-masa paling mencekam dalam sejarah hidupku. Banyak kejadian aneh yang terjadi sejak aku mengadakan seleksi anggota baru paduan suara. Seakan kejadian itu menyeretku untuk mencicipi neraka!

Apakah ini ulah hantu-hantu yang mendiami ruang ekskul paduan suara? Atau justru ulah calon paduan suara yang tidak lolos seleksi?

chap-preview
Free preview
[SHEILA] Permulaan yang Menyebalkan
Tak akan pernah terlupakan masa-masa di mana aku menjabat sebagai ketua ekskul paling bergengsi di SMA Harmony Internasional, ketua ekskul paduan suara. Aku talented, selalu meraih juara tiga besar di kelas, dan aku bisa memainkan hampir semua alat musik. Pokoknya kehidupanku di masa-masa SMA adalah kehidupan yang terbaik! Julukan terhormatku di sini adalah Sheila-Ivyana-cewek-paling-beken-sedunia. Ah, aku jadi terharu. Thanks buat fans cowok yang sudah memberikan julukan ini. Aku selalu menjadi pemeran utama di setiap kisah. Akulah yang paling bersinar. Nggak jarang cowok-cowok merapat padaku. Dimulai dari kelas teri sampai kelas kakap. Untungnya, aku justru tertarik sama ketua tim basket kami, Fernando dari kelas 12 Ipa 5. Selain ganteng, dia juga baik, loh. Di mana dia berjalan, pasti senyumnya terkembang. Dia selalu merespons semua cewek-cewek alay nan genit di setiap koridor kelas. Menyebalkan sih, tapi yang penting respons Nando kepadaku sangat spesial. Intinya, aku adalah satu-satunya cewek yang paling beken di sekolah ini! Berbeda dengan sahabatku. Namanya Karina. Cewek yang rambutnya lebih sering dikuncir kuda, memakai kacamata (yang menurutku kacamata itu lebih mirip kacamata Harry Potter), dan super-duper kalem. Saking kalemnya, banyak yang mengatakan bahwa Karina itu nerd! Yeah, kalau itu bukan aku yang dibilang nerd, nggak akan jadi masalah. Tapi terkadang aku juga malu, loh. Kalau aku pergi belanja misalnya, dan aku selalu meminta Karina untuk menemaniku, dia selalu mengenakan baju yang biasa banget! Bukannya apa, sih. Cuma kan aku yang suka pakai baju mewah jadi keliatan norak banget. Tapi Karina itu sebenarnya manis banget. Baik, pintar, sopan, pokoknya semua hal-hal positif yang ngebuat semua orang nyaman deh sama dia. Kalau aku? Well, aku nggak pandai basa-basi, jadi orang-orang sering menilaiku judes dan galak, tapi di samping itu aku terkenal pintar dan berprestasi. Ah, jadi bangga deh. Apalagi kalau ada Karina di sampingku, kecantikan dan keanggunanku jadi tambah berlipat-lipat. Hei, bukan maksudku kalau aku hanya memanfaatkan keberadaan Karina. Asal tau aja ya, aku dan Karina itu sudah bersama-sama sejak rumah kami bersebelahan dari TK (sekarang dia sudah pindah rumah yang lebih bagus). Waktu itu tubuhku tidak selangsing ini, wajahku aneh, pokoknya jelek banget deh. Nggak ada yang mau temenan sama aku, hingga akhirnya aku ketemu Karina. Dan dia nerima aku apa adanya. Itulah yang kusukai dari dirinya. “Sheil?” Aku terkejut dan mengerjapkan mata. Menoleh ke samping, wajah Karina sudah menatapku dengan alis mengangkat satu. Sepertinya aku baru saja melamun lagi deh. Bahkan lokerku saja masih terbuka lebar-lebar. “Ngapain senyum-senyum nggak jelas gitu? Pasti lagi mikirin Nando yaaa,” tebak Karina sambil menodongkan jari telunjuknya di depan hidungku. “Ih, tau aja. Nando semalem nge-chat gue, Rin. Gue kira apa, ternyata cuma nanyain soal kimia doang. Ya elah.” Aku memajukan bibirku. Ceritanya, semalem itu aku habis jingkrak-jingkrak di atas kasur perkara ngebaca chat dari Nando. Padahal dia cuma nge-ping doang, tapi responsku benar-benar berlebihan. Setelah seprai kasur tak rapi lagi, aku baru membalas chat darinya. Jadi gini nih kronologisnya. Fernando//kapten basket ganteng : PING! Sheila Palvin//kembaran Barbara Palvin : Eh ada Nando. Gimana kabarnya? Tumben banget nge-chat gue. Dapet ID gue dari siapa? Jangan-jangan lo nge-stalk gue ya? Ada yang bisa gue bantuin? Mumpung gue free nih. Fernando//kapten basket ganteng : Boleh minta jawaban soal Kimia nomor 12? Sheila Palvin//kembaran Barbara palvin : Oh, nanyain itu doang? Nggak ada yang lain gitu? Yang lebih seru mungkin? Apa cuma itu doang? Fernando//kapten basket ganteng : Itu doang. Sheila Palvin//kembaran Barbara Palvin : Ya elah, kirain mau nanya apaan. Ya entar gue fotoin. Yakin nih cuma nanyain itu doang? Fernando//kapten basket paling ganteng : Yup. Thanks. Dan begitulah kronologisnya semalam. Ngeselin banget kan? Aku jawabnya panjang lebar selebar pantatnya Dani—anak ingusan di kelasku, yang nggak banget kalo lagi mengusap ingusnya—dan Nando cuma ngebales pendek banget. Yah, setidaknya semua orang di SMA ini mengakui kepintaranku, sampai-sampai harus bertanya jawaban kimia padaku. “Ya kalo itu sih nggak kaget juga, abisnya kamu kan kadar berharapnya tinggi banget, Sheil.” Dia mengunci pintu lokernya. Kemudian membantuku untuk mengunci pintu lokerku. “Masa iya dia nolak cewek secantik gue, Rin. Bahkan semua cowok di sini aja ngarep biar bisa pacaran sama gue. Bahkan lagi mereka rela loh mandi kembang tujuh rupa tujuh malam demi dapetin gue. Biar bisa wangi sewangi keteknya Nando.” Aku memutar badanku untuk menyandar pada lokerku. Karina mengernyitkan hidungnya begitu aku berkata “sewangi keteknya Nando”. Tapi itu fakta loh. Mau Nando keringatan, main lumpur, atau apa pun lah, keteknya itu tetap wangi. Hampir seluruh sekolah menjulukinya “Nando kapten basket yang keteknya wangi”. Hebat kan? “Ew deh, Sheil. Kamu emang suka yang aneh-aneh.” Aku melotot padanya. Enak sekali tipeku dibilang aneh. Justru dialah yang aneh, menyukai salah satu anggota komunitas hacker di sekolah kami. Apa hebatnya hacker, coba? Cuma bisa membuka aib-aib orang, terus ketawa cekikikan nggak jelas di pojok kelas (mirip orang kesurupan bagi orang yang nggak kenal dia). Tabiatnya juga jelek banget. Baju yang nggak rapi, bebas dari segala macam atribut, rambut berantakan, tapi ganteng. Eh, masih gantengan Nando, ding. Udah baik, ramah senyum, kapten basket pula. Lah si hacker? Udah dingin (kecuali sama aku), jelek (yang ini bohong), penampilan badboy (yang ini benar), pokoknya nggak banget deh! Denger-denger nih, si hacker itu benci banget sama aku. Aku juga benci banget sama dia, nggak tahu deh kenapa. Siapa tau dia juga salah satu cowok-cowok yang mengincarku. Pokoknya tiba-tiba aja si hacker ini cari-cari ribut sama aku. Mungkin cemburu kali ya, kalau aku suka sama Nando. Eh tapi kan si hacker ini udah punya pacar? Kalau nggak salah namanya Elisa, anak kelas 12 Ipa 2. Dia asli orang Australia. Menurutku nih, Elisa itu cantik banget, tapi masih cantikan aku. Dia juga kaya, bahkan dua mobil Lamborghini itu bisa dibelinya. Cih, aku sih satu showroom mobil beserta isinya juga bisa kubeli. Tapi aku kan nggak senorak itu. Pokoknya dia itu tiga level di bawahku deh. Anehnya aja, dia mau pacaran sama si-hacker-tukang-cari-ribut-itu. Kasian banget kalo aku jadi dia. Mending kan pacaran sama Nando-cowok-beken-kapten-basket-yang keteknya-wangi-itu. “Tuh kan ngelamun lagi.” Karina mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku. Hm, aroma aqua. Dia suka pake parfum aroma segar gitu. Aku sih suka bau permen. “Eh, Sheil. Ada Nando tuh!” Wah! Dengan gesit kuputarkan wajahku dan langsung saja menghantam tubuh si-hacker-tukang-cari-ribut yang tiba-tiba sudah ada di belakangku. “Aduh!” Aku mengusap dahiku. “Apaan, sih? Cari ribut langsung aja sama gue, nggak usah pake acara nabrak muka segala. Dasar banci!” Aku menggeram padanya yang hanya membalas menatapku datar. “Eh, lo tuh kalo mau noleh kasih lampu sen dong. Jangan asal belok aja, kayak ibu-ibu.” Dia membalasku sengit. Aku menahan napas. “Lo pikir gue motor apa. Udah deh nggak usah cari ribut sama gue!” Dia tersenyum miring mengejekku. “Kan tadi elo yang nawarin gue buat ngajak ribut. Lupa?” Cowok ini emang benar-benar minta ditampol dulu! Nggak tahu apa kalau aku pernah belajar taekwondo? Yah walaupun baru sampai sabuk putih sih. Aku baru menyadari bahwa kekerasan fisik bukanlah gayaku. “Sial—“ “Ini ada apa? Kok rame banget?” Tiba-tiba Nando langsung memotong ucapanku. Wajahnya basah oleh keringat seperti biasa. Keteknya ... ya ampun, wangi banget! Emosiku langsung hilang seketika. “Eng ... nggak ada apa-apa, kok.” Aku menggaruk leherku salah tingkah. “Cih, ada Nando aja udah mati kutu duluan lo, kayak p****t Dani yang kalo dipukul langsung merah.” Si-hacker-tukang-cari-ribut-itu mencibirku terang-terangan. Wah! Nih anak benar-benar cari ribut. Bisa-bisanya cewek secantik aku disama-samain sama p****t Dani. Nggak banget. “Udah-udah. Vin, lo balik ke kelas, dan kamu Sheil ayo aku anterin.” Nando langsung menggenggam tanganku di depan semua orang. Ya ampun. Mimpi apa aku semalam? Ini Nando loh yang menggenggam tanganku! Nando, si kapten basket yang keteknya wangi itu! Ah, rasanya indah sekali, seperti berada di atas ribuan bunga mawar. Habis ini, aku akan benar-benar menggaet Nando! Apa pun yang terjadi. Jika aku gagal berpacaran dengan Nando, aku akan menraktir satu kelas di Starbucks. I promise you!

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Troublemaker Secret Agent

read
59.5K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.4K
bc

Chiko, Let's Play!

read
23.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.0K
bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook