[SHEILA] Kevin Bikin Darah Tinggi

1598 Words
Langkah kami berhenti tepat di depan kelasku. Tangan Nando menyandar di ambang pintu (yang gayanya lebih mirip pembatas rel kereta api), kemudian tangan satunya berkecak pinggang. Aku mengulum bibirku berusaha untuk tidak mengeluarkan suara apa pun. Apalagi mencium aroma maskulin dari keteknya. Ya ampuuun. Melihat Nando bergaya keren seperti itu di depanku membuat jantungku deg-degan. “Kamu nggak masuk?” Nando mendongak untuk menatap seisi kelasku. “Oh iya, pasti. Makasih, ya, Nando.” Aku meloncat-loncat kecil di tempat. Ah, gaya seperti ini pasti akan terlihat imut bagi kaum cowok. Sebentar lagi Nando pasti bakal menyukaiku. Aku yakin seratus persen! Tinggal tunggu tanggal mainnya aja. “Sip. Aku balik ya?” Dia tersenyum padaku. Kemudian melirik Karina yang masih menatap si tukang-hacker-cari-ribut-itu di ujung koridor kelas. Dasar Karina, betapa malangnya sohibku itu karena menyukai si tukang hacker nggak berkelas itu. “Iya, hati-hati, ya.” Tanganku melambai-lambai. Lalu tubuhku berputar menatap Karina. “Jadi lo benaran suka sama si hacker itu?” Aku memincingkan mata. Karina tersentak begitu mendengar pertanyaanku yang to the point. Dia menggaruk tengkuknya sambil menyipitkan mata. “Ya … biasa sih.” Aku menaikkan satu alisku. “Biasa itu maksudnya suka apa enggak?” Karina terlihat pucat. Pipinya merah. Pandangan matanya bergerak mencari celah di mana ia bisa menghindar dari pertanyaan mautku. Sebenarnya aku sedikit kecewa pada Karina. Dia adalah cewek yang nggak mudah banget kecantol orang, sekalinya kecantol juga model-model si hacker itu. Duh, kasian banget si Karina. Rasanya aku pingin menyodorkan satu fans cowokku padanya, tapi aku rasa itu mustahil. Secara penampilan si Karina itu biasaaaa banget. Ya pantas aja nggak ada yang mau sama dia. Aku mengusap pundaknya dengan wajah sok belas kasih, bak malaikat. “Kalo lo suka sama si hacker itu, mending jangan deh. Gue kasian sama lo. Lo masih polos, sekalinya suka juga sama si hacker. Aduuuh, coba deh cari yang lain.” Karina menatapku dengan wajah polosnya. “Yang lain itu siapa?” Pertanyaan bagus. Ini saatnya aku mulai bercerita panjang lebar mengenai cowok-cowok SMA Harmony Internasional berparas ganteng yang terverifikasi banget! Aku mulai bercerita dengan mata berbinar-binar. “Ya banyak, Rin. Ada Varo si ketua OSIS. Ada Naufal yang pinter main gitar. Terus ada Rama, anak OSIS, Dimas juga anak OSIS. Banyak deh, Rin!”* “Itu bukannya anak kelas sebelas semua? Yah, nggak jadi deh.” Karina menggeleng-geleng tidak setuju. “Enggak, si Dimas masih kelas sepuluh. Ya ampun, Rin. Itu semua cowok-cowok most wanted di sini. Udah deh, ubah prinsip lo yang nggak mau pacaran sama brondong alias adek kelas. Kalo ganteng kan nggak masalah? Daripada si hacker itu.” Aku mengangkat daguku menunjuk si hacker yang sedang menatapku sinis dari ujung koridor. Sempat-sempatnya tuh kunyuk lirik-lirik. Emang benaran cari ribut tuh anak. Karina mengajakku untuk duduk. “Aku nggak suka Kevin kok, Sheil. Tenang aja, hehehe.” Dia tertawa renyah sambil mengeluarkan buku cetak kimia. “Syukurlah.” Aku mengusap dadaku pelan. Mengetahui sahabatku menyukai musuhku itu rasanya kayak kiamat. Di sisi lain aku ingin terus-terusan bersama Karina, di sisi lain aku nggak mau melihat si hacker seinci pun. Tapi apa boleh buat, toh si hacker juga sudah punya pacar, dan si Karina baru saja mengklarifikasi perasaannya yang hanya pura-pura saja pada si hacker. Dan aku harap Karina memang benar-benar tidak menyukainya. . === . Berada di kelas kimia selama dua jam berturut-turut adalah mimpi burukku. Selama jam pelajaran tadi, aku hanya mengetuk-ketukkan pulpenku (sambil terus menguap pastinya), sedangkan Karina mencatat dengan rajin dan semangat yang membara di tiap penjelasan Bu Luk—oke, nama sebenarnya adalah Bu Luki Mia Atomnisa. Sebenarnya nama ini sering memenuhi otakku tiap kali pelajaran kimia dimulai. Nama yang cantik dengan unsur-unsur kimia di dalamnya. Beliau sih dengan percaya diri mengenalkan dirinya yang ingin dipanggil “Bu Luki”, atau “Bu Mia”, atau juga “Bu Nisa”. Sayangnya anak-anak sekolah kami sepakat untuk memanggilnya “Bu Luk”. Dan ini menyenangkan! Apalagi wajah Bu Luk yang selalu merah memendam amarah campur rasa malu ketika dipanggil “Bu Luk”. Oke, back to Karina yang sedang asyik bertamasya di dunia kimia. Wajahnya berseri-seri, sedangkan wajahku seperti orang yang sedang menahan boker. Duh, berada di jam pelajaran kimia benar-benar mimpi burukku! “Kamu nggak pa-pa, Sheil? Kok wajahmu dari tadi suntuk begitu?” Aku menoleh pada Karina saat kami hendak berjalan ke kantin. “Tau deh. Bu Luk emang benar-benar ngeselin. Masa iya kita disuruh ngerjain soal yang belum diajarin? Kan b**o gue jadinya.” Aku mengentakkan kakiku kesal. “Emang kamu nggak belajar semalam?” tanya Karina. “Gue kan emang belajar kalo ada ujian aja, Rin. Tapi lo tau sendiri gue selalu berada di jajaran peringkat tiga besar. Cukup membanggakan.” Aku tersenyum sumringah. Yah, harus kuakui. Walaupun nilaiku selalu masuk peringkat tiga besar, Karina selalu mendapatkan peringkat satu. Tapi nggak papalah. Masuk peringkat tiga besar tanpa pernah belajar malam kan sangat membanggakan. “Iya deh, kamu memang pintar. Tingkatin terus, Sheil, biar kita berdua bisa sama-sama lolos SNMPTN.” Karina menduduki bangku kantin di depanku. Oh iya, sebentar lagi kami akan lepas seragam SMA. Perasaan baru aja kemarin masuk SMA, eh tau-tau aja sudah mau lulus. Tanpa sadar waktu berjalan dengan sangat cepat, apalagi saat aku menjabat sebagai ketua ekskul paduan suara yang paling begengsi. Setidaknya aku masih memiliki kesempatan menjabat sebagai ketua ekskul paduan suara hingga UN. Ah, senangnya. “Lo mau pesan apa, Rin? Biar gue pesenin.” Karina menggeleng. “Ah, enggak deh, Sheil. Aku lagi nggak laper. Nanti aku bisa beli sendiri.” “Oh, ya udah, gue beli dulu ya.” Aku berjalan meninggalkan Karina dengan novelnya, dan mulai mengitari seisi kantin. Mungkin sudah mencapai angka ke tujuh aku berjalan mondar-mandir dari stand ke stand mencari makanan yang bisa dimakan. Sayangnya, semua makanan rasanya tidak ada yang pas dengan selera perut. Beberapa detik kemudian, aku berhasil menangkap sesuatu. Nasi ayam! Aku menggigit bibirku untuk meraih nasi ayam itu di atas etalase yang cukup tinggi. Butuh sedikit menjinjit untuk mengambilnya. Dan ketika ujung kuku jariku hampir berhasil menyentuhnya, seseorang langsung saja menyerobot mengambil nasi ayamku. Dengan geram aku memutar badan dan langsung menghantam tubuh seseorang, lagi. Kurasa dahiku mulai anjlok ke dalam. “Aw!” pekikku mengusap wajahku. Kemudian aku melotot saat mengetahui bahwa orang yang berhasil mencuri nasi ayamku adalah si-tukang-hacker-cari-ribut itu. “Heh! Dua kali ya lo nabrak gue. Dan sekarang balikin nasi ayam gue!” bentakku. Si hacker itu hanya menatapku datar. Tapi aku tahu, jauh dalam lubuk hatinya dia sedang berkata, syukurin, gue duluan. Huahahaha. “Balikin nggak nasi ayam gue?!” “Nggak,” jawabnya datar. “Balikin nasi ayam gue!!!” Aku berteriak semakin kencang saat Kevin tau-tau aja udah pergi membawa nasi ayamku. Mana tinggal satu lagi. “Keviiiiiinnn!!!” Hampir seluruh kantin memandangku bingung. Masa bodoh! Aku pengin nasi ayam! Dan si tukang hacker k*****t itu main nyerobot aja. Aku mengerucutkan bibirku saat kembali duduk di bangku kantin sambil membawa nasi pecel (yang sudah kumakan seminggu berturut-turut itu). Karina menurunkan novelnya dan menatapku penuh tanda tanya. Tanpa sempat dia bertanya, aku sudah dulu menyerocoskan ribuan u*****n. “Dasar k*****t! Enak aja main nyerobot?! Lo pikir ini kantin moyang lo apa?! Liat aja gue bakal balas dendam ke lo! Dasar tukang hacker cari mati!” Aku menggebrak-gebrak meja makan yang membuat getar semua benda di atasnya. Napasku kalang kabut seperti memendam ribuan teko panas di otakku. Lebay sih, tapi si tukang hacker cari mati itu emang benar-benar ngeselin! Kok bisa sih cowok kayak dia bisa masuk sekolah elit ini? Pasti si hacker itu mati-matian ngerayu dan melemparkan belasan ramuan cinta pada administrasi sekolah. Buktinya Bu Ntung—oke, Bu Marintung yang menjabat sebagai administrasi sekolah aja bisa tergila-gila kayak begitu kalo sama si hacker. Pasti si hacker itu ngelakuin sesuatu sama seperti apa yang ada di pikiranku. Pasti itu! “Kamu kenapa Sheil? Kok marah-marah gitu, sih?” Karina mengerutkan dahinya. “Nggak dapet nasi ayamnya?” Bingo! Tau aja si Karina. “Bukannya nggak dapet, cuma direbut aja sama si hacker minta mati itu! Ngeselin banget deh, Rin. Hiiiih.” Aku meremas-remas kotak nasi pecel itu. Karina mengusap tanganku. “Ya udah, besok kan masih bisa beli lagi? Udah deh, masalah sepele kayak gini nggak usah dipikirin, nanti stres sendiri loh.” “Kalo ini menyangkut si hacker, mau nggak mau harus dipikirin, Rin. Udah gemes gue ngeliat tingkahnya yang selalu aneh ke gue. Emang gue pernah salah apa sih ke dia? Perasaan gue biasa aja deh. Tau-tau si hacker ngempesin ban mobil gue, nyembunyiin kunci loker gue, terus suka gosipin gue, banyak deh! Sampe yang terakhir, insiden di mana dia ngerebut nasi ayam gue. Parah! Parah tuh cowok!” Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Pokoknya, lo jauhin dia. Jangan mau digebet sama dia. Jangan mau digombalin sama dia. Dia itu freak. Gue nggak mau lo ikutan freak juga. Ngerti?” Karina mengangguk. Sepertinya dia sudah benar-benar hapal dengan sifatku. Jika aku sedang marah seperti ini, lebih baik Karina tidak menyahut dan membiarkanku untuk menyerocos hingga keluar busa. Baru habis itu Karina akan mengeluarkan suaranya. “Ya udah. Temenin gue ke kamar mandi. Kebelet dari tadi.” Aku mengubah mimik wajah hororku menjadi wajah peri yang cantik dan penuh kemanjaan itu. “Iya deh.” Karina terkekeh pelan. Aku merangkul sahabatku itu. Rasanya benar-benar teduh. Dalam keadaan apa pun, Karina selalu bisa mengerti posisiku. Hanya dia yang mengerti itu. Aku jadi tidak ingin seseorang berani merebut Karina dari kehidupanku. Kalau saja ada yang berani, cari mati itu namanya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD