[KEVIN] Sheila Bikin Jantung Berdebar

1497 Words
Hmm. Dia benar-benar memenuhi otakku. Malam ini Rian mengundang kami—Geng Kodok Buset—untuk bermain online game di rumahnya. Sudah sering kami mengunjungi rumah Rian atau lebih tepatnya nebeng internetan gratis buat online game. Rian-nya sih nggak keberatan, soalnya rumah segede itu dia tinggali cuma bersama si-cewek-judes-tapi-ngangenin-itu dan tiga pembantunya. Sedangkan papinya kerja sebagai designer kapal di Belanda, dan maminya juga designer baju di Perancis. Luar biasa! Sayangnya, bakat designer kedua orangtuanya tidak ada satu pun yang turun ke anak-anaknya. Rian hobi nge-DJ yang sampai-sampai kamarnya mendadak jadi tempat disko kami, dan si-cewek-judes-tapi-ngangenin-itu yang hobi main alat musik. Unik banget. “Woy! Tembak, bro! Tembak!” Suara kacau dari Natha terus mengiringi permainanku dengan Andre. Sekarang kami sedang duduk di ruang TV dan bermain Xbox; Halo. “Sikat, bro! Sikat!” Suara kacau Natha terdengar lagi. Benaran tuh kunyuk! Yang main siapa, yang heboh siapa. Bikin permainanku tambah kacau aja. Mataku mulai menyipit ketika permainan hampir selesai. Aku nggak tahu bagaimana ekspresi Andre, tapi aku masih bisa merasakan kalau dia sama tegangnya denganku. Iya dong, selain hacker terhandal, aku juga gamer terhandal. Wuih! Keren banget! “CUS! Yosh! Gue menang!” Aku berteriak sambil melemparkan stick Xbox ke Natha. “Curang lo. Orang tadi gue dulu yang menang kok,” sergah Andre tidak terima. “Udahlah. Lo emang cari mati kalo ngelawan gue main.” Aku mengibaskan tanganku seolah-olah sedang meremehkan. “Dih. Gaya lo udah setinggi langit aja.” Andre merebahkan dirinya di atas sofa yang empuk. Kemudian Rian datang membawakan berbagai macam suguhan untuk kami sikat abis. Kami emang lebih suka merepotkan daripada direpotkan. “Makan dulu, bray. Abis itu lo dengerin demo gue. Gue nge-remix baru,” kata Rian seperti biasa. “Siap ancur kamar lo kita-kita gerebek masuk nih?” timpal Natha sambil mengunyah beberapa udang tepung yang lezat itu. Ah, itu pasti buatan Bi Sul—Bi Suleni yang jago masak. Kalau Bi Ting—Bi Tingkir jago kebun. Semua halaman di rumah Rian ini asri banget hasil karya Bi Ting yang rajin dan telaten. Satunya lagi, Pak Tung—sopir pribadi yang baik banget. Sedia nganterin kita-kita ke mana aja. Orangnya juga asyik. “Nggak masalah,” jawab Rian menganggukkan kepala. Kami membawa beberapa makanan dan minuman seperti udang tepung, jamur goreng, Fanta merah, dan Sprite. Emang surga banget kalau di rumah Rian. Sebelum masuk ke kamar Rian yang luas banget, aku sempat melihat si-cewek-judes-tapi-ngangenin masuk ke kamarnya yang tak jauh dari kamar Rian. Dia mengenakan piyama merah muda dengan rambut yang dibiarkan tergerai seperti biasanya. Buru-buru aku menghampiri kamar si-cewek-judes-tapi-ngangenin-itu sambil membawa piring kecil berisi udang tepung. Biasalah, menggoda Sheila itu kesenangan tersendiri untukku. Apalagi kalau ngelihat dia marah, wuih! Kerennya nambah, Bro! Kuintip dari ambang pintu kamarnya yang tak kalah luas, berdinding hijau tosca dengan berbagai macam tempelan dinding yang membuat kamarnya jadi tampak hidup. Dia sedang duduk di belakang keyboard dan memainkan nada asal-asalan. Wajahnya tampak lelah. Oh, apa karena besok itu ada seleksi anggota paduan suara? Yeah, sebagai ketua ekskul paling bergengsi di SMAHI, seleksi anggota paduan suara itu bukan kegiatan yang main-main. Setahuku, semua pengurusnya memang harus benar-benar ekstra keras dalam menjalankan tugasnya. “Halo?” Cepat-cepat aku memundurkan kepalaku merapat tembok begitu si-cewek-judes-tapi-ngangenin-itu mengeluarkan suara. Mampus aku kalau ketahuan sedang mengintip. Reputasiku bakal lebih ancur. “Gue tau lo ada di mana.” Alamak! Masa iya beneran ketahuan? Perlahan tapi pasti, aku mulai melangkah kembali ke kamar Rian, namun perkataan si-cewek-judes-tapi-ngangenin-itu menarikku untuk kembali mengintip dari ambang pintu. “Lo mabuk lagi, Tris? Ya ampun. Besok itu kita udah penjaringan anggota paduan suara loh, Tris. Dan lo mabuk, yang benar aja! Gue nggak mau kalau nama Harmony Voice sampai tercoreng gara-gara satu pengurusnya nggak becus! Pulang lo sekarang.” Suara Sheila terdengar dingin tapi tegas. Aku mengusap d**a pelan. Aku pikir aku telah tertangkap basah, ternyata bukan aku toh. “Heh! Ngapain lo di kamar gue? Lo ngintip ya?” Kali ini aku benar-benar terkejut sampai udang tepung ini hampir terjatuh. Wajah garang Sheila sudah memenuhi tatapanku. “Eng-enggak. Nggak usah geer lo.” Aku berusaha berkata setenang mungkin agar si-cewek-judes-tapi-ngagetin-itu tidak benar-benar mengira bahwa aku sedang mengintipnya. “Apaan! Gue lihat lo kok dari tadi. Cuma gue diemin aja.” Sheila melotot. Aku menatapnya dingin. “Biasa aja ngomongnya.” “Dih! Pergi lo!” Sheila mengentakkan kakinya sekali, lalu kembali masuk ke kamarnya. BLAM! Pintu itu seperti hampir menghantamku. Aku mendesah kesal. Dasar cewek. Kalau udah PMS lebih nakutin dibanding ketemu armada Valak sekali pun. Mending ketemu Valak daripada si-cewek-judes-yang-kalo-lagi-marah-tambah-ngangenin-aja. Eh apa? Ah, enggak lupakan. Kamar Rian sudah gelap, hanya lampu disko yang menyinari ruangan ini. Udah gitu, adem banget lagi. Dua pendingin sekaligus dinyalakan dalam suhu 16 celcius. Gila. Kutub Utara kalah. Emang dasarnya si Rian cocok jadi penghuni eskimo. “Lo nggak berniat ngecilin AC apa?” tanyaku sambil mengusap-usap lenganku. Rian terkekeh sambil menyiapkan peralatan DJ di sebuah meja khusus dekat dengan jendela besar yang langsung memaparkan lingkungan elit di luar. “Lo kedinginan? Butuh pelukan?” “Sini peluk abang Natha ajaaa.” Natha membuka lengannya lebar-lebar. “Jijik gue lama-lama bareng lo semua. Bisa-bisa otak gue ikut kegeser juga nih.” Aku melemparkan diriku ke atas kasur king size milik Rian. Rasanya mata udah pengin merem aja. Belum sempat mata terpejam, dentungan musik dari demo Rian sudah menggemparkan seisi kamar. Kali ini aku mendengar dentuman lagu Pillow Talk yang di-remix sekian bedanya dengan yang asli. Namun harus kuakui bahwa Rian memang sangat berbakat untuk jadi DJ profesional. Reputasinya di sekolah juga baik-baik saja. Jelaslah, Rian yang pernah dikenal dengn nama “Rian si ketua OSIS” kini menjabat sebagai “DJ Rian”. Kaget? Rian memang mantan ketua OSIS, yang kini jabatannya itu diserahkan pada generasi di bawahnya, alias adek kelas. Di kelas Rian juga tergolong anak-anak yang pintar—lebih tepatnya Geng Kodok Buset ini nggak g****k-g****k amat. Masih ada Natha yang pintar Kimia, Andre yang pintar main efek, atau bisa dijuluki sebagai VSX Artist, nggak jarang guru TIK kami meminta Andre untuk membantu sesuatu yang berhubungan dengan edit-mengedit. Kalau aku? Dari wajah saja sudah keliatan keren dengan setengah blasteran Australia, sudah jelas kalo aku menguasai Bahasa Inggris, sekaligus peraih nilai tertinggi Bahasa Inggris di SMAHI. Nggak nyangka kalau ternyata aku nggak g****k-g****k banget. Cuma satu kendalanya. Aku nggak suka terlalu terikat dengan peraturan! Itu sebabnya reputasiku di sekolah agak melenceng. Tiap hari harus main kejar-kejaran sama guru piket hanya perkara baju seragamku bersih dari apa pun. Heran deh. Seragam bersih kok malah dikejar-kejar kayak orang ketahuan habis mencuri mangga. “Gimana, bray? Asik nggak?” tanya Rian dari balik meja DJ-nya. “DJ lo mah asik-asik aja, bro. Lo tambah hari tambah keren aja,” puji Andre. “Mungkin suatu saat kita bisa buka bisnis bareng, bro.” “Eh iya! Gue setuju tuh. Berhubung kita-kita ini nggak g****k-g****k amat, kita bisa bangun bisnis kecil-kecilan. Pake modal seadanya. Kan keren tuh. Sambil kerja, kita bisa ngecengin cewek cantik, man!” timpal Natha dengan semangat. “Cewek cantik mulu otak lo!” Aku menempeleng kepala Natha. “Tapi itu nggak buruk-buruk amat. Satuin aja bakat kita, unik deh jadinya.” Kata-kataku terdengar menarik. “Serius nih?” tanya Andre ragu-ragu. “Gue sih setuju banget. Sayang kan, kalo punya bakat nggak disalurin. Itung-itung gue juga nggak mau ngerepotin bonyok lagi,” kata Natha membuatku terharu. “Akhirnya lo khilaf juga?” Aku tertawa. “Yeah, gini-gini gue masih sayang bonyok gue, coy,” sahut Natha. “Keren semua lo pada. Bangga gue.” Kini Rian yang menyahuti perkataan Natha. Selanjutnya, kami semua terdiam sambil menikmati musik Rian. Karena sedari tadi aku meminum soda terlalu banyak, panggilan alam pun terjadi. Rian nggak suka ada kamar mandi di dalam kamarnya. Bau, katanya. Jadi dia menaruh kamar mandinya di samping kamarnya persis. Aku hendak membuka pintu kamar mandi, namun mataku menangkap sesuatu yang sangat menarik di seberang kamar mandi ini. “Kasian banget tuh cewek sampai ketiduran di atas keyboard,” gumamku lirih sambil berjalan mendekati kamarnya yang tidak ditutup. Sampai di ambang pintu, aku terdiam. Menyandarkan diriku di dinding dan melipat kedua tanganku di depan d**a. Sejenak aku hanya mengamatinya yang tertidur pulas saking lelahnya. Wajahnya polos, tidak ada kesombongan dan keangkuhan seperti yang dia lakukan di sekolah, tidak ada makeup, tidak ada ekspresi judes yang tiap kali ia lontarkan padaku. Untuk saat ini, dia hanyalah Sheila Ivyana adik dari Rian, bukan sebagai Sheila Ivyana cewek beken ketua ekskul paduan suara. Aku melirik jam tanganku dan mendesah pelan. Rupanya sudah lewat jam satu malam. Sepertinya kami memang harus menginap di rumah Rian dan berangkat sekolah bareng-bareng. Detik kemudian, bulu kudukku meremang. Merasakan dinginnya pendingin dari kamar si-cewek-ngangenin-itu, sedangkan dia tertidur bebas dari selimut. Rasanya ingin sekali aku menutupi tubuh mungilnya dengan selimut, tapi itu berarti aku harus masuk sekenanya ke dalam kamar cewek. Itu, kan, melenceng dari semua peraturan kaum cowok. Tapi ini kasusnya beda. Oke, sekarang aku bingung. Masuk atau enggak?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD