4. [KEVIN] Hati Terbelah Menjadi Dua

1868 Words
Aku memeluk guling semakin erat bagaikan bidadari yang tak ingin kulepaskan, namun entah kenapa aku merasakan tubuhku berguncang. Kemudian samar-samar aku mendengar suara memanggil namaku. “Bangun, bray. Udah jam enam pagi.” Aku mengibas-ngibaskan tanganku agar guncangan itu berhenti. Mataku masih setia terpejam dan aku akan membukanya ketika mataku siap terbuka. Tapi kurasa, mataku siap terbuka pada jam sepuluh pagi. “Kita sekolah, bray!” Guncangan itu menghilang dari tubuhku. Sebagai gantinya, aku merasakan sisi lain dari kasur ini berguncang. “Nath, bangun! Ndre! Astaga ... repot ya nyimpen kudanil di dalam kamar!” Sialan. Enak banget aku dikata kudanil. Tapi nggak masalah. Untuk hal bangun molor aku memang bisa mengalahkan ribuan kudanil, atau mungkin badak bercula enam. “WOY!” Sekarang dia berteriak pada kami. “Bangun, kambing!” Kini aku merasakan lagi guncangan dahsyat di tubuhku yang mau nggak mau menuntutku membuka mata. “Apa, sih? Ganggu lo!” Aku mengucek kedua mataku yang masih sedia membentuk garis lurus. “Kita sekolah, bray. Ayo!” Aku menatap Rian dengan mata terpejam. “Iya-iya. Udah, lo mandi duluan aja, Yan.” “Makanya,” kata Rian menepuk-nepuk pipiku, “buka mata. Gue udah mandi dari jam lima pagi!” Duile, rajin amat. “Sekarang lo yang mandi! Cepet! Gue nggak mau telat!” Rian melemparkan handuk baru tepat di depan wajahku. “Buset!” Dengan berat hati aku membuka mata, kemudian berjalan gontai ke luar kamar Rian. Rumah ini masih sunyi sekali. Lantai-lantainya juga terasa dingin. Tapi kurasa Bi Sul udah bermain dengan segala macam peralatan memasak di dapur. Aroma sup ayam ini tercium hingga ke lantai atas membuat perutku bergetar. Setelah sepuluh menit berada di kamar mandi, kini aku sibuk mengeringkan rambutku yang basah. Sambil memakai kaos dan handuk di sekitaran leher, aku berjalan keluar kamar mandi. Berdiri sesaat di depan pintu sambil melirik kamar si-cewek-judes-tapi-ngangenin-itu. Langkahku berjalan pelan mendekati kamarnya. Dari ambang pintu, aku dapat melihat si-cewek-judes-tapi-ngangenin-itu sudah rapi dengan seragamnya. Rambutnya dikuncir satu dan sweater merah muda menutupi sebagian seragam putihnya. Dia sibuk memasukkan semua peralatan sekolah dan peralatan ekskulnya. Beberapa saat kemudian, dia menoleh padaku. “Semalem lo yang nyelimutin gue?” Nadanya terdengar datar. Aku mengangguk sekali, masih dengan memperhatikannya yang mondar-mandir mengambil barangnya. “Oh, thanks,” katanya lagi. Aku mengangguk lagi. Kukira dia bakal marah-marah padaku. Cewek itu benar-benar luar biasa. “Ada seleksi paduan suara?” tanyaku sekadar basa-basi. Sheila mengangguk. “Dan gue bakal kerepotan banget.” “Oooh,” jawabku singkat. Untuk beberapa menit kami saling berdiam diri dengan pikiran masing-masing. Mataku masih setia memandang setiap gerakan cewek itu. Dari semua cewek-cewek beken SMAHI lainnya, aku justru tertarik dengan cewek di depanku ini. Yang pasti bukan karena tampangnya yang emang udah pentolan banget di SMA kami, tetapi aku seperti merasakan ada sesuatu lain yang tidak diketahui orang lain tentang dirinya. Dan aku ingin tahu apa itu. Oke, mungkin sekarang aku berlebihan. Cowok macho dan keren sepertiku mendadak menjadi cowok melankolis. Nggak banget. “Lo kayaknya harus ganti baju, deh. Gue nggak mau telat. Mobil gue lagi diservis, jadi otomatis gue ikut nebeng mobilnya Rian,” tegur Sheila, mulai terdengar nada ketusnya. Baiklah, mungkin arti tersirat dari perkataannya adalah, cepetan b**o! Gue nggak mau telat atau lo gue tinggal. Fine-fine. Aku berjalan kembali ke kamar Rian dan langsung mendapati kamarnya yang acak-acakkan—lebih tepatnya, kasurnya (akibat kami yang semalam tidur dalam posisi bar-bar). Andre dan Natha juga sudah rapi dengan seragamnya. Oh! Jadi aku memang lama sekali ya berada di kamar si-cewek-judes-itu. “Ayo, bray! Lama amat lo kayak ibu-ibu mau kondangan. Lima belas menit lagi gerbang tutup.” Lagi-lagi Rian mendumel. Menurutku, datang telat ke sekolah nggak buruk-buruk amat. Apa hanya aku yang bangga banget udah kelas 12 dan berhasil datang telat? “Iya-iya, Pak Kosis … eh, mantan ketua OSIS maksudnya,” cengir Natha sambil menarik dasinya. “Reputasi gue makin b****k aja bareng kalian,” desis Rian. Buru-buru aku memakai semua seragamku yang bersih dari segala macam atribut, kecuali dasi. Kemudian seragam ini kututupi dengan jaketku sehingga atribut bersih itu tertutupi. Biasanya sih aku pede-pede aja keluar-masuk sekolah tanpa atribut lengkap. Berjalan di depan Bu Cinta—guru Fisika sekaligus guru tatib—juga pernah tanpa atribut. Tapi kali ini kasusnya beda, coy. Aku yakin seratus lima puluh persen kita bakal terlambat. Dan otomatis ada si-cewek-judes-tapi-ngangenin-itu ikutan telat. Jadi, aku mau sedikit pencitraan di depan cewek itu. Di meja makan sudah terpampang manis masakan Bi Sul yang sedapnya luar biasa. Membuat mata kami jadi berbinar-binar layaknya tikus-tikus yang baru saja mencuri keju. Omong-omong, sampai detik ini aku belum pernah melihat tikus memakan keju. “Wah! Masakan Bi Sul emang paling top dah!” Andre mengacungkan jempolnya. “Iya dong, Den. Dihabisin ya. Bibi mau ke Bi Ting dulu.” Bi Sul tersenyum sambil berjalan keluar dapur. Natha memasang seringai. “Nggak usah diingetin juga bakal gue sikat abis meja makan ini, coy!” “Ya nggak papa. Lo sikat abis meja makannya, dan kita-kita makanannya. Fair enough,” sahutku mulai mengisi piring dengan berbagai macam lauk-pauk. “Licik lo, coy.” Rian terkekeh pelan. Di antara kami—geng Kodok Buset—hanya Rian yang tampilannya meyakinkan. Paling berwibawa dan paling dewasa. Penampilannya selalu rapi dan dalam sejenak saja sudah menumbuhkan persepsi di dalam pikiran orang lain bahwa dirinya adalah cowok baik-baik. Walaupun terkadang sikapnya dingin kepada cewek-cewek di sekolah kami, tapi itu nggak masalah. Secara geng kami termasuk geng cogan-cogan kelas berat yang perlu bersikap tegas saat dikelilingi cewek-cewek. Berbeda denganku. Yeah, sekilas orang bakal mengira kalau aku ini bagaikan preman ganteng yang kerjaannya menguras dompet adik kelas. Hell! Nggak gitu juga kali. Walaupun penampilanku ini bad boy banget, tapi aku terkenal sebagai bad boy berpendidikan. Nah, loh, gimana tuh maksudnya? Ya gampang. Maksudnya, walau secara penampilan dan beberapa hal kecil lainnya aku termasuk kategori bad boy, tetapi nggak jarang loh, sekolah menunjukku untuk mewakilkan setiap perlombaan Bahasa Inggris. Belum lagi, beberapa bulan ini bakatku benar-benar diakui dengan resmi menjadi ketua Hacker Harmony Community. Yang pasti aku selektif sekali saat memilih anggota komunitas ini. Jadi, hingga saat ini anggota komunitas ini hanya ada lima orang saja, termasuk aku. Hebat, kan? Tepat jam tujuh pagi kami sudah berdiri di depan gerbang sekolah yang tertutup. Entah siapa yang harus disalahkan, yang jelas wajah Rian bete habis-habisan. Sedangkan yang kuasumsikan bakal lebih bete daripada Rian malah tenang-tenang saja sambil memainkan ponselnya. Sekali lagi, cewek itu benar-benar luar biasa. Tebakanku selalu meleset jauh tentang apa yang akan dia lakukan. Berbeda dengan cewek-cewek lainnya yang sering menemuiku. Sekali lirik, aku sudah tahu bagaimana sikap dan sifatnya. Tetapi melihat Sheila, bayanganku menjadi abu-abu. “Reputasi gue sebagai mantan ketua OSIS jadi merosot, kan?” Rian terus mengoceh ketika kami sudah meneduh di samping gerbang sekolah menunggunya kembali terbuka tepat jam setengah delapan pagi. “Sekali telat nggak bakal bikin reputasi lo sejelek Andre, kok.” Natha mengusap-usap pundak Rian dengan tatapan sok bela sungkawa atas merosotnya reputasi Rian. “Wah! Ngehina lo,” geram Andre yang hanya dibalas Natha dengan cengiran. “Udah deh,” kataku mulai kesal. “Ini cuma masalah terlambat sekolah, coy. Ingat kata pepatah, nggak ada kata terlambat untuk belajar.” “Ya elah. Beda konteks, bray!” sahut Rian malas. “Serah lo, deh.” Aku hendak berjalan mendekati Sheila. Namun tiba-tiba dia mengangkat ponselnya dan menempelkannya pada telinga. Kemudian dia berjalan menjauhi kami. Aku menautkan kedua alisku. Ketika ingin membuntutinya, seseorang menarik kerah jaketku dari belakang. “Mau ke mana?” tanya Rian. Aku memutar tubuh menghadap Rian. “Nggak ke mana-mana.” “Kok kayaknya dari kemarin lo ngebuntutin Sheila terus?” Aku menggeleng cepat. “Enggak.” Rian menyipitkan mata, menatapku dengan tatapan penuh curiga. “Jangan-jangan lo suka sama adik gue?” Oke, sekarang aku merasa dipojokkan. Dibilang suka sih enggak, dibilang nggak suka sih juga enggak. Terus apa dong namanya? “Enggak.” “Bohong,” telak Rian. Aku menyipitkan mata. “Emang kalo gue suka kenapa? Dan kalo gue nggak suka kenapa?” Jos! Ini baru pertanyaan yang bagus. “Ya nggak kenapa-kenapa. Gue cuma takut aja kalo si Sheila kecantol elo. Secara lo playboy-nya kelas berat, bray.” Wah! Kebohongan belaka itu! Aku nggak pernah mainin perasaannya cewek. Aku selalu menghargai perasaan tiap wanita. Dan aku nggak sebangsat itu. “Perasaan dari dulu gue cuma baru-baru ini deh pacaran,” balasku. “Iya sih, sama,” Rian menghela napas, “si Elisa.” Ah, aku hampir melupakan cewek itu. Sejujurnya, aku nggak terlalu into banget sama si Elisa. Kuakui dia memang cantik. Banget. Tapi bukan itu alasan yang ngebuat aku pacaran sama dia. Hell. Kami menjalani hubungan tidak lebih dari dua bulan, dan itu terjadi hanya gara-gara Elisa adalah kawan lamaku saat di Australia. Dia begitu baik dan aku sempat naksir sebentar padanya. Tetapi semenjak aku pindah ke Indonesia, perasaan itu ya hanya sebatas perasaan biasa, nggak lebih. Tau-tau aja saat masuk SMA, Elisa pindah ke Indonesia hanya untuk mengejarku. Luar biasa! Tapi cowok sepertiku sangat selektif dalam memilih pacar, dan sayangnya … Elisa sama seperti cewek-cewek lain di SMA kami. So…. “Ayo, coy. Gerbangnya udah dibuka.” Andre menarik lenganku dan otomatis kepalaku memutar ke belakang untuk melihat Sheila yang ikut menyusul kami dengan ponsel yang masih di telinganya. *** Kisah ajaib selanjutnya adalah kami harus membersihkan lapangan dari daun-daun kering yang beterbaran. Kami—Geng Kodok Buset—tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran kimia oleh Bu Luk. Menurutku ini surga banget bisa keluar dari jam pelajaran perkara disuruh gurunya. Tapi menurut Rian dan Natha, ini neraka banget. Panas-panasan sambil megang sapu ijuk di tengah-tengah lapangan. “Coy, gue kamar mandi dulu,” kataku sambil melemparkan sapu ijuk itu ke pinggir lapangan. Yang seharusnya kamar mandi berbelok ke sisi kanan, aku justru berbelok ke sisi kiri. Aku hanya ingin melihat ruangan paduan suara yang kini ramai oleh adik-adik kelas yang ingin menjadi salah satu anggotanya. Berhubung ruangan paduan suara itu berada di lantai tiga paling pojok dan dekat dengan balkon, aku bisa mengamati Sheila sambil berpura-pura sedang menatap indahnya kota metropolitan dari balkon ini. Apalagi ditambah semilir angin yang sejuk. “Kevin?” Aku memutar badan dan langsung dikejutkan oleh keberadaan Elisa. Dia tersenyum manis padaku. Wah, aku lupa kalau dia juga bagian dari tim padus. “Ngapain di sini?” Aku menggaruk tengkukku. “Eng … nggak papa. Cuma pengin lihat seleksi aja, kok kayaknya seru banget.” “Oooh.” Elisa manggut-manggut. “Kirain mau ikutan seleksi juga.” “Enggaklah.” Aku terkekeh pelan sambil curi-curi pandang ke arah Sheila yang sibuk menilai suara calon anggota. “Oh ya. Nanti malam kamu sibuk nggak?” Aku mengingat-ingat sebentar. “Kayaknya sih enggak. Kenapa?” Elisa menggenggam tanganku. “Nonton yuk. Ada film baru malam ini. Ya?” Duh. Sejujurnya malam ini aku mau main lagi di rumah Rian. Dan iseng-iseng godain si-cewek-judes-itu. Tapi bakal kasian dong, si Elisa ini, karena sudah lama nggak kuajak jalan bareng. Tapi di sisi lain aku juga ingin bertemu si-cewek-judes-itu lagi. Jadi akhirnya…. “Oke,” jawabku singkat. Mata Elisa melebar. Bagi sebagian cowok mungkin akan menganggap si Elisa ini imut, tetapi tidak denganku. Mungkin imut, tetapi yang judes lebih menarik. Catat itu. Yang judes lebih menarik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD