Tahu apa yang kurasakan saat ini? Malas.
Seharusnya malam ini adalah jadwal kami bermain game di rumah Rian lagi, berhubung aku ada janji dengan Elisa, terpaksa deh harus dibatalin. Padahal ... aku udah kangen banget sama si Jutek itu!
Hahaha ... enggak jadi deh. Canda.
Kami berdua sedang dalam perjalanan ke bioskop. Iseng-iseng aku bertanya pada Elisa yang sibuk menata rambutnya. "Tadi gimana padusnya?"
Elisa menoleh padaku sekilas. "Kacau, sih."
"Kacau kenapa?"
"Mereka banyak yang nggak menuhi syarat. Jadinya kami kepontang-panting mengambil keputusan siapa yang lolos tiga puluh besar," jelas Elisa sambil menghela napas.
"Tapi udah beres kan?" Aku masih penasaran.
"Yep." Elisa mengangguk. "Kasihan Sheila sih. Dia keliatan pusing banget. Secara lomba yang akan kami ikuti itu bukan lomba main-main, sedangkan anggota barunya benar-benar di luar ekspektasi. Jadi kemungkinan besar kami bakal ekstra keras latiannya."
Oh. Kasihan juga si Jutek itu.
Lima belas menit kemudian, kami sudah sampai di mall dan langsung menuju ke bioskop. Yang membuatku tercengang adalah antrean yang panjang dan melelahkan. Timbullah keinginanku untuk ngacir secepat-cepatnya.
Tetapi sebelum keinginanku terwujud, Elisa sudah menarik tanganku untuk mengantre. Alhasil, sekitar dua puluh menit akhirnya kami bisa duduk tenang di bioskop dan menonton film romantis. Membosankan.
Seperti kebanyakan orang yang berpacaran, setelah menonton kami pergi keliling mall dan berhenti di arena permainan. Elisa mengajakku untuk bermain air hockey, yang mana sama sekali tidak menantang. Bahkan diam-diam aku sudah menguap puluhan kali. Di saat Elisa tidak melihatku, aku langsung menatap jam tangan. Berharap ini akan cepat berakhir.
***
Hari Sabtu. SMAHI libur.
Kami—geng Kodok Buset—lagi berkumpul di warung Mbok Siti. Selain kumpul untuk game, kami juga sering menghabiskan waktu untuk makan-makan ala kuli di warung langganan dekat sekolah.
Sambil mengangkat satu kaki ke atas kursi, kami makan nasi sambal plus lele. Pake tangan. Minumannya es teh. Mantap jiwa!
Mumpung libur, dan di sekolah cuma ada beberapa ekskul yang diklat, tingkah kami di warung nggak akan ketahuan anak-anak yang lain. Bisa ancur reputasiku. SMAHI gitu, loh. Yang kalo ngadain makan-makan selalu high class banget. Padahal makan nasi sama lele juga enak kok. Nggak kalahlah sama steak.
Rian yang terkenal tajirnya minta ampun aja mau makan di warung ala kadarnya begini. Emang mantap punya sohib yang sehati.
Yang penting kenyang, masalah selesai.
"Woy," panggil Natha sambil mengunyah makanannya di mulut. Tangannya masih banyak bekas sambal terasi campur pete. "Gimana sama cewek lo?"
Karena di antara kami hanya aku yang sudah punya pacar, sedangkan yang lain mengidap penyakit jomblo kronis stadium akhir, kecuali Rian yang emang dingin banget sama cewek, kurasa pertanyaan Natha barusan dilemparkan untukku.
"Gue pengin putus," jawabku langsung tanpa basa-basi.
"Gila!" sahut Andre hingga matanya melolot begitu. "Cewek secantik Elisa lo putusin. b**o lo!"
Aku menjawab dengan tenang dan biasa aja, "Percuma cantik tapi gue-nya nggak suka."
"Terus ngapain lo terima?" tanya Natha.
Aku mengendikkan bahu. "Nggak tega aja."
"Berengsek lo. Pacaran karena nggak tega. Dasar goblok." Natha menggeleng-geleng. "Tau gitu udah gue sikat duluan si Elisa sebelum sama lo. Bule-bule gitu masa iya dianggurin?"
"Emang si Elisa mau pacaran sama bocah tengil kayak lo?" Andre menjilati jari-jarinya yang penuh sambal. "Terus, sekarang lo lagi ngincer siapa?"
Aku terdiam sejenak, sebelum perkataanku membuat mereka mati kejang-kejang. "Sheila."
Warung mendadak hening. Tangan Andre yang hendak menyuap pete ke mulutnya menggantung di udara. Natha melongo hingga beberapa nasi terjatuh dari mulutnya. Dan Rian yang kurasa nyawanya menggantung di ambang sekarat.
"Berengsek!" teriak Rian. "Udah gue duga!"
Aku menyengir kuda dan memohon-mohon pada Rian. "Boleh ya, Bang ... ya Bang ya???"
"Enggak!" tandas Rian tegas.
Aku cemberut. "Kenapa?"
"Kenapa lo bisa ngincer adek gue?" tanya Rian bad mood.
"Gue ... entah. Tiba-tiba aja. Eh, nggak ding. Pokoknya sejak gue kenal lo dan main ke rumah lo," jawabku sambil mengingat-ingat.
Rian menyipitkan mata. "Jangan-jangan ... lo tersihir sama kecantikannya?"
"Hell! Gue nggak sedangkal itu kali. Lo kenal gue, man. Cewek secantik Elisa aja mau gue putusin."
"Enggak! Ngaca, dong. Lo playboy-nya cap kaleng kerupuk," sahut Rian sinis.
Sialan. Aku merasa terhina dan direndahkan. "Playboy cap kaleng kerupuk? Nggak ada yang lebih keren dikit apa? Kaleng sarden atau kaleng leci kek. Dan juga, lo semua kan tau gue nggak pernah pacaran. Cuma sama Elisa doang, itu pun kepaksa, bukan dari hati gue sendiri."
"Enggak!" Rian memukul meja warung hingga bergetar hebat membuat pemiliknya mendelik ke arah kami.
"Bang, jangan dihancurin to. Rusak mau ganti? Hidup udah susah, Bang. Sembako mahal, tagihan banyak, jangan ditambahin lagi, walah," kata Mbok Siti memegang meja warung yang sempat bergetar.
Rian cengengesan. "Ampun, Mbok. Temen saya ini bikin saya naik darah."
Aku cepat-cepat menggeleng, menolak pernyataan Rian. "Enggak, Mbok. Wong saya naksir sama adiknya kok nggak boleh."
Mbok Siti menggeleng-gelengkan kepala dan kembali mencuci piring. Rian menatapku tajam dengan tampang serius. "Kalo lo masih mau jadi sohib gue, lo nggak boleh suka sama Sheila. Ngerti? Atau gue coret lo dari daftar persohiban gue."
Aku terbelalak. "Jangan dong, Bang. Iya deh iya. Enggak jadi. Gitu amat. Tapi nggak tau lagi ya kalo Sheila-nya yang suka sama gue."
"Mimpi!" sahut Andre dan Natha bersamaan.
***
Pulang dari warung Mbok Siti, aku termenung di depan gerbang sekolah. Halamannya sudah sepi, hanya tersisa beberapa kendaraan saja. Aku turun dari sepeda motorku dan berjalan pelan memasuki gerbang sekolah.
Tanpa perlu melihat cermin, aku tahu mukaku kusut banget. Di pikiranku masih sibuk bertarung apakah aku harus memutuskan Elisa atau enggak. Masalahnya, aku nggak tega. Tapi jika hubungan ini diteruskan, justru lebih berbahaya lagi. Bisa-bisa saat Elisa tahu selama lima bulan kami berpacaran dan aku terpaksa, dia bisa jauh lebih sakit hati. Dan aku pun nggak akan mendapatkan apa-apa.
Aku tidak bisa menyakiti gadis sebaik Elisa lebih jauh lagi. Dia berhak mendapatkan cowok yang lebih baik daripada aku. Ya, aku tahu alasanku terdengar b******k dan murahan banget, tapi aku serius mengatakannya.
Jadi, keputusanku lebih baik diputusin aja dari sekarang. Kuharap dia mengerti.
Setelah menelepon, Elisa langsung datang menemuiku di gerbang sekolah. Katanya, hari ini ada diklat padus. Tanpa perlu basa-basi dan buang-buang waktu, aku langsung mengutarakan niatku.
"Lis...." Aku menatap wajahnya yang berseri-seri. "Kita putus ya."