“Neng Dina? Ya Allah, apa yang terjadi, Neng?” tanya Tuwinem sambil memeluk tubuh mungil Dina.
Dina hanya diam. Rambutnya berantakan, rongga kecil bercampur darah sedikit menganga di pipi kirinya. Matanya mendelik tajam ke arah Tuwinem, lalu kembali menunduk. Telapak tangannya mengepal, dan barisan gigi yang tertata rapi di rahang atas dan bawah saling beradu.
“Apa yang sudah perempuan metropolitan ini lakukan?” Nando mengernyitkan dahi, tangan kanannya masuk ke dalam saku celana dengan santai.
“Kamu tanya sendiri sama orangnya! Kami harap kejadian seperti ini tidak terulang lagi! Di desa kami sudah aman, jadi untuk kalian berdua, dengarkan baik-baik! Jangan pernah bawa maling ke tempat ini, atau kalian akan tahu sendiri akibatnya. Paham!” teriak salah satu ibu-ibu yang sejak awal sudah memasang wajah marah.
“Tolong, Pak Kades. Kami sama sekali tidak tahu kalau putri dari majikan kami ini melakukan hal yang tidak benar. Mohon dimaafkan, Pak,” Tuwinem memelas ketakutan.
Dengan gagah, Nando menyerobot ke depan tubuh ibunya.
“Dengar ya, Bapak, Ibu. Saya tegaskan juga, jika kalian menangkap basah lagi perempuan metropolitan kampungan ini melakukan perbuatan abnormal, silakan hakimi sesuai kehendak kalian semua.”
“Astagfirullah, Nando! Kamu itu apa-apaan?!” teriak Tuwinem panik.
“Mah, jangan khawatir. Orang tuanya menitipkan dia ke tempat ini juga karena mereka sudah tidak sanggup dengan kelakuannya. Jadi kalau kita bicara jujur sama ayahnya, aku rasa tidak akan ada pembelaan dari orang tuanya atas apa yang sudah dia lakukan,” Nando tersenyum menyeringai, tangannya bertolak pinggang.
Mendengar pernyataan Nando, d**a Dina bergemuruh hebat oleh amarah. Mata dan wajahnya merah padam. Dengan tenaga yang hanya tersisa, Dina bangkit dan berdiri menantang Nando.
“Aku bersumpah, ketika bertemu dengan ayahku, namamu yang pertama aku sebut sebagai manusia terkutuk!” bentak Dina sangar.
Nando terbahak mendengar ucapan Dina, sementara Tuwinem mematung, tubuhnya bergetar. Para warga yang menyaksikan perdebatan itu hanya bisa beristigfar. Takut akan perkataan Dina, Tuwinem perlahan mendekatinya dan mengelus punggung Dina agar tenang.
“Neng, istigfar. Jangan bicara seperti itu, ya. Maafin anak Bibi. Bapak, Ibu, maaf, kalau boleh kami tahu apa yang sudah Neng Dina lakukan?” Tuwinem menatap satu per satu warga.
“Bi! Please ya, stop! Jangan tanyakan sama orang-orang udik ini! Aku tuh nggak mencuri apa pun, sumpah! Aku tadi hanya lapar dan melihat ada buah apel yang sudah matang di pohon, jadi aku petik beberapa. Tapi mereka terlalu norak, pelit, dan udik! Masa iya pohon di pinggir jalan harus minta izin sama mereka!”
Dina mendongkak, bola matanya yang sipit membulat sempurna menatap para warga.
“Heh! Kau pikir itu pohon apel tumbuh liar begitu saja?! Itu tanah milik Pak Hendrik, dan pohon apel di sepanjang jalan itu Pak Hendrik yang tanam!” pekik salah seorang ibu-ibu.
“Loh, kalian yang harus paham. Pinggir jalan itu bukan tanah warga, tapi tanah milik pemerintah! Bagaimana bisa kalian klaim itu tanah milik Pak Hendrik?” timpal Dina tak mau kalah.
“Kamu sakit, woy! Sudah, Bapak, Ibu, bubar saja! Biarkan perempuan blakatukan ini kami luruskan. Kalau perlu, akan kami rukiah biar otaknya benar lagi!” murka Nando.
“Eh, lo yang diam! Lo yang harusnya dirukiah! Mana ada tanah di pinggir jalan jadi milik warga! Lo dan seluruh warga desa ini udik! Sekarang gue paham kenapa Ayah kirim gue ke sini. Sepertinya banyak kesalahpahaman yang belum kalian pahami tentang pertanian dan ladang untuk bercocok tanam!”
“Alah, sok intelek kamu! Kamu pikir kami butuh pencuri sepertimu!” ledek salah satu warga.
“Sungguh aku tidak tahu kalau keterbelakangan informasi dan ilmu yang kalian miliki ini separah ini! Aku akan training kalian sebisa mungkin agar—”
Ucapan Dina terhenti ketika seorang pria dewasa menggeser posisinya dan berdiri tepat di hadapan Dina.
“Apakah kamu putri dari Pak Brama Wijaya?”
“Iya, saya anak Brama Wijaya dan Putri Klarisa. Kamu kenal?” tanya Dina dengan nada tinggi.
Pria itu langsung menundukkan kepala dan pandangan.
“Mohon maaf, Nona. Saya dan warga di sini tidak mengetahui kalau Nona adalah putrinya Juragan Brama dan Nyonya Putri. Perkenalkan, saya Indra, kepala desa di sini.”
“Oh, kamu kades? Bagaimana desa bisa kondusif dan maju kalau kadesnya saja modelan begini? Mana ada ketua desa jadi provokator!” pekik Dina penuh tekanan.
Tuwinem mengangkat kepala dan berangsur mendekati kades. Nando yang khawatir ibunya disalahkan ikut mendekat. Suasana semakin memanas ketika Dina, dengan wajah merah padam, berdiri berhadapan dengan Indra.
“Mohon maaf, Pak Kades. Saya belum sempat lapor. Niatnya mau malam ini setelah acara,” lirih Tuwinem.
“Iya, Mbak, tidak apa-apa. Saya yang salah karena sudah gegabah. Saya benar-benar mohon maaf, Non. Lain kali saya dan warga akan lebih hati-hati,” ucap Indra sambil menunduk. Wajahnya masam, tubuhnya sedikit bergetar.
“Kalau sampai Ayah tahu, kamu dan seluruh warga akan celaka! Aku bersumpah, kalian akan membayar perbuatan kalian ini!”
Dina berteriak meski rahangnya terasa sakit. Telunjuk tangan kanannya menunjuk wajah Indra.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Dina. Semua orang terperangah. Wajah Dina langsung memerah akibat tangan Nando yang mengecap pipinya dengan telapak tangan kekar. Mata Tuwinem membulat sempurna menyaksikan perbuatan putra semata wayangnya.
“Ya Allah!” jerit Tuwinem.
“Kamu ... kalau belum bisa memberi dampak positif di desa ini, jangan banyak cakap! Jangan bertindak semena-mena di tempat yang sebelumnya belum pernah kamu tapaki! Kamu mengaku berpendidikan, tapi tidak paham pepatah di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung! Kamu sudah sangat tidak sopan di sini!” bentak Nando kesal.
Tubuh Nando segera dipegangi warga. Emosi yang memuncak membuat mereka panik, terlebih setelah mengetahui siapa Dina sebenarnya. Dina menyeringai. Perlahan wajahnya terangkat menatap Nando. Tuwinem sangat ketakutan, tubuhnya bergetar hebat, matanya berkaca-kaca, tangannya menggenggam tangan Dina memohon maaf.
“Hm … rupanya lo belum paham pengaruh ayahku. Jangankan lo, Nando sialan! Seluruh desa ini bisa ditenggelamkan oleh ayahku dalam hitungan hari. Dan celakanya, aku adalah satu-satunya anak yang ia miliki. Maka bersiaplah dari sekarang untuk menggali liang lahatmu sendiri, Nando!” bentak Dina.
“Ya Allah, maafkan Nando, Neng. Maafkan Neng. Bibi minta maaf … Ya Allah, aku harus bagaimana ini,” lirih Tuwinem ketakutan.
“Tolong maafkan kami, Neng. Kami salah. Jangan bilang ke Pak Brama,” pinta Indra dengan wajah lusuh.
“Jelaskan padaku, apa aku harus memaklumi perbuatan dan hinaan kalian ini? Aku dihakimi dan dituduh maling! Aku ditampar di depan banyak orang! Apa kalian pikir itu bisa dimaafkan? Hah!”
Dina berteriak. Tangisnya pecah. Matanya merah, wajahnya basah oleh keringat dan air mata yang menahan amarah.
“Tuhan itu Maha Pemaaf. Apakah Nona yang cantik ini derajatnya lebih tinggi dari Tuhan hingga enggan memaafkan dan berkeras hati?”
Seorang pria muda dengan gaya culun dan kacamata tebal berbicara dari ujung kerumunan.