Semua mata tertuju pada sosok pemuda yang mengenakan kaus oblong hitam gombrong dan celana trening lusuh. Tubuhnya tinggi cungkring, berkacamata tebal, berdiri di ujung kerumunan. Indra, sang kades, terperangah lalu langsung menghampiri pria muda yang terasa asing baginya. Sementara itu, Dina melebarkan mata. Degup jantungnya terpompa kencang mendengar ucapan pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya.
Pemuda culun itu mendekat. “Lebih baik kita kembali ke acara yang sudah kita siapkan, Bapak Ibu. Bukankah seharusnya acara itu bada Magrib?” ucapnya sambil menatap Dina.
“Ka … kamu … berani-beraninya!” pekik Dina.
“Nona, lebih baik beristigfar agar hati tenang. Tidak etis menghadapi masalah dengan bertameng kekuasaan orang tua. Mari lebih bijak lagi,” papar pria itu lagi.
“Kamu siapa?” tanya Indra penasaran. Dahinya mengernyit, wajahnya mendongak mendekati pemuda culun itu.
“Saya warga baru di sini, Pak. Ketika saya lapor enam bulan lalu, Bapak sedang dinas di luar kota. Perkenalkan, saya Wahyu, keponakan dari Seto Muhammad.”
“Aku nggak perlu tahu siapa kamu! Aku nggak suka dinasihati orang yang baru pertama kali aku temui!” teriak Dina.
“Lebih baik Bapak Ibu segera ke masjid saja. Itu lebih penting dan tentu lebih berfaedah daripada di sini hanya menambah dosa,” timpal Wahyu.
“Apa yang dikatakan pemuda culun ini benar. Lebih baik kita semua pergi ke pengajian,” sahut Nando menengahi.
“Ya, benar. Ayo kita pergi,” ucap salah seorang warga.
“Iya, ayo … ayo …!”
Dalam hitungan detik, seluruh warga yang berkerumun langsung berbalik badan dan meninggalkan rumah Tuwinem. Wahyu, dengan gaya culunnya, tersenyum ke arah Dina, Nando, dan Tuwinem yang masih mematung menatap punggung para warga yang berlalu satu per satu.
Dina yang masih syok berusaha menarik napas dalam-dalam, membiarkan pemuda culun itu membuntuti rombongan warga. Dongkol di hatinya rupanya akan terus terpatri akibat peristiwa yang baru saja terjadi.
***
Angin pagi terasa lembut menyibak helai rambut Dina yang panjang terurai. Beberapa plester tertata rapi di pipinya yang merona merah, buah dari keusilannya memetik beberapa buah apel di pinggir jalan.
“Buat apa melamun? Mending kamu bantuin aku macul, biar hidupmu di sini ada manfaatnya!”
Nando melemparkan cangkul dengan keras, nyaris mengenai kaki Dina.
“Eh, lo itu pernah diajarkan sopan santun nggak, sih?!” pekik Dina kesal.
“Nggak penting buat kamu tahu. Yang penting sekarang pikirkan hidupmu sendiri di sini! Kamu kira bapakmu bakal jemput kamu kalau cuma bengong? Buat hidupmu lebih bermanfaat! Aku sudah sangat muak kamu ada di sini!” cecar Nando sambil berlalu meninggalkan Dina di pinggir sawah.
“Dasar kurang ajar, lo! Gue bersumpah lo bakal nyesel, Nando! Ah, sialan lo! b******n!” teriak Dina.
Rupanya suara Dina yang nyaring menarik perhatian orang-orang di sekitar. Sekelompok pemuda yang sedang bermain kartu lengkap dengan perjudiannya menyeringai mendengar jeritan perempuan. Suara langkah yang jelas berjumlah lebih dari dua orang kini mendekati Dina.
Dina terus memekik kesal. Dadanya bergemuruh oleh amarah. Dipukulinya cangkul ke tanah yang seolah tak bergeming. Suara grasak-grusuk daun dan ranting yang terinjak kini sampai ke telinganya.
“Sedang apa di sini, Nona cantik?” tanya salah seorang pemuda berbadan besar.
Dina menoleh, “Siapa kalian?!”
“Loh … seharusnya kami yang bertanya. Siapa Nona ini? Kami belum pernah melihat wanita secantik ini di desa kami, bahkan sepanjang hidup kami,” ucap pria brewok tebal dengan d**a berbulu. Tatapannya tajam, lidahnya menjilat bibir bawahnya.
Dina menatap satu per satu pria yang berjumlah lima orang itu. Seketika bulu kuduknya berdiri. Jantungnya berdetak kencang. Perlahan kakinya mundur, sesekali menoleh ke arah sawah mencari keberadaan Nando.
“Kenapa diam saja, Nona? Bukankah tidak sopan jika ada yang bertanya tapi tidak dijawab?” tanya pria berbadan cungkring yang kian mendekat.
“Stop! Jangan ada yang mendekat, atau aku akan berteriak!” ancam Dina.
“Nona, kami hanya bertanya. Alangkah baiknya dijawab saja. Lagipula, kalau Nona berteriak, memang ada yang akan mendengar?”
Mereka tertawa. “Hahaha ...."
“Dengar, ya! Jangan macam-macam, atau kalian akan menyesal seumur hidup!” ancam Dina.
Kelima pria saling berpandangan lalu tertawa terbahak. Salah satu dari mereka berkepala plontos, bertubuh kekar dengan otot mencuat, melangkah mendekat sambil mengeluarkan sebilah belati. Senyum bergigi kuning menyeringai. Alisnya terangkat, hidung peseknya tertarik oleh otot pipi hingga bulu hidungnya ikut menyapa Dina.
“Katakan pada kami, Nona. Penyesalan apa yang akan kami dapat jika kami mengabaikan ucapanmu?” tanyanya.
“Ih, kalian mau ngapain?! Jangan macam-macam! Nando ... tolong aku, Nando!” teriak Dina.
Kelima pria itu kembali tertawa. “Siapa yang kamu sebut? Nando?” ledek salah seorang dari mereka.
Mereka kini membentuk lingkaran, mengelilingi Dina yang gemetar hebat. Pria berkepala plontos semakin mendekat sambil mengacungkan belati ke arah Dina. Napasnya tajam dengan bau alkohol yang menusuk.
“Kami tidak akan melukaimu jika kamu dengan sukarela melayani kami semua sekarang juga, Nona,” bisiknya di telinga Dina.
“Nggak! Aku nggak sudi!” teriak Dina. Cuih!
Ia meludahi wajah pria botak itu.
Dina mendorong tubuh pria itu dan berlari. Namun sia-sia, mereka kembali mengurungnya. Dina diolok-olok hingga histeris ketakutan.
Bugh!
Tangan kekar pria berkepala botak menghantam punggung Dina dengan keras. Tubuh Dina roboh dan pingsan seketika. Empat pria lainnya sigap menggotong tubuh Dina menuju markas mereka. Pria berkepala botak membuntuti dari belakang sambil mengelap air liur Dina dengan telapak tangannya.
Cipratan air membangunkan Dina. Tubuhnya lemas. Ia terkejut mendapati dirinya terikat dan mulutnya dilakban. Ketakutan menyelimuti hatinya saat melihat lima pria itu berdiri di hadapannya, hanya mengenakan celana kolor dan bertelanjang d**a.
Pria berkepala plontos mendekat.
“Aku yang pertama. Sisanya atur sendiri siapa yang kedua dan seterusnya.”
Wajah bergigi kuning dan napas bau alkohol itu mendekat ke wajah Dina.
“Kamu akan membayar ludahmu itu dengan tubuhmu!"