Culun penyelamat

1065 Words
Tubuh Dina gemetar hebat, beberapa kali ia meronta dengan sekuat tenaga, namun kembali lagi pada hasil yang sama yaitu sia-sia, hanya menambah rasa sakit di tubuh yang terbelenggu utasan tali tambang. Rasa jijik kini menjalar ke tubuh dan hati Dina, hembusan nafas yang sangat bau al kohol kini sangat terasa di lapisan kulit tipis leher Dina, dalam hatinya ia terus berdoa dan mendadak mengingat Tuhannya. Seringai gigi kuning dan wajah yang sangat tergambar seperti pemburu kini terpampang sangat jelas di hadapan Dina. “Sudah siap nona cantik?” ucapnya pelan di telinga Dina. Dina yang terus berusaha berteriak namun tetap sunyi karena hanya terdengar geraman-geraman dari suara yang tersumpal. Semua anggota pemuda b******n itu terbahak melihat Dina yang tidak berdaya, dengan hisapan-hisapan rokok yang terselip di jari-jari para premen itu menikmati setiap derai air yang keluar dari netra Dina. “Baiklah Nona cantik, mari kita mulai saja pestanya ya, ha-ha-ha,” preman plontos itu tertawa dan langsung membuka bajunya dengan kasar. Tangan kekarnya perlahan menyentuh kemeja kasual kotak-kotak Dina. “Mari kita berpesta Nona,” ucapnya di selingi tawa yang menggelitik. Pletak ... Aww, “Siapa yang melempari kepalaku?” pekik pria plontos. Semua orang dalam ruangan saling menengok mencari sumber yang melempari kepala pimpinan nya itu. Langkah panjang seorang dari balik pintu kini tampak di tengah-tengah mereka. Senyum tipis yang pernah Dina jumpai kini hadir di tengah rasa gelisah. “Mohon maaf tuan-tuan jika saya mengganggu pestanya, tapi alangkah baiknya jika kalian semua mengurungkan niat kalian atau saya panggil pihak berwenang untuk menangkap kalian semua.” Ucapnya dengan lembut. Kelima pemuda yang sedang di bawah pengaruh minuman keras saling menatap dan spontan mereka semua terbahak mendengar ucapan pemuda culun di hadapannya. Langkah tegak pria plontos kini mendekati tubuh ramping wahyu. Bibirnya menyungging hingga gigi kuningnya mengintip manja. “Atas dasar apa Anda berani mengancam kami hah? Anda siapa?” anda tidak tahu berhadapan dengan siapa?” “Siapa pun anda itu tidak penting untuk saya, yang penting untuk saya itu anda paham bahwa melakukan hal seperti ini adalah perbuatan b******n yang bisa membuat anda sekalian mendekam di penjara bertahun-tahun,” ucap Wahyu lantang. “Siapa yang berani dan bisa memenjarakan saya hah? Siapa yang berani memenjarakan Dorman Bregito hah? Kamu kenal dengan saya? Seluruh penjuru desa kenal dengan Dorman Bregito, hei para b***k ku beri tahu dia siapa Dorman Bregito!” ucap pria plontos dengan sombong. “Dorman Bregito itu ketua kami, penguasa desa Ligar Bekti,” ucap ke empat pemuda bersamaan. “Hmm ... begitu rupanya, baiklah kang Dorman, nanti kita kenalan lagi ya di belakang, sekarang saya mau melepas ikatan tali Nona itu, kasihan pasti sakit itu lengannya di ikat macam kambing,” celoteh Wahyu singkat, dan melangkah untuk mendekati Dina. Dengan sigap Dorman memegang tangan Wahyu. “Heh bocah ingusan, jangan pernah ganggu kesenangan saya atau kamu akan pulang dengan sehelai nama yang lusuh tak berati?” Wahyu mendelik dan menatap tajam wajah preman plontos itu. “Saya sepertinya harus menunjukkan Anda sesuatu untuk Anda pertimbangan tindakan yang sangat merugikan orang lain ini. Wahyu menunjukkan rekaman di ponselnya yang menunjukkan perlakuan kelima sekawan itu terhadap Dina yang di mulai dari sawah. Dorman tercengang melihat rekaman di ponsel Wahyu, dia menatap dalam Wahyu yang sedang tersenyum. Namun buka takut, Dorman malah tertawa terbahak. “Kamu kira kami takut? Kamu hanya mampu merekam tapi tidak bisa mengirim bukti rekaman ini ke pihak yang berwajib! Dasar t***l! Wey b***k-b***k ku, kenapa kalian dari tadi diam! Cepat singkirkan benalu ini sekarang juga! Aku sudah gak tahan ingin tidur dengan putri cantik itu!” Brug ... brug ... terdengar suara dari luar. “Woy siapa itu!” teriak Dorman. Sekelompok polisi berbadan tegap muncul di hadapan Dorman dan langsung meringkus Dorman bersama ke empat temannya. Dorman dan teman-temannya berusaha untuk lari, namun seluruh tempat sudah di kepung sehingga mereka hanya pasrah. Dina tercengang melihat pemandangan itu, batinnya berpikir bagaimana bisa dia mengirim informasi kepada polisi padahal sinyal di desa sangat sulit bahkan tidak ada. “Alhamdulillah Non kamu selamat.” Wahyu tersenyum sambil melepas tali di tubuh Dina. *** Pagi yang tidak cerah bahkan awan hitam sesekali menyapa Dina yang masih melamun di gazebo depan rumah bi Tuwinem. Secangkir teh hangat dan beberapa keping biskuit menemani Dina. Nando yang selalu berwajah dingin ketika melihat Dina berlaku dengan membawa cangkul seperti biasa. “Neng, mau ikut ke pasar tidak?” tanya Tuwinem lembut membuyarkan lamunan Dina. “Ngga Bi, aku ngga level jalan di pasar, jijik, kotor, bau,” ketus Dina. “He-he-he baik kalau gitu Neng, bibi berangkat dulu ya, Neng hati-hati di rumah, oh iya Neng nanti siang mau makan apa? Biar sekalian nanti bibi beli bahan-bahannya di pasar,” tanya Tuwinwm dengan ramah. “Bi, aku butuh sinyal, di pasar ada yang jualan nya?” “Oalah kalau itu tidak ada Neng, jangankan di pasar Neng di kecamatan saja belum tentu ada sinyal, semoga nanti suara kami di dengar pemerintah untuk memasok sinyal ke sini dengan merata,” jelas Tuwinem. “Kalau memang sulit mendapatkan sinyal, bagaimana bisa seorang pria culun memanggil banyak polisi?” Dina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Apa neng? Pria culun? Polisi? Apa yang Neng bicarakan?” tanya Tuwinem heran. “Eh ngga Bi, yaudah Bibi sana pergi ke pasar, aku cuma pesan cumi dan kerang-kerangan ya, aku pengen di masakin seafood bi.” “Loh tadi Neng bilang ngga pesen apa-apa, sekarang pesan cumi dan kerang toh?” “Ih bibi ngga usah banyak komplain, pokoknya bibi harus belajar cepat buat memahami karakterku yang cepat berubah mood,” “Iya Neng siap, Neng kangen sama ibu dan ayah ya?” Mata Dina membulat. “Aku ngga kangen sama kedua orang tuaku, aku Cuma kangen sama pacar aku bi, dah sana pergi ih kepo banget sih jadi orang, bikin males,” ketus Dina dengan wajah yang masam. “Iya maaf Neng, bibi berangkat dulu ya, assalamualaikum,” Tuwinem pamit, langkah kecilnya perlahan menjauh dari pandangan Dina. Dina yang masih bingung memikirkan bagaimana bisa Wahyu menghubungi polisi saat itu. Sedanfkan Tuwimen yang tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Dina merasa heran dan penasaran dengan apa yang diucapkan putri majikannya itu. Ponsel berlabel buah yang setengah tergigit itu di mainkan Dina, menatap setiap foto yang menajdi kenangannya bersama sang tambatan hati, dan tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipi merah nya. “Sedang mikirin apa?” Suara pria memecah keheningan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD