Mencari tahu sumber sinyal

1077 Words
Mata Dina membulat sempurna, degup jantungnya memompa dengan sangat cepat. Suara lelaki yang baru saja menyapa lamunan nya yang sedang menerawang sang pujaan hati membuatnya sedikit merinding karna trauma terhadap peristiwa yang terjadi kemarin. Perlahan Dina meoleh ke belakang, tepat dimana suara itu berasal. “Kamu, ngapain kamu disini!” pekik Dina lantam. “Loh ini kan rumah saya, kenapa kamu bertanya seperti ini?” jawab Nando ketus. “Hmm ... ini bukan rumah mu! Kamu hanya numpang disini! Ini rumah orang tuaku!” pekik Dina Nando menatap tajam. “Dengar ya wanita sombong, aku sudah benar-benar muak dengan kehadiran kamu disini! Kalau saja tidak karena ibuku, kamu sudah aku!” ucapan Nando terhenti. “Akan apa hah? Akan kamu usir gitu? Hmm kalau mau bicara itu di saring! Kalau tidak karena kebaikan orang tua dan keluargaku, kamu tidak mungkin punya rumah dan hidup layak! Apalagi kamu sudah lama di tinggal mati bapakmu!” “Heh jaga ucapanmu! Jangan pernah bawa-bawa almarhum bapakku! Kamu tahu apa yang membuat bapakku meninggal hah?!” “Apapun penyebabnya itu bukan urusanku! Yang harus kamu tahu itu kamu harus jaga sikap terhadapku! Atau akan aku usir kamu dari sini dan jadi gembel seumur hidup!” teriak Dina. Plaak! ... tamparan keras mendarat di pipi mulus Dina. “Kamu mengaku seorang cendekiawan yang berilmu tinggi! Kami disini hanya warga dengan pendidikan rendah yang rata-rata hanya mampu mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar, tapi mulut sombongmu itu tidak mencerminkan bahwa Kau seorang dengan pendidikan yang tinggi, hanya dengan harta kekayaan orang tuamu kamu merasa lebih baik dari orang lain, sungguh miris hidupmu! Kau hidup dengan uang bukan dengan cinta! Pikirkan baik-baik cara bagaimana agar kamu bisa kembali ke habitatmu! Atau kamu akan mendekam di tempat yang menurutmu hina ini selamanya!” Nando berlalu ke dalam rumah dengan amarah yang membuncah. Dina yang terdiam dengan tangan memegangi pipi yang baru saja di tampar Nando. Dia masih tidak percaya dengan cap lima jari yang mendarat di pipi mulus yang tidak pernah absen di rawat di klinik kecantikan. Namun ucapan Nando itu membuat hatinya terenyuh, sedikit sakit mendengar ucapannya, namun Dina menyadari bahwa ucapan Nando itu benar, bahwa ia hidup dengan uang bukan dengan cinta dari kedua orang tuanya yang sibuk bekerja dan berbisnis. *** Langkah kecil kaki mulusnya membawa Dina ke pinggir sungai yang di sekitarnya banyak anak-anak bermain riang. Dina tersenyum melihat pemandangan yang baru saja ia jumpai di perjalanan hidupnya. Tidak jauh dari anak-anak bermain ada sosok yang kini tidak begitu asing baginya sedang memancing ikan. Dina perlahan mendekat. “Sedang apa?” tanya Dina lembut. “Eh ada Nona cantik, he-he-he ini Non aku sedang memancing ikan, Non lagi apa disini? Hati-hati nyasar Non, takutnya nanti ngga bisa pulang,” ledek Wahyu. Dina tersenyum dan duduk di samping Wahyu. Setiap inci pemandangan membuat hati Dina merasa nyaman, pohon-pohon rindang yang menjuntai, aliran sungai yang jernih, suara gelak tawa anak-anak yang bahagia mandi di sungai, beberapa ternak sapi yang makan rumput di seberang sungai, sungguh pemandangan yang belum pernah ia jumpai di kota. “Aku tadi lagi jalan-jalan aja, suntuk di rumah, dan menemukan tempat ini. Hmm aku baru nemu tempat ini, kemarin-kemarin aku Cuma jalan ke sawang mengikuti rahan dari bi Tuwinem.” “Hmm iya Non, diaini adem pemandangannya, dan ini salah satu tempat fahoritku di desa ini, hehe sungainya bening sebening wajah non, eh maaf saya lancang,” ucap Wahyu tersimpu. “Ha-ha-ha kamu bisa aja, oh iya ngomong-ngomong nama kamu siapa? Kenalin aku Dina, Dina Alexandria,” ucap Dina sambil mengulurkan tangan. Bibir tipis Wahyu melebar, telunjuk tangan kanannya menekan penghubung lensa kacamata untuk memperbaiki posisi kacamata yang sedikit melorot. Kedua tangannya beradu dan berdiri tegap di depan d**a. “Saya Wahyu Non, sama kenal,” jawabnya lembut. Dina menarik uluran tangannya. “He-he-he salam kenal Wahyu, namanya memang Wahyu aja ya? Ngga ada tambahan lainnya gitu?” “He-he-he namanya singkat ya Non, kalau mau di panjangin juga boleh Non jadinya Waaaahhhhyuuuuu,” “Ahahaha kamu bisa aja, geli banget aku dengarnya, udah jangan panggil Non lagi, kan kita sudah kenalan, nama aku Dina, jadi panggil aku Dina aja ya.” “Baik Non, eh Dina.” Wahyu menunduk malu, dan berusaha menarik kail pancingan padahal belum ada ikan yang menyangkut di pancingannya. “Wahyi, terima kasih banyak ya untuk pertolongan kemarin itu, kalau kamu tidak datang, entah apa yang terjadi sama aku,” lirih Dina. “Oh itu, santai aja Non, eh Dina maksudnya. Kebetulan aku lagi lewat aja itu, kan ngga mungkin ya aku melawan lima sekawan itu sendiri, mustahil ka aku lawan mereka, badan tipis kayak aku sekali sentil aja udah mental mungkin buat mereka he-he-he.” Wahyu terkekeh, gigi gingsul putihnya ikut menyapa Dina. “Iya aku terima kasih banyak sama kamu pokoknya, aku mau turuti apa aja pinta kamu untuk balas budi, kamu mau apa?” tanya Dina. “Ah mana ada aku minta imbalan Din, aku melakukan semua itu dengan ikhlas, jadi santai saja ya, jangan pernah punya pikiran untuk balas budi ya,” ucap Wahyu ramah. “Aku ngga tenang kalau kamu ngga mau nyebutin permintaan kamu, ayo dong bantu aku buat wujud in keinginan kamu, kamu mau kaca mata baru dengan model frame yang terbaru dan modern ngga?” “He-he-he ngga perlu Dina, aku ngga pernah jual jasa kepada siapa pun termasuk kamu,” “Aku sedih loh.” Wajah Dina seketika kusut, bibir tipisnya maju kedepan sejajat denga hidungnya yang mini malis. “Ih benaran sedih?” Wahyu menunduk dan menggaruk kepala. “Baiklah kalau Dina mau aku minta sesuatu, aku hanya minta Dina untuk mengontribusikan ilmu yang selama ini Dina punya untuk kemajuan desa inj, bagaimana?” Dina sejenak terdiam dan seperti memikirkan yang berat. “Baiklah aku setuju, tapi dengan satu syarat,” jawab Dina sambil nyengir. “Loh kok pake syarat, tadi bilangnya mau kasih sesuatu, kok ada syarat dan ketentuannya sih hmm,” Wahyu berdecak. “Ha-ha-ha kamu bisa kesel juga sih? Lucu tau kamu kalau cemberut,ngga susah kom syaranya,” “Iya apa syaratnya Dina?” tanya Wahyu mendesak. “Aku Cuma mau kamu ngasih tau aku bagaimana caranya kamu mendapatkan sinyal disini? Karena warga sini bilang jangankan disini, di kecamatan pun sulit mendapatkan sinyal. “Sinyal apa.Din?” tanya Wahyu sambil memutar kail. “Sinyal internet lah, kemarin kamu menghubungi polisi pakai sinyal kan dengan cara mengirim video?” “Oh itu, hmm anu Din, itu sih anu hmm.” *** .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD