“Hmm anu kalau itu sih kebetulan ada polisi yang sedang patroli di dekat lokasi kejadian kemarin Din, ah kamu bikin aku jadi gugup saja,” kekeh Wahyu sambil memalingkan wajah karena malu.
“Oh iya kah? Memang ada ya polisi yang patroli ke daerah model begini?” Dina mengernyitkan dahi, bola matanya berayun menatap beberapa pohon yang menjulang di sekitar mereka.
“Lah ya ada cah ayu, oh iya kamu ngga pulang saja? Nanti kelamaan meninggalkan rumah di cari loh sama bibi dan anaknya itu,” celoteh Wahyu santai.
“Biarin aja, aku bosan soalnya kalau di rumah terus, belum lagi sering bertengkar sama si Nando, bikin malas tinggal di rumah, huft.” Dina mengusap kepalanya dengan talapak tangannya yang lentik.
Wahyu melirik dan mencuri pandang. “Dina sangat cantik,” batinnya.
“Tadi kan kamu setuju mau majuin desa ini dengan ilmu yang kamu punya, ayo kapan mau beraksi? Biar nanti aku bantu kamu semaksimal yang aku bisa,” ucap Wahyu sambil memperbaiki posisi kacamata tebalnya.
Dina menatap Wahyu dari atas hingga bawah, dan terkekeh. “Kamu bisa apa sih? Kamu tahu apa soal ilmu pertanian? Yayaya paling juga nanti kamu bisa bantuin buat angkat-angkat benda berat atau alat berat, oke lah tawarannya,” Dina meledek.
“Jangan remehin saya toh, ayo kapan mau mulai Din?”
“Nanti ya aku pikirkan dulu mau mulai dari mana, paling kalau ngga ada hambatan besok kita mulai, kamu temani aku ya, sapa tahu nanti aku butuh kamu buat cangkul-cangku he-he-he,” Dina terkekeh hingga wajahnya merona.
“Baik Din besok kita bertemu disini ya, kamu jangan lupa jalan dan jangan telat,” Wahyu mengingatkan.
“Eh culun, kamu itu jangan ngatur-ngatur aku ya, aku ini disiplin orangnya, mana mungkin aku besok telat, dan aku beri tahu ya aku ini paling mudah merekam apalagi hanya jalan menuju pemancingan seperti ini.”
“Iya siap, aku percaya kamu orang pintar.”
“Ya jelas dong, nih ya aku kasih tahu kamu Wahyu, wajah kita ini secara tidak langsung menggambarkan value kita. Aku kelihatan banget dong dari wajah orang berkelas, orang kota, kaya dan berpendidikan, sedangkan kamu dan orang-orang disini kelihatan banget masih udik banget, iiiiuuhhh ngga banget pokoknya.” Dina mendongakkan wajahnya, senyum tipisnya terbias.
“Hmm iya iya, percaya deh sama anak metropolitan” timpal Wahyu sambil tetap tersenyum.
***
Esok harinya hari cukup cerah, matahari bersinar ala kadarnya untuk menyinari muka bumi. Dina tergopoh mendekati Wahyu yang sudah cukup lama menunggu kehadiran Dina di dekat sungai. Dina nyengir ketika Wahyu sedikit memasang wajah masam.
“Sudah lama ya sampai sini? Tanya Dina sambil mengatur napas.
“Katanya disiplin? Aku sudah empat puluh lima menit disini loh cuma nunggu kamu datang.”
“Iih sudah lama juga toh ha-ha-ha ya mohon di sory, tadi biasa debat dulu ama si Nando.”
“Nando itu apakah menaruh hati sama kamu?” tanya Wahyu polos.
“Please deh gak perlu ya kamu tanya hal-hal konyol seperti itu! Aku dan dia itu seperti tom and jerry, mana ada dia suka sama aku, jijik yang ada aku dibuatnya setiap hari, dah yuk berangkat ke desa.” Dina menggandeng tangan Wahyu dan melangkah lebar menuju kantor desa.
Di desa berkumpul lah banyak orang yang berprofesi sebagai petani, rata-rata dari mereka itu orang tua, karena anak-anak dan para pemuda di desa sibuk dengan perjudian. Dengan wibawa Dina memberi penyuluhan kepada para petani untuk memilih benih dan pupuk yang bagus untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dina juga memberi pengarahan bagaimana cara agar mengajukan bantuan kepada pemerintah untuk mendapatkan bibit unggul dan bantuan untuk infrastruktur di desa.
Wahyu dengan puas menatap wajah Dina yang cantik dan elegan di depan. Ketika pengarahan tiba-tiba Nando duduk di samping Wahyu dan bersama menyaksikan penjelasan dari perempuan yang tempo hari menjadi teman debatnya. Setelah panjang lebar menjelaskan, warga sudah antusias untuk memajukan desa. Dina melangkah menghampiri Wahyu, dan betapa kagetnya ia dengan kehadiran Nando.
“Sedang apa kamu disini?” tanya Dina ketus sambil menatap tajam Nando.
“Loh bukannya kamu kasih penyuluhan sama petani ya? Aku kan petani juga, kok kayak yang aneh aku ikutan, dasar cewek labil,” timpal Nando ketus.
“Bagaimana aku bisa berpositif tingking, sedangkan kamu satu-satunya penyebab amarah ini sering membuncah.”
“Kamu diam ya, ini di muka umum, jangan buat gara-gara seperti di rumah. Aku hanya memastikan kamu benaran ngasih penyuluhan karena aku juga butuh sebuah pencerahan agar kamu segera angkat kaki dari sini!” Nando tersenyum lebar dan melirik ke arah Wahyu yang sudah berdiri di sampingnya.
Wahyu tersenyum tipis ke arah Nando, dan menganggukkan kepala. Nando yang merasa tidak ingin mengenal Wahyu memilih memalingkan wajah dan berlalu pergi meninggalkan Wahyu dan Dina.
“Dasar manusia aneh! pergi sana!” ketus Dina
“Jangan marah-marah ngga baik loh,” ucap Wahyu menenangkan.
“Aku mau nyari yang pedas, kita cari mie ayam yuk, aku yang traktir, kamu tinggal bawa perut aja.” Dina menarik tangan Wahyu yang masih menikmati santai dengan bersender di bangku yang di sediakan.
Wahyu membuntut, beberapa menit sampailah Dina dan Wahyu di pondok mie ayam ujung jalan. Wahyu tampak mencopot kaca mata tebalnya karena debu yang mengotori matanya. Dina terperangah melihat Wahyu tanpa kaca mata, dan tidak berselang lama makanan dan minuman yang di pesan tersaji di meja.
Dina menyantap dengan lahap mie ayam campur bakso favoritnya. Tiba-tiba
ada perempuan desa menggunakan rok kain bermotif batik dan memakai kemeja lengan panjang yang warnanya sudah tidak cerah lagi karena sering di jemur lama. Dengan senyuman yang manis dan tubuh yang sedikit di liukkan gadis desa itu mendekat sambil memainkan rambut yang menyentuh pundak.
“Permisi akang perkenalkan saya Syifa, akang siapa ya namanya? Kok saya baru pertama kali lihat akang disini,” tanya perempuan itu sambil mengulurkan tangan.
Wahyu dengan ramah menjawab pertanyaan dari perempuan yang berdiri di depannya. "Perkenalkan saya Wahyu, saya warga baru disini, tepatnya baru enam bulan disini, senang berkenalan denganmu syifa," ucap Wahyu ramah.
Tiba-tiba Dina menjatuhkan mangkok dan Praaanggg ... "Eh dasar perempuan kampung! sok kegatelan kamu ya, di kira cantik apa kamu?! gak tahu malu banget tiba-tiba ngajak orang lain kenalan!"