Syifa terdiam sejenak, dahinya mengernyit. “Eh, kenapa Mbak? Kok Mbaknya sewot sih? Makan ya makan saja Mabak, ngga perlu sibuk ikut campur sama pembicaraan orang lah.” Syifa mendelik, mata belo nya berputar ke atas menatap awan.
“Hei ... kamu harusnya tahu diri dong, ini pria culun aku yang boyong ke sino sebagai asisten pribadi, ngapain kamu menggatal buat kenalan hah?” Dina tidak kalah menyolot.
Wahyu yang merasa tidak enak dengan beberapa warga yang sedang makan mie ayam juga di lokasi hanya senyum tipis dan mengagukkan kepala. Di tatapnya dengan pandangan kaku Dina dan Syifa bergantian. Perlahan Wahyu berdiri dan memegangi kepalanya yang sudah sangat pusing melihat perseteruan antara Dina dan Syifa.
“Eh itu hak saya ya mau kenalan sama siapa saja, memang kamu siapa kok ngatur-ngatur hidup saya.” Syifa berkacak pinggang. “Lagian kamu itu Cuma pendatang toh Mbak disini? Pendatang kok petatang petenteng sih ih,” ketus Syifa sambil melirik sinis Dina.
“Yang petatang petenteng itu kamu, kalau orang sedang makan itu jangan di ganggu, apa perlu kamu aku datangkan psikiater ke sini untuk periksa kejiwaan kamu hah?!”
“Hmm ... anu Dina, hmm Syifa anu ... hmm jangan ....”
“Diam!” bentak Dina dan Syifa serentak.
Wahyu menelan liur dan langsung merapatkan bibir atas dan bawahnya. Wajah polosnya terlihat begitu bingung. Kedua telapak tangannya memegangi kepalanya dan sedikit mengacak belahan kanan rambutnya yang terbiasa rapi dengan pelembab rambut. Bibirnya kumat kamit bak dukun kala hati dan lisannya sinkron untuk melafalkan dzikir-dzikir yang bisa menghasilkan energi positif.
Dina menatap sinis Syifa. “Ingat baik-baiknya, jangan pernah usik ketenanganku paham!” ucap Dina penuh penekanan. “Ayo pulang!”
Dina menarik lengan kiri Wahyu sambil melangkah ke arah penjual mie ayam untuk membayar santapan mie ayamnya. Namun dengan tiba-tiba Syifa menarik lengan kanan Wahyu yang menyebabkan langkah Dina dan Wahyu terhenti. Dina yang kesal menarik tangan kanan Wahyu kemudian mengacungkan jari tengah ke depan wajah Syifa.
Syifa yang sangat kesal menatap Dina dan Wahyu yang menjauh setelah membayar mie ayam yang mereka makan. Bibirnya diangkat sebelah dan kepalan lengan dan kirinya menguat seakan siap untuk memukul orang. Batinnya bergemuruh kesal, rasa ingin membalasnya kini sangat kuat.
***
“Mau ke mana Neng?” sapa wanita paruh baya yang selalu menyiapkan kebutuhan Dina di desa.
“Hari ini ada penyuluhan lagi Bi, aku mau mengajari para petani untuk membuat proposal yang nantinya bisa di gunakan untuk pengajuan dana agar bantuan untuk mendapatkan bibit unggul dan juga pupuk yang berkualitas agar hasil panennya bisa memenuhi standar pasaran,“ papar Dina
“Maasyaa Allah keren banget Neng, nanti ayah, ibu dan keluargamu bangga akan kontribusi Neng Dina si sini,” seulas senyum yang terpancar dari Bibi Tarwinem begitu menyejujan.
“Hmm maybe Bi, aku udah ngga butuh validasi dan apresiasi dari siapa pun termasuk kedua orang tuaku, rasa sakit hati dan kecewaku sama mereka tidak akan pernah pudar,” pekik Dina.
“Jangan gitu Neng, walau bagaimanapun yang di lakukan kedua orang tua Neng itu yang terbaik, jadi Bibi harap Neng tetap semangat ya,” timpal Tuwinem menyemangati.
“Hmm kecewa ama kedua orang tua, kayak yang udah bikin prestasi saja hidupnya, lagu nya kayak orang benar aja.” Nando tersenyum sinis sambil mengambil topi anyaman untuk pergi ke sawah.
Dina melirik tipis ke arah Nando yang tidak jauh dari nakas ruang tamu. “Ya ... ya ... ya ... setidaknya aku bukan benalu orang tua yang tidak bisa berkembang seperti Lo, lebih nyaman hidup di kampung terbelakang tanpa ada keinginan untuk maju dan go Internasional gitu.
Nando tersentak dengan ucapan Dina, dia mendekat dan menatap Dina sengit. “Aku perintis buka pewaris, kamu tanpa harga ayah dan ibumu hanya butiran debu yang tidak ada gunanya. Setidaknya kalau belum punya prestasi jangan merendahkan orang lain!” pekik Nando.
“Dengar ya aku beri tahu prinsip mutlak sama kamu, orang kaya sombong itu wajar, tetapi kalau orang miskin sombong itu baru ngga tahu diri!” teriak Dina.
Plaakk! ... Nando menampar keras pipi kanan Dina. Dina yang kesakitan reflek memegangi pipi kanannya dan menatap tajam Nando yang berwajah datar di depannya Sementara Bi Tuwinem yang merasa kaget dengan sikap anaknya berusaha menenangkan Dina.
“Ya Allah Nando, kamu benar-benar keterlaluan!” pekik Tuwinem panik.
Di dorongnya tubuh Nando hingga sedikit terhuyung. “Yang keterlaluan itu perempuan ini Mah, kenapa harus di bela sih? Kalau ngga di tegasin dia mana paham arti dari menghargai orang lain dan menyaring ucapan nya, harga kekayaan orang tuanya saja yang di pamerin, skil dalam hidupnya nol besar!”
“Heh kalau yang saya ucapkan benar kenapa kamu marah! Kamu kan benar miskin!” teriak Dina dengan nada mengejek.
Kali ini Bi Tuwinem merasa tergores hatinya. Dia lantas diam dan melepaskan tangannya yang sedari awal merangkul Dina. Saat ini ia merasa tidak bisa menyembunyikan rasa sakit hatinya terus di hina oleh anak majikannya itu.
“Iya Neng kita memang miskin, maafin Nando ya sudah membuat Neng tersinggung.” Bi Tuwinem melangkah ke arah kamarnya.
Nando yang melihat ibunya yang selalu sabar berjalan gontai meninggalkan perdebatan merasa teriris. Di tatapnya wajah Dina yang tidak pernah takut dengan tatapan Nando. Dina hanya diam melihat Tuwinem menjauh tanpa adanya rayuan apa pun, malah mengernyitkan dahi dan lirikan tajamnya di tarik ke arah Nando yang masih menatapnya sinis.
“Dengar ya perempuan metropolitan, jangan pernah buat goresan di hati ibuku, kalau kau tidak ingin menyesal! Kamu udah amat sangat sombong dan keterlaluan!” pekik Nando sambil berlalu meninggalkan rumah.
yuluhan Dina yang tidak merasa bersalah hanya menaikkan bahunya, “Hmm dasar udah miskin pada berperan lagi.” Dina melangkah melewati pintu menuju Komplek kantor desa untuk penyuluhan lebih lanjut.
Di tengah jalan ia melihat Syifa yang berjalan searah dengannya. Dina mengendap pelan mengikuti langkah Syifa yang terlihat seperti mengendap. Langkah Dina terhenti kala kaki Syifa terhenti di dekat saung yang biasa di sebut dengan posko pengungsian warga jika terjadi bencana alam.
“Hallo sendirian saja, aku temani ya Mas ganteng,” ucap Syifa lembut.
“Eh iya, anu aku lagi ini hmm ...,” jawab pemuda yang terbata.
“Lagi nunggu aku ya he-he-he, ini Mas coba lihat, aku kemarin beli ke pasar rakyat di desa sebelah, nah aku lihat ini sepertinya cocok buat Mas deh, cobain ya please.” Syifa memamerkan kemeja warna coklat motif salur di depan pemuda yang hanya terlihat punggungnya saja darku belakang.
Dina berangsur mendekat, dan ia hafal suara pemuda itu, ia kemudian langsung menampakkan diri dan langsung merebut kemeja yang di pegang Syifa.
Brueekk ..., Syifa melongo, “Apa yang kamu lakukan perempuan gi*a!”