Suasana sejuknya desa sangat bertentangan dengan suasana yang terjadi di posko. Dengan langkah tegap Syifa mendekati Dina yang masih berdiri angkuh dengan menggenggam robekan kemeja yang baru saja di beli Syifa. Dina dan Syifa kini bertatapan, Wahyu merasa bingung harus bagaimana, ia malah melepas pakai kaca mata tebalnya untuk memastikan bahwa Syifa dan Dina berseteru di depannya.
“Kamu wanita berpendidikan yang tak memiliki adab perempuan kota!” pekik Syifa tegas.
“Hmm ... dan kamu perempuan desa yang norak dan berselera rendah jua menggatal,” balas Dina pelan.
Wahyu mendekati dua perempuan cantik yang berseteru. Tanggannya dengan kaku mencoba mendorong tubuh Dina dan Syifa bergantian.
“DIAM!” teriak Dina dan Syifa bersamaan.
Wahyu sangat kaget, tubuh nya loncat dan hampir saya nyawanya menghianati jasadnya. “Ma ... maaf,” lirihnya pelan.
“Aku tidak tahu kamu keturunan siapa, tapi asal kamu tahu ya siapa pun kamu, kamu sama sekali tidak di butuhkah di desa ini, dan jangan pernah sok pintar dan sok kecantikan, kami belum bertemu dengan kembang desa disini kan?”
“Hmm aku kalau jadi kamu nih ya, sebelum bicara kamu telusuri dulu siapa lawan bicaramu, karena khawatir sekali kamu malu jika tahu siapa aku, dan satu lagi nih ya, aku tidak pernah tertarik untuk mengetahui siapa kembang desa disini, karena aku disini bukan untuk bersaing, tapi untuk menemukan jalan pulang!”
“Hmm jalan pulang? Kalau anda mau saya bisa antar ke stasiun, itu lebih baik kan dari pada harus cengengesan tebar pesona dan cari muka sama penduduk desa,” timpal Syifa.
“Jika aku harus tahu jalan pulang, aku pastikan itu bukan berasal dari orang sepertimu yang hanya, Wahyu ayo kita pergi dari sini! Kamu lagi sok kegantengan banget, di pikir keren apa kami ini!” Dina melenggang menjauhi Syifa dan menarik tangan Wahyu..
Syifa yang kesal hanya bisa menatap langkah Dina dan Wahyu yang menjauh dari pandangan. “Kita lihat siapa yang menang Dina, awas kamu ya,” gerutu Syifa.
Sesampainya di ruangan yang kemarin di sambangi, Dina tersenyum dan di sambut dengan senyuman ramah dari para warga desa. Wahyu membuntuti Dina sambil memeluk beberapa buku tebal milik Dina yang di jadikan acuan dalam memberikan arahan kepada warga. Syifa yang masih penasaran dengan Dina mengikuti dari belakang dan duduk di balik jendela untuk ikut mendengarkan..
Entah mengapa, apapun yang disampaikan Dina selalu di sambut dengan hangat dan penuh antusias oleh warga terutama oleh para paruh baya. Berbeda dengan biasanya, ketika berbicara di depan publik, Dina terlihat sangat tenang dan elegan, wajahnya terlihat sangat anggun dan terpancar sekali wajah perempuan berpendidikan nya.
“Baik, seperti yang kita sepakati saya beri waktu sekitar setengah jam agar bapak ibu semua menulis apa yang di butuh kan untuk menggarap sawah dan lahan. Nanti akan saya bantu untuk menyampaikannya ke pemda.” Dina tersenyum kemudian melangkah mendekati Wahyu yang duduk di pojok belakang, karena di depan tidak ada tempat duduk.
“Kamu keren Din, aku ngga nyangka kalau kamu memiliki bakat leadership yang luar biasa,” ucap Wahyu dengan bangga.
“Hmm kamu bisa aja, aku hanya menyampaikan apa yang aku tahu, dan ini salah satu program sewaktu aku PKL dulu, jadinya ya ngga kaku-kaku banget aku nya kan,” jelas Dina dengan bersimpuh malu.
Di tengah kesibukan warga yang sedang menulis kebutuhan masing-masing, tiga orang remaja dengan penampilan sedikit norak menghampiri wahyu dan memberakannya secarik kertas. Wahyu tersenyum, kemudian mengambil kertas itu dengan sopan. Dina dengan sigap menyambar lembaran kertas yang siap di baca Wahyu, membaca tulisan yang ada di kertas itu wajah Dina langsung merah padam dan langsung merobeknya tanpa nanti.
“Kenapa di sobek Din? Aku kan belum baca,” lirih Wahyu.
“Kamu ngga perlu baca! Aku mau kamu cuma fokus sama aku bukan yang lain! Paham!” tegas Dina.
“Loh Din kan itu kertas buat aku, harusnya kamu ngga sobek kertas itu,” ucap Wahyu sedih.
“Dia mana tahu arti dari menghargai orang lain Mas,” timpal Syifa di belakang Wahyu.
“Hmm dia lagi, dah kayak jaelangkung tau ngga kamu itu! Datang tak di undang, pulang tak diantar.” Dina langsung bangkit dan kembali ke depan tanpa menghiraukan kehadiran Syifa.
“Baik bapak – ibu sudah semua kah?” tanya Dina ramah dan lantang.
“Sudah Neng,” jawab warga serempak.
“Oke berarti sekarang waktunya kita ke pemda ya, setelah dzhur saja kita berangkatnya, khawatir di jalan waktu salat tiba ya,” timpal Dina dengan suara lembut.
“Siap Neng, terima kasih banyak ya Neng atas edukasinya, nanti setelah apa yang kita minta ini di setujui pemerintah, apakah nantinya Neng Dina ikut menggarap sawah dan ladang bersama kami?” Tanya seorang pria dengan pipi yang sudah tidak kencang lagi.
“Hmm pasti dong Pak, kita ramai-ramai ya menggarap lahan desa ini, nanti sebelum berangkat, tunggu aku selesai ngeprint proposal bapak ibu semua ya, khawatirnya waktu satu jam belum cukup,” jelas Dina.
“Pasti Neng kita tungguin, nanti Neng naik mobil cool bak aku saya ya Neng, hehe duduknya di depan bareng saya dan istri saya,” ucap pak kades.
“Siap pak kades, terimakasih banyak untuk keramahan dan tumpangannya, silahkan pulang dulu bapak ibu, yang mau ikut ke pemda kami tunggu disini paling telat jam satu siang ya,” jelas Dina.
“Siap Neng cantik,” ucap beberapa orang sambil bertolak ke rumah masing-masing.
Syifa yang melihat Dina di sukai oleh banyak warga Desa merasa sangat iri dan tidak nyaman. Di tatapnya dengan sinis Dina yang berjalan mendekati Wahyu yang ia sukai
Otaknya berpikir keras bagaimana caranya agar Dina bisa ia tumbangkan.
“Sedang apa kamu di sini.” Suara perempuan yang cukup asing bagi Syifa membuyarkan lamunan Syifa.
Syifa menoleh pelan ke arah belakang. “Hmm ... tidak ada,” ujarnya pelan dan kembali menoleh ke arah Dina yang bersenda gurau bersama Wahyu.
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan.”
Syifa kembali menoleh dengan kesal. “Kamu bisa diam?” pekik Syifa kesal.
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan sebab aku juga merasakannya, kamu muak dengan orang kota itu kan?”
Kali ini Syifa menoleh sempurna ke belakang. “Apa mau mu?”
“Kita memang tidak berteman baik Syifa, tapi kamu harus paham jika musuh dari musuhmu adalah musuh kita.”
Syifa menatap tajam perempuan yang sebaya dengan nya. “Kinara, sejak kapan kamu membenci Dina?”
“Kamu tidak perlu tahu hal itu, tapi aku mau buat kesepakatan denganmu untuk tujuan yang sama, bagaimana?” Kinara menatap Syifa dan Dina bergantian dan seringai terbias di bibir tipisnya.