Perfect Life
Pemberani dan keras kepala adalah ciri khas gadis yang sedang tertidur saat pelajaran Matematika dimulai. Kepalanya tertunduk di atas meja, rambut hitamnya yang diikat kuncir kuda bergoyang pelan setiap kali ia menarik napas. Beberapa murid melirik ke arahnya dengan senyum geli, sebagian lagi menggeleng prihatin.
Guru Matematika berkepala botak itu melangkah perlahan menyusuri barisan bangku, sepatu hitamnya beradu dengan lantai kelas yang sunyi. Tatapannya tajam, berhenti tepat di bangku paling belakang tempat gadis itu terlelap tanpa dosa.
"Brakk!" Suara gebrakan meja yang sangat keras itu mengejutkan gadis yang tengah tertidur tadi.
"Eh, Bapak..." ucapnya dengan wajah khas bangun tidur, sambil tersenyum tanpa dosa kepada guru yang tengah menahan kesal.
Guru itu menatapnya dengan rahang mengeras, menahan kesal. “Cuci muka sana. Setelah itu, berdiri di depan kelas sampai pelajaran saya selesai.”
“Siap, Pak,” jawab gadis itu ringan, bangkit dari kursinya tanpa terlihat menyesal sedikit pun. Beberapa murid menahan tawa.
Dengan langkah santai, ia keluar kelas, mencuci muka di toilet, lalu kembali dan berdiri di depan papan tulis dengan tangan terlipat. Wajahnya tenang. Seolah hukuman itu hanya formalitas.
Bel berbunyi, pertanda istirahat.
Semua murid keluar kelas untuk menyerbu kantin, tapi ada beberapa murid yang tinggal di kelas tersebut, termasuk gadis yang dihukum tadi. Begitu gurunya keluar, dia langsung masuk ke kelas, menghampiri beberapa temannya.
"Bagaimana, David? Kau sudah bisa meretasnya?" tanya gadis itu santai. David, seorang laki-laki berkacamata, menggeleng pelan sambil tetap fokus pada tabletnya.
4 / 139
Seorang perempuan dengan rambut sebahu memandang gadis yang baru dihukum itu dengan malas. "Pasti kau senang, kan, tidak mengikuti pelajaran si Botak itu?" tanyanya dengan wajah masam karena dia juga ingin melewati pelajaran yang mematikan itu.
"Hehe, iya. Lain kali kuajak, ya. Jangan marah dong," ucap gadis itu cengengesan tak berdosa.
"Tidak perlu mengajaknya. Aku harus memastikan dia mengikuti semua pelajaran," ucap seorang lelaki dengan name tag 'Nathan' di seragamnya.
"Ha! Itulah alasanku tidak mau mengajakmu, Mia. Karena pasti Nathan melaporkannya ke orang tuamu," ucap gadis itu memandang kesal pada Nathan. Gadis bernama Mia itu pun menghela napas pasrah.
"Lebih baik kau juga jangan cari masalah, Liora," ucap David sambil menjitak pelan kepala gadis itu, lalu meletakkan tabletnya di atas meja. Gadis bernama Liora itu pun memandang kesal sambil mengelus kepala yang agak sakit setelah dijitak.
Mereka adalah empat sekawan sejak masuk SMP. Awalnya hanya karena tugas kelompok di rumah Mia, mereka akhirnya menjadi sangat dekat hingga SMA. Untung saja mereka satu kelas lagi.
Saat mengerjakan tugas di rumah Mia dan Nathan, mereka berjumpa dengan ayah Mia yang saat itu anggota dewan negara. Pria paruh baya itu menceritakan tentang keinginannya mencalonkan diri sebagai ketua, namun ada seorang lawan ambisius yang menghalanginya.
Itulah misi pertama mereka: membungkam lawan ayah Mia yang bermain curang demi kekuasaan.
Kemampuan mereka mulai tampak: Nathan sebagai ahli strategi, David sebagai peretas, Mia yang jago interogasi, dan Liora yang bertugas di lapangan, bahkan menyamar jika dibutuhkan.
Kini mereka masih menjalankan misi-misi untuk ayah Mia yang sudah menjabat sebagai ketua dewan, dari yang kecil hingga besar. Geng rahasia mereka dinamakan Tessaron, diambil dari bahasa Yunani yang berarti "empat", sesuai nomor kelompok mereka saat tugas pertama.
Tentang Mia dan Nathan: mereka bukan saudara kandung. Nathan adalah anak panti asuhan yang diangkat keluarga Verolla sejak umur 3 tahun, karena saat itu Mia yang sakit-sakitan ingin punya saudara.
5 / 139
David adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya selalu diperhatikan ayahnya, sedangkan adiknya dimanja ibunya. Itu sebabnya David sangat menyayangi Tessaron.
Liora adalah anak tunggal dari pasangan CEO perusahaan besar yang berbeda. Banyak yang iri padanya karena ia kaya, cantik, dan pintar. Tapi kenyataannya, Liora merasa kesepian.
Sejak kecil ia diasuh orang tua angkat karena kesibukan orang tua kandungnya. Ia diperlakukan sangat baik, tapi saat berusia 8 tahun, orang tua angkatnya meninggal dalam kecelakaan mobil. Ia diselamatkan, sementara kedua orang tua angkatnya meninggal di tempat.
Di pemakaman, ia bertemu sepasang suami istri yang mengaku sebagai orang tua kandungnya. Ia dibawa ke rumah mewah, tapi kehidupan itu terasa asing dan dingin.
Liora yang dianggap sempurna oleh orang lain justru merasa sunyi. Hanya Tessaron yang membuat hidupnya terasa berarti.
"Dapat!" ujar David, membuyarkan lamunan ketiganya.
"Di mana?" tanya Nathan sambil menatap tablet David.
David menyodorkan tablet yang menunjukkan lokasi hotel bintang lima.
"Hotel?" gumam Mia, seperti meremehkan target mereka.
"Pasti dia bersenang-senang dengan uang haram itu," tambah David.
"Kurasa dengan beberapa perempuan bayaran yang menemaninya," ujar Liora dengan pedas.
"Berarti kau tahu tugasmu, kan, Li?" tanya Nathan dengan senyum misterius.
"Ayolah, Nat. Menggerebek hotel itu lebih seru daripada menyamar sebagai perempuan bayarannya," keluh Liora.
"Kalau hotel kelas bawah, polisi bisa turun tangan. Tapi ini hotel bintang lima. Jadi kau harus melakukannya," kata Nathan dengan tegas.
"Baiklah. Katakan aku antrean perempuan keberapa?" tanya Liora sarkastik. Teman-temannya terkekeh.
"Hati-hati ya, Li," ujar David, mengacak rambut Liora.
"Nanti malam aku bantu dandan, sister!" ujar Mia centil sambil merangkul Liora, yang hanya memutar bola matanya malas.