Tessaron At School

1004 Words
Liora berangkat ke sekolah menggunakan bus bersama David. Mereka berdua biasanya sering mengobrol dan bercanda selama perjalanan, tapi kali ini gadis itu hanya duduk diam di sampingnya, memandang keluar jendela. Tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan Liora, namun David menyimpulkan bahwa ia tengah memikirkan sesuatu yang membingungkan. “Hei, kau kenapa, Li? Dari tadi melamun terus,” tanya David lembut sambil menatap heran. “Aku tidak tahu,” ujar gadis itu, mengalihkan pandangannya dan kini menatap David dengan ekspresi frustasi memikirkan mimpinya kemarin. “Kau bisa menceritakannya padaku, Li. Tentang semua kebingunganmu,” ujar David lembut, berharap gadis itu mau berbagi. “Mimpiku tadi malam... bukan mimpi buruk,” jujur Liora. “Jadi apa yang terjadi di alam bawah sadarmu itu?” tanya David penasaran. Liora akhirnya menceritakan seluruh mimpinya kepada David. Reaksi pria itu hanya terkejut sebentar, lalu memberikan pendapatnya. “Jangan terlalu dipikirkan dalam-dalam, Li. Ingat, mimpi itu bunga tidur,” ujar David sambil tersenyum tipis. “Saat aku mencoba menganggapnya hanya bunga tidur... tapi kalau aku ingat mimpi-mimpiku sebelumnya, aku mulai ragu itu hanya sekadar bunga tidur, Dav,” ujar Liora, masih bingung. “Mungkin saja itu anakmu dari masa depan,” ujar David sambil tertawa pelan untuk mencairkan suasana. Gadis itu pun ikut tertawa. Jika dipikir-pikir, anak itu memang sangat menggemaskan. Dan perasaan aneh yang muncul tiba-tiba di hatinya... mungkin itu cinta. Mungkinkah anak kecil itu benar-benar anaknya di masa depan? Sesampainya di sekolah, mereka langsung berjalan menuju kelas. Seperti biasa, tatapan memuja dari para siswa mengiringi langkah mereka. Geng mereka adalah kelompok paling disegani di sekolah, meskipun hanya terdiri dari empat orang. Di kelas, Mia sudah duduk di kursi paling depan bersama teman sebangkunya, Claudia. Sementara David dan Nathan duduk di bangku tepat di depan Liora yang selalu memilih duduk paling belakang. “Li, nanti ke markas ya,” ujar Mia, menghampiri sahabatnya yang selalu mengikat rambut dengan gaya kuncir kuda. “Oke. Ada misi lagi?” tanya Liora antusias. “Mungkin. Tapi ayahku lagi di luar negeri, jadi sepertinya nanti akan diberitahu lewat telepon,” jawab Mia dengan serius. Nathan dan David juga berbalik menghadap ke belakang agar bisa mengobrol sebelum bel masuk berbunyi. Tak lama kemudian, guru masuk dan Mia kembali ke tempat duduknya. Pelajaran pun dimulai. Kelas mereka dipenuhi oleh murid-murid pintar, sebagian besar anak orang kaya. Pelajaran yang diberikan guru sangat mudah dicerna, dan karena itu para guru selalu bersemangat mengajar di kelas ini. Beberapa jam kemudian, bel istirahat berbunyi. Mereka berempat memutuskan makan di kantin. “Hei, aku dengar ada siswa baru seangkatan kita, tapi ditempatkan di kelas sebelah,” ujar Mia sambil menyendok mi soto-nya. “Terus?” tanya Nathan sambil memakan roti kesukaannya. “Mia, tumben banget kau ngurusin kelas lain?” tanya Liora sambil menyeruput sotonya. Mereka semua heran, karena Mia yang sekretaris kelas biasanya tidak peduli dengan hal yang tidak berhubungan dengan kelas mereka. “Kau tahu dari mana?” giliran David bertanya, sambil menyeruput jus alpukatnya. “Claudia yang cerita. Katanya murid itu berasal dari London, dan sangat cantik,” ujar Mia dengan senyum sinis. “Semoga saja dia bukan anak yang bermasalah,” doa David. “Sepertinya dia anak bermasalah,” ujar Nathan, menunjuk sebuah keramaian sekitar 10 meter dari tempat mereka duduk. Ketiganya ikut menoleh. Tampak seorang gadis berambut pirang dengan wajah angkuh sedang mengganggu adik kelas mereka. Dua gadis lain berdiri di sisi kanan-kiri si pirang—ternyata mereka bertiga sepupuan. Adik kelas yang diganggu terduduk di lantai kantin, didorong oleh si rambut pirang. “Hei, bisa nggak kau keluar dari sekolah ini? Wajahmu merusak pandanganku,” ujar si pirang dengan sinis. Korban itu memiliki wajah dengan tahi lalat besar di pipinya—bukan cacat, tapi cukup mencolok. Selama ini tidak ada yang membully dia, meskipun tak ada juga yang mau berteman dengannya. Tanpa ragu, si pirang menyiramkan jus jeruk ke kepala gadis itu. Para murid hanya diam, karena mereka juga tidak menyukai gadis itu, tapi takut kehilangan nilai jika melakukan tindakan kekerasan. Sedangkan si pirang bebas bertindak karena orang tuanya adalah donatur terbesar sekolah. Tiba-tiba... plak! Sebuah lemparan s**u stroberi mengenai punggung si pirang. Ia terkejut dan menoleh marah. “Hei! Siapa yang berani-berani melempar!?” bentaknya. Namun Mia hanya menatap dingin dari samping mesin minuman, tak bergeming. “Hai, anak baru,” ujar suara lain. Si pirang berbalik dan melihat Liora berdiri di hadapannya, dengan senyum misterius di bibirnya. “Itu temanmu?” tanya si pirang sambil menunjuk Mia. “Apakah dia korbanmu?” tanya balik Liora, kini menatap korban bully itu dengan datar. “Hei, bangun,” ujar Liora. Karena takut, gadis itu segera berdiri. Liora mengambil segelas datar. Gadis itu ragu. Liora mengulangi perintahnya dengan tatapan tajam. Akhirnya, karena takut, gadis itu menyiramkan jus ke rambut si pirang. Saat si pirang hendak menahan, Liora menahan tangannya. Byur! Jus jeruk mengalir dari kepala si pirang. Ia terkejut tak percaya. “Impas,” ujar Liora dingin. “Ketua OSIS, bawa gadis ini ke UKS,” perintah Nathan, kini berdiri di samping Liora sambil menatap ke arah korban dan ketua OSIS yang baru datang. Korban pun dibawa. Kini hanya tersisa si pembully yang menatap tajam ke arah Liora. Saat si pirang hendak memukul, plak! sebuah benda kembali dilempar ke punggungnya. Kali ini dari David, yang sudah berdiri bersama Mia. Mereka menatap remeh. Kedua sepupu si pirang akhirnya menarik gadis itu menjauh. Liora dan Nathan berjalan melewati mereka, menatap seluruh murid di kantin yang hanya diam saja. “Dav, aku pernah melihat wajahnya dan orang tuanya di buku hitam milik ayahku. Coba cari tahu,” ujar Liora setelah kembali ke kelas. “Tanpa dicari pun aku sudah tahu,” ujar David santai. “Mafia,” gumam Nathan pelan. Dia dan David memang sudah diberi tahu sebelumnya tentang misi ini. “Jadi ini misi kita?” tanya Liora antusias. David dan Nathan mengangguk. “Yes!” ujar Mia dan Liora bersamaan dengan senyum lebar. Akhirnya mereka bisa “bermain” dengan si gadis pirang. Apalagi ini soal mafia—kadang, membunuh adalah pilihan yang diperbolehkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD