La Vie terjaga dengan rasa sakit hebat di belakang punggungnya bak terbakar yang membuat ia menggeliat resah, membuka mata perlahan.
Ia mengamati sekeliling. Ruangan berdinding putih pucat dengan jendela lebar di sampingnya tertutup gorden putih tipis menghalau pendar matahari.
Ia menatap tubuhnya tertutup selimut putih dan pakaian rumah sakit, di atas ranjang yang sedikit sempit. Ia mengedarkan pandang ke seluruh penjuru, kamar yang cukup luas, dan mewah.
Ada televisi di depan tempat tidur, sofa tamu untuk lima orang, lemari pendingin, meja makan, dan satu set dapur mini. Sayangnya meski ruangan itu cukup nyaman dan mewah, ia hanya seorang dri sana.
Ia bangkit memegang punggungnya yang nyeri, lalu teringat lagi peristiwa kemarin. Ia menghabiskan malam di kamar hotel dengan Aileen Aldari, lalu sebuah tembakan membuatnya mendadak jatuh ke lantai.
Meski belum ada yang mengatakan siapa pelakunya, La Vie tahu orang yang paling berhasrat menyingkirkannya, tak lain adalah anggota keluarga kerajaan sendiri, Josephine.
Betapapun kasus ini coba diselidiki ia tahu mustahil menemukan pelaku sebenarnya. Belum lagi fakta sebelum peristiwa itu terjadi, di mana ia dan Aileen Aldari bersama. Jika fakta itu terungkap, bukan hanya ia yang mendapat masalah, tapi pria itupun sama.
La Vie tak masalah jika orang lain tahu ia melakukan hal buruk, tapi ia tak ingin Aileen Aldari terlibat dan digunjingkan semua orang atas bujukan yang ia lakukan padanya.
Pintu diketuk, La Vie menengok. Ia berseru membiarkan siapapun masuk. Awalnya ia mengira yang datang adalah petugas rumah sakit, namun dugaannya meleset. Yang berdiri di hadapannya malah dua pria tinggi berbadan sedang.
Pria yang satu mengenakan seragam tentara berwarna hitam dengan tampang menggelikan yang jika dilihat tak cocok disandingkan dengan pakaiannya, sementara pria yang lainnya mengenakan setelan jas rapi memulas senyum ramah.
"Siapa kalian?"
Pria berambut kelimis berpangkat rendah itu memperkenalkan diri, "Saya Kemal Alden. Sersan dari angkatan darat Flander-Belgium"
Pria yang satunya dengan mata sipit ikut memperkenalkan diri, "Saya Nicon dari biro penyelidikan Clandestin. Kami datang ingin mengetahui beberapa rincian tentang peristiwa penembakan semalam. Bisa anda ceritakan apa yang terjadi?"
La Vie memutar punggung enggan mengatakan apapun.
"Tidak perlu diselidiki. Itu bukan hal penting"
Dua orang itu saling menatap heran. Nicon berusaha meyakinkan.
"Penyelidikan ini penting untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Penting bagi kami agar anda bersedia bekerja sama agar kerugian akibat peristiwa kejahatan itu tidak terulang lagi dikemudian hari"
"Jangan khawatir peristiwa penembakan itu hanya terjadi padaku, tidak akan menimpa orang lain. Silahkan kalian keluar"
Kemal mencoba membujuk, "Hanya 5 menit"
La Vie memencet bel merah di atas kepala tempat tidur.
"Suster... Suster... Tolong minta mereka segera keluar"
Mendengar panggilan cukup keras dari La Vie, seorang perawat wanita muncul meminta keduanya keluar. Tak bisa memaksa mereka akhirnya memilih pergi.
La Vie bernapas lega meski tak yakin masalah ini tak akan dilanjutkan lagi.
**
Hari kedua di rumah sakit masih sama sepinya seperti kemarin. Tak ada seorangpun menjenguk bahkan Victor Leopold yang mengaku menyukainya, atau orang yang paling ia harapkan kemunculannya, Aileen Aldari. Meski ia tahu pria itu mustahil menunjukkan diri di sana, ia tetap memiliki sedikit harap ia akan melihatnya muncul di sana.
La Vie merasa kesepian dan tak tahu harus melakukan apa. Sepanjang waktu sejak terbangun ia hanya mengintip pemandangan kota Flander-Belgium dari jendela dengan rasa hambar dan sendu berharap bisa segera keluar dari rumah sakit, menunggu keadaan dan lukanya pulih.
"Selamat siang"
Suara lembut dari ujung pintu membuatnya menengok. La Vie terkejut melihat penjenguk pertamanya adalah orang yang tak pernah terlintas sedikitpun dalam benaknya akan muncul di sana.
"Bagaimana kabarmu?" Rhine memulas senyum ramah, menunggu sambutan La Vie yang masih berdiri kaku mengamatinya.
"Baik" sahutnya dari seberang ranjang, duduk menghadap jendela membelakangi Rhine tak berusaha mendekatinya.
Gadis itu meletakkan sebuket bunga mawar di meja dan sekeranjang buah. Ia duduk agak jauh dari ranjang La Vie.
Suasana kaku dan kikuk. Baik La Vie dan Rhine tak tahu harus memulai obrolan dari mana. Mereka hanya duduk diam selama beberapa saat tak mengerti apa yang mesti dikatakan.
Rhine menatap pejuru ruang perawatan La Vie, terkesan dengan kemewahannya.
"Bagaimana kabar orang-orang di istana?"
Pertanyaan La Vie membuat Rhine sedikit terkejut. Ia membuka pembicaraan lebih dulu meski awalnya ia yang paling diam dan tak acuh.
"Semua baik-baik saja. Apa keadaanmu sudah baikan? Aku terkejut mendengar peristiwa penembakan yang terjadi padamu"
La Vie tersenyum kecil, kemudian berpaling pada Rhine.
"Apa ibu dan keluargamu yang lain tau kau datang kemari?"
Gadis bermata coklat dengan rambut panjang sepinggang itu tertunduk lesu. Dari wajahnya sudah menggambarkan jawaban sebenarnya.
"Mereka tidak tahu?" sela La Vie lagi. Rhine mengangguk tanpa penjelasan. "Mereka mungkin akan marah kalau tahu kau datang kemari"
Gadis itu menggeleng kemudian tersenyum lebar menenangkan, "Tidak masalah kalau tidak ada yang tahu"
"Kau sepertinya berbeda dari keluargamu yang lain walaupun aku tahu kau belum bisa menerimaku sebagai saudaramu. Apa aku benar?"
Rhine terdiam sesaat seolah membenarkan dengan raut muka malu-malu dan sungkan. La Vie seolah bisa membaca dirinya dengan baik dan ia tak tahu kenapa.
Ia mulai teringat ucapan ibunya yang menganggap La Vie berbahaya. Entah itu hanya sebuah metafora atau memang kebenaran.
"Kau menyukai Aileen Aldari?"
Mata coklat Rhine membelalak segera mendengar pertanyaan tiba-tiba di antara lamunannya. Ia menatap La Vie dalam, berusaha mencaritahu alasan pertanyaan itu, tapi wajahnya yang datar hanya dibalut senyum penuh misteri membuatnya tak bisa memastikan.
Ia menunduk malu-malu tak berusaha menyembunyikan perasaan. Dengan reflek ia menggaruk belakang lehernya menunjukkan sikapnya yang malu-malu dan canggung.
"Ya, aku rasa" ucapnya setengah berbisik.
La Vie menganggukkan kepala perlahan nyaris tak terlihat. Mengerti dengan jelas perasaan gadis itu. Sepintas terbersit rasa kecewa dalam benaknya, namun berusaha ia pendam dalam.
"Sepertinya dia juga menyukaimu. Hanya kau yang dia nggap manusia dan seorang wanita"
Ucapan La Vie membuat Rhine mengangkat pandangan mengamatinya sejeli mungkin. Wajah gadis itu tampak bersedih meski ia tak begitu yakin itu adalah perasaan sebenarnya yang tertangkap dari wanita misterius di hadapannya.
"Apa kau pikir begitu?"
La Vie berbalik menimpali dengan anggukan. Rhine mendadak penasaran mengingat kejadian dua hari sebelumnya saat Aileen Aldari tiba-tiba menariknya di tengah pembicaraan mereka saat itu. Meski mereka jelas tak tampak akrab namun Rhine penasaran apa yang bisa membuat Aileen Aldari yang dikenalnya pendiam bisa begitu marah pada orang asing seperti La Vie hingga nyaris tak ia kenali.
"Lalu apa yang terjadi pada kalian kemarin? Sepertinya kalian bertengkar?"
La Vie hanya tertawa geli kemudian berpaling ke arah Rhine.
"Kami tidak bertengkar, dia memang membenciku. Kebancian yang sepertinya sampai ke tulang dan jiwanya"
Mendengar jawaban La Vie, Rhine tersenyum puas. Ia merasa sudah tak ada keperluan lagi dan khawatir jika keluarganya mencari, karena ia pergi tanpa izin.
Rhine menatap jam melingkar di tangannya kemudian berdiri.
"Aku harus pulang sekarang. Para pengawal mungkin sudah mencariku sekarang. Aku permisi, kudoakan kau segera sembuh"
La Vie mengangguk lalu tersenyum menatap kepergian gadis itu menghilang dari balik pintu.