Karena bosan tanpa teman, meski belum sepenuhnya pulih, La Vie memilih meninggalkan rumah keesokan paginya. Karena tak ada seorang pun datang membawa baju ganti untuknya, ia terpaksa mengenakan gaun terbuka yang ia kenakan sebelumnya ketika menemui Aileen Aldari.
Bukannya merasa senang seperti ketika mengenakan gaun itu pertama kali, kini ia merasa amat malu. Semua orang di rumah sakit menatapnya tiap kali ia melangkah disertai sorot mata aneh penuh tanya bahkan sesekali tatapan berhasrat yang membuatnya mendapat godaan dari banyak pria asing yang ia temui.
Langkah terburu-buru La Vie baru terhenti ketika tiba di loket pembayaran atas petunjuk seorang cleaning servis wanita.
Seorang pria muda menatapnya dari atas ke bawah dengan jeli. Namun ketika La Vie menatapnya ia menundukkan pandangan.
"Aku ingin membayar biaya kamar dan operasiku"
"Atas nama?"
"La Vie En Rose"
Wanita itu mengecek beberapa lama. Setelah selesai ia kembali mengalihkan pandangan dari komputer pada La Vie yang tengah khusyuk menunggu.
"15.500 Euro"
La Vie menggeledah dompetnya mengeluarkan kartu kredit, bersyukur tidak mengeluarkan barang penting itu dari tasnya atau ia tidak akan bisa meninggalkan rumah sakit hari ini.
"Semua biaya perawatan sudah lunas"
"Apa?" La Vie melongo sedikit tak percaya, "Siapa yang melunasi semuanya?"
"Atas nama Tuan Aileen Aldari"
La Vie melongo dua kali, setengah syok tak percaya apa yang ia dengar. Mustahil jika pria itu sudi membayar biaya perawatannya.
Masih kurang yakin ia bertanya sekali lagi untuk meyakinkan diri bahwa pendengarannya masih baik-baik saja.
"Maksudmu Aileen Aldari Carl de Leon?"
"Benar"
La Vie meninggalkan rumah sakit penuh tanya. Ia tak tahu dengan alasan apa pria itu bersedia membiayai semua perawatannya, bukankah dia sangat membencinya bahkan tidak pernah Sudi melihatnya? Lalu mengapa kali ini ia bersedia membantunya?
La Vie merasa tak tenang jika tak menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Ia berencana menemui pria itu hari ini juga. Ia mengirim pesan pada Esme bertanya di mana Aileen Aldari bekerja.
Gadis berambut hitam bergelombang itu pulang menaiki taksi. Di tengah perjalanan ke istana ia melihat toko bunga di pinggir jalan. Ia singgah sesaat di sana, memesan sebuket lili kuning dan setangkai mawar merah muda.
Setelah membeli bunga-bunga itu, bertepatan juga dengan saat Esme membalas pesannya. Gadis itu mengatakan jika Aileen Aldari bekerja di Markas Besar Tentara Flander-Belgium yang berjarak 500 meter dari istana.
Ia berpesan pada taksi mengantarnya ke sana berharap bisa bertemu Aileen Aldari sebelum ia kembali ke istana. Sayangnya, rencananya tak berjalan mulus. Ia ditahan di depan gerbang masuk oleh dua tentara yang berjaga, melarang penduduk sipil masuk ke sana tanpa izin tertulis dan pengenal.
Tak mau pulang dengan tangan hampa, La Vie turun menghampiri dua tentara muda itu. Keduanya melongo saling melirik melihat pakaian terbuka yang ia kenakan namun La Vie tak peduli.
"Bisa kau menelpon atasanmu Jenderal Aileen Aldari? Katakan padanya kalau La Vie ingin menemuinya"
"Jenderal baru saja keluar" timpal seorang dari mereka.
"Kemana dia pergi?"
"Kami tidak tahu"
**
La Vie kembali ke istana. Ia disambut sorot mata tajam penuh rasa penasaran dan gunjingan dari para pelayan yang melihat dirinya muncul pertama kali sejak kasus yang menimpanya. Hampir semua yang mereka bicarakan menyangkut peristiwa penembakan yang ia alami.
La Vie terkejut mengetahui bagaimana dengan cepat kabar itu merebak. Meski tak suka jadi bahan gosip untuk kali ini ia berusaha tak ambil peduli.
Sebelum menuju kamarnya ia pergi ke ruangan Victor Leopold meski tak yakin pria itu sedang berada di ruangannya.
Di ujung lorong tangga pertama ia melihat pintu terbuka dan Jhon Pato yang baru saja keluar dari sana. Ia mendekati ruangan itu, lelaki tua berekspresi keras itu mengangkat pandangan perlahan, tapi tak mencoba menahan La Vie ketika ia membuka pintu serampangan tanpa mengetuk sama sekali.
Victor Leopold mengangkat pandangan ketika menyadari seseorang memasuki ruangannya. Ia bangkit berdiri ketika menyadari La Vie di sana dengan senyum merekah lebar.
Ia mendekati gadis itu berusaha memeluknya melupakan bahagia melihat gadis itu baik-baik saja dan kini berada di hadapannya.
Sayangnya sikap antusiasnya tak disambut baik oleh La Vie. Ia mendorong tubuh Victor Leopold menjauh dengan lembut agar tak melukai perasaannya meski membuat pria itu sempat heran.
"Kau tidak mau memelukku?"
"Kau bahkan tidak datang menjengukku"
Victor Leopold menundukkan wajah sekilas tampak menyesal.
"Kau tau ibuku 'kan?"
La Vie menurunkan sudut bibirnya mengerucut sudah menebak jawaban itu jauh sebelum ia bertanya.
"Kau sepertinya sangat patuh pada ibumu"
"Kau tau aku belum jadi raja"
Pembelaan yang sama dari Victor Leopold membuat La Vie hanya bisa menyeringai. Seperti yang ia duga putra mahkota bukan orang yang bisa diharapkan. Ia hanya seseorang yang bisa dipergunakan sekali lalu ditinggalkan sesudahnya.
"Aku datang kemari untuk memintamu menghentikan penyelidikan atas kasus penembakan yang terjadi padaku"
Alis Victor Leopold mengerut terpaut, "Itu yang ingin kutanyakan padamu, kenapa kau menolak Clandestin yang ingin menyelidiki kasus itu?"
"Karena aku tau siapa pelakunya"
"Siapa?" mata coklat pria itu berbinar terang penuh rasa tertarik.
"Ibumu" mendengar jawaban itu raut muka antusiasnya berganti rasa heran dan tak percaya.
"Kau punya bukti?"
Jawaban Victor Leopold bak sebuah tantangan yang membuat La Vie merasa ucapannya diragukan. Ia menarik dasi pria itu hingga wajah mereka amat dekat, "Kau pikir siapa orang yang paling ingin menyingkirkan aku dari sini?"
"Kalau begitu biarkan penyelidikan dilakukan agar tuduhanmu benar"
"Jika benar, terbukti, apa yang akan kau lakukan pada ibumu? Menangkapnya? Menghukumnya?"
Bibir tipis Victor Leopold mengatup rapat. Ia tampak beku membuat La Vie hanya tersenyum tipis menanggapi betapa tak berdayanya ia sebagai seorang calon raja.
Ia melepas dasi pria itu membiarkannya begitu saja. Mulai saat ini ia memutuskan memainkan permainannya sendiri.
"Aku hanya memintamu untuk itu, jangan lanjutkan lagi penyelidikannya. Jika bukan untukku bisa kau lakukan untuk ibumu"
La Vie membuka pintu. Ia terperanjat ketika melihat Aileen Aldari sudah berdiri di ambang pintu dengan raut muka dinginnya seperti biasa.
La Vie tak mengatakan apapun. Ia menghindar begitu saja meski ia menebak pria itu mungkin sudah mendengar obrolan mereka berdua. Ia cukup bersyukur setidaknya pria itu tak melihat apa yang ia lakukan pada Victor Leopold.
La Vie tak mau menghabiskan terlalu banyak waktu lagi di istana. Ia melangkah terburu-buru menuju kamarnya.
Esme yang jadi penjaga kamar setia seperti anjing saat La Vie tak di sana, segera melompat ke sisinya begitu melihat kemunculannya pertama kali. Ia memeluknya dengan rasa rindu menggebu seperti seorang pria menunggui kekasaihnya.
"Nona.. kudengar kau terluka, apa kau baik-baik saja?"
La Vie melepas pelukannya menatap gadis yang seperti biasa cerewet penuh rasa penasaran itu, "Aku baik-baik saja, sekarang bantu aku berkemas"
Kedua alis Esme bertaut, "Berkemas, kenapa?"
"Aku akan pergi dari sini"
Mata gelap Esme mendadak menatap sendu dan sedih, "Kenapa nona pergi?"
La Vie berpaling dengan penuh rasa percaya diri, "Jangan khawatir, aku akan segera kembali" ia merogoh tas tangannya lalu mengeluarkan sepasang anting dari emas putih yang dijejalkan di tangan Esme, "Tentang apa yang kau lihat mengenai aku dan Aileen Aldari jangan sampai orang lain mengetahuinya?"
Esme mengangguk kemudian tersenyum sambil memasukkan perhiasan itu ke dalam saku setelan hitamnya
Setelah berganti pakaian dan memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper, La Vie berpamitan pada Esme. Mereka berpelukan erat. Meski baru beberapa hari saling mengenal, mereka sudah merasa akrab. La Vie tak punya teman lain di istana selain pelayan itu, sementara Esme menghargai kebaikan La Vie dan semua hadiah yang diberikan padanya.
Meski Esme penasaran kapan La Vie kembali ia lebih memilih tak menanyakannya saat itu. Ia yakin seperti yang diucapkan gadis yang ia panggil 'nona' itu, La Vie pasti akan kembali dan mereka bisa bertemu lagi.
Gadis itu kini berhasil meninggalkan kamar kuno dengan warna kelam yang dulunya amat ia benci. Namun entah mengapa sekarang ia harap bisa tinggal di sana sedikit lebih lama, karena tahu ditempat barunya akan lebih rawan kesepian.
Meski merasa sedikit sedih karena tak punya teman lagi, La Vie berusaha menguatkan diri karena selama ini memang selalu hidup sendiri. Ia merasa seharusnya tak ada bedanya di manapun ia tinggal.
La Vie meletakkan baranya di dalam taksi yang masih menunggunya di luar pagar. Ia mengambil dua buket bunga yang sudah ia siapkan lalu kembali ke dalam. Pada salah seorang pelayan muda yang baru saja melintas di hadapannya, ia bertanya pada keberadaan Josephine. Pelayan itu berkata jika sang ratu berada di halaman belakang sedang bermain golf dengan para wanita bangsawan.
Dari undakan tangga beranda belakang La Vie memang melihat perempuan tua itu tengah mengayunkan stik golf-nya ke udara ditemani beberapa wanita yang dari tampilan luar mereka sudah bisa ditebak, mereka adalah teman-teman yang sama yang ia temui 3 hari sebelumnya.
Josephine memukul bola golf-nya dengan kencang hingga melambung tinggi di udara mendekati sasarannya. Semua orang bertepuk tangan meriah memuji kemahirannya, termasuk La Vie yang bertepuk tangan paling keras membuat keenam wanita itu berpaling.
Raut wajah mereka masam dengan senyum yang dibuat terpaksa. Mereka menatap La Vie sinis namun gadis itu bahkan tak mau melihat. Tingkahnya yang demikian menyebalkan membuatnya dijuluki arogan di antara kelompok kecjl mereka.
Josephine yang melihat La Vie datang membawa bunga saat itu secara kebetulan tak menunjukkan reaksi benci seperti yang sebelumnya selalu ia tunjukkan. Ia acuh meski enggan bertatap muka langsung.
La Vie menyodorkan bunga dalam pelukannya pada wanita bermata coklat yang mengonde rambutnya rapi. Meski sederhana namun anggun begitu menyatu dengan bentuk wajahnya.
Josephine menatap bunga itu penuh tanya bergantian dengan La Vie yang memulas senyum membuatnya sedikit jijik.
"Apa ini?" ungkap Josephine dengan suara merdu berirama lembut.
"Hadiah perpisahan. Aku sudah mengemas semua pakaianku dan akan pergi sekarang. Kurasa kau benar saat memintaku pergi, seharusnya aku benar-benar pergi"
Bibir berisi Josephine menyeringai. Ia berpaling, nampak senang seolah perang yang sudah ia jalankan beberapa hari ini memasuki babak akhir. Tidak ada yang lebih membuatnya senang selain melihat musuhnya menyerah dengan mudah. Ia tak menyesali tindakan yang sudah ia lakukan.
"Jadi kau akhirnya tau hal yang benar?"
La Vie mengangguk kemudian menyodorkan bunga itu makin dekat.
"Terimalah sebagai tanda perpisahan. Ini mungkin akan jadi terakhir kalinya kita bertemu"
Josephine meraih pemberian itu tanpa mengatakan apapun. Setelah merasa perpisahan itu selesai, La Vie berbalik pergi. Setelah gadis itu jauh, Josephine membuang bunga di tangannya ke tanah.
Semua wanita bangsawan yang ada di sana hanya bisa melongo melihat tingkahnya yang begitu kejam tak perhatian dan angkuh. Tapi tak ada satupun yang memprotes, mereka melanjutkan permainan seolah tak terjadi apapun.
La Vie tak segera pergi. Ia sedang menunggu seseorang di depan pintu masuk istana. Ia sudah berada di sana selama hampir 15 menit lamanya, tapi orang yang ia temui belum juga muncul.
Ia memutar tubuhnya sambil menendang udara di kakinya karena bosan. Saat mengedarkan pandangan perlahan mengamati lantai beranda, ia menemukan ujung sepatu kulit melangkah keluar.
La Vie mengangkat pandangan. Aileen Aldari baru saja muncul dengan langkah panjang dan cepat memaksanya mengikuti irama kakinya.
Ia berjalan setengah berlari memperkecil jarak antara dirinya dan pria itu, berharap ia akan menghentikan langkahnya agar mereka bisa mengobrol sebentar, tapi seperti biasa Aileen Aldari nyaris tak peduli dengannya.
"Lama tidak bertemu" sapanya.
Aileen Aldari menatap lurus ke arah jalan berusaha segera sampai pada mobil Lexus hitamnya yang sedang parkir di halaman istana. Ia sama sekali tak niat menggubris La Vie yang berusaha keras mencuri perhatiannya.
"Minggirlah, aku tidak ada waktu bicara denganmu"
La Vie berlari menyusulnya, kemudian berdiri dengan kedua tangan melintang di udara berusaha menghentikan pria itu. Meski gagal membuatnya berhenti setidaknya langkah Aileen Aldari melambat.
La Vie kemudian memberanikan diri menyodorkan bunga mawar merah muda yang tadi ia beli padanya membuat alis pria itu bertaut.
"Apa ini?"
"Aku ingin menanyakan hal yang sama padamu. Kenapa kau membayar tagihan rumah sakitku?"
Mata amber terbakar pria itu melempar pandangan jauh, tak mau menatap La Vie.
"Aku melakukan itu hanya atas dasar rasa kasihan pada sesama manusia. Kau sedang tidak sadarkan diri, kalau aku tidak mengurus biaya rumah sakitmu kau akan dibiarkan mati"
La Vie mengangguk mengerucutkan dagu, kemudian meraih tangan besar pria itu lalu meletakkan bunga itu di tangannya.
"Anggaplah ini sebagai rasa terima kasihku. Aku tidak suka berhutang budi pada orang lain, jadi berikan tagihan rumah sakit itu, aku akan melunasinya"
"Aku sedang tidak membawanya"
"Kalau begitu akan kuminta nanti" La Vie berjalan menuju gerbang lalu melambaikan tangan kemudian menghilang bersama taksi yang membawanya pergi.