"Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling baik di antara kamu ialah orang yang paling baik kepada isterinya."
(HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
* * *
10 TAHUN KEMUDIAN
Kehidupan Daniel
Isma sedang menyirami tanaman di teras depan rumahnya ketika Daniel keluar untuk bekerja pagi itu. Daniel menatap ke arah Ibunya dengan perasaan yang sama sejak sepuluh tahun yang lalu. Perasaan bersalah!
Daniel mendekat dan meraih tangan Ibunya untuk ia salami seperti biasanya. Isma tak merespon sama sekali, ia malah kembali menyibukkan diri dengan tanaman-tanaman yang ada di hadapannya.
"Ibu kangen sama Bapakmu," lirih Isma.
Airmata kembali menetes di pipi wanita paruh baya itu, Daniel kembali berbalik untuk menatapnya.
"Daniel minta maaf Bu..., Daniel menyesali segalanya yang sudah terjadi," ujar Daniel.
"Seandainya kamu nggak membuat Diva sakit hati..., seandainya kamu nggak menikahi perempuan s**l yang sangat kamu cintai itu..., Bapak pasti masih ada di rumah ini," isak tangis penuh kepedihan itu kembali terulang.
Isma berpaling dari Daniel dan kembali tak peduli. Daniel melangkahkan kakinya dengan penuh rasa bersalah yang tak kunjung berakhir. Ingatannya kembali pada masa sepuluh tahun lalu.
Flashback On
"Aku akan menikahi Ziona Pak," ujar Daniel.
"Bapak dan Ibu takkan pernah merestui pernikahanmu dengan perempuan itu!!! Menantu di keluarga ini hanya Diva!!! Tidak akan ada yang lain!!!," seru Khalil, murka.
"Aku cuma cinta sama Ziona!!! Ziona akan jadi isteriku..., dengan ataupun tanpa restu dari Bapak dan Ibu!!!," balas Daniel, seraya berlalu meninggalkan kedua Orangtuanya.
Ia mendatangi Diva yang sedang belajar di kamarnya. Mereka berdua saling menatap dari jarak yang jauh. Daniel belum pernah sekalipun berdekatan dengan Diva selama mereka menjadi suami-isteri.
"Aku akan menikahi Ziona!!!," ujar Daniel, tegas.
"Aku nggak mau dipoligami!!!," balas Diva, tak kalah tegas.
"Aku nggak butuh pendapatmu!!! Kalau kamu nggak suka aku menikahi Ziona, kamu boleh menceraikan aku dan pergi selama-lamanya dari hidupku!!!."
Diva menatap Daniel dengan tenang, ia pun tersenyum.
"Aku akan pergi dari hidupmu jika itu memang yang kamu mau. Tapi satu hal yang takkan pernah terjadi..., aku takkan pernah menceraikanmu sampai aku mati!!!."
Diva benar-benar pergi dari hidupnya hanya beberapa jam setelah pertengkaran mereka hari itu. Daniel akhirnya bebas menikahi Ziona meskipun tak bercerai dari Diva. Namun, yang terjadi malah di luar dari pemikiran dan akal sehat Daniel.
Ziona membunuh Khalil - Bapak mertuanya sendiri!!!
Khalil diberi racun dalam jumlah yang banyak sehingga nyawanya tak dapat tertolong. Saat Polisi menyelidiki Ziona pun terbukti bersalah, Daniel hanya bisa menatapnya dengan penuh rasa marah.
"Apa yang ada dalam pikiranmu??? Kenapa kamu membunuh Bapak???," Daniel berteriak, murka.
Ziona tertawa.
"Bapakmu memang pantas mati!!! Dia selalu menghalangiku untuk menguasai apa yang kamu miliki!!!," jawabnya dengan teriakan yang sama kerasnya.
Flashback Off
Sejak itu, Daniel menceraikan Ziona dan menjebloskannya ke dalam penjara. Namun keadaan tak pernah berubah, Ibunya tak pernah lagi menganggapnya ada.
"Percuma kamu ceraikan perempuan s**l itu, Diva tetap tidak akan kembali! Bapakmu sudah tiada..., kamu adalah anakku yang tidak tahu diri!!! Kamu juga suami yang tidak berguna!!!," bentak Isma, sebulan setelah meninggalnya Khalil.
Sejak itu pula Daniel berusaha mencari Diva dan ingin mengajaknya pulang. Namun semua usaha pencariannya tak menghasilkan apapun. Ia tak pernah menemukan Diva, wanita itu seakan menghilang ditelan bumi.
Yang bisa Daniel lakukan adalah menatap foto pernikahannya dengan Diva yang terpajang di dinding kamar tidurnya, di dashboard mobilnya, dan juga dalam dompetnya.
Ya..., Daniel mulai jatuh cinta pada Diva ketika semuanya sudah terlambat. Perasaan itu tumbuh perlahan-lahan dan berubah menjadi candu kala Daniel tak punya jalan keluar untuk setiap masalahnya. Ia selalu menatap foto pernikahannya dengan Diva sebagai pelarian atas rasa penat yang ia hadapi.
"Hei..., kamu di mana? Ayo pulang..., aku kangen," bisik Daniel, lirih.
* * *
Daniel baru saja selesai mengajar di kelas sembilan ketika seseorang tiba-tiba mengejarnya dan merangkulnya hingga ia merasa kaget. Orang itu adalah Aldo, sahabat baik Diva ketika mereka masih sekolah di SMP tempat di mana Daniel mengajar saat ini.
"Kak Daniel mikirin apa? Ngelamun terus...," sindir Aldo.
Daniel tersenyum singkat.
"Mikirin isteriku yang nggak pernah pulang," jawab Daniel, jujur.
"Kalau Kak Daniel segitu cintanya sama Kak Diva, kenapa dulu Kakak mengusir dia?," tanya Aldo.
"Aku khilaf Do..., aku dibutakan oleh cintanya Ziona sehingga tak menyadari kalau aku sudah punya seorang isteri yang mencintaiku tanpa syarat apapun," jawab Daniel.
Aldo semakin tak mengerti.
"Kakak tahu dari mana kalau Kak Diva cinta sama Kakak tanpa syarat apapun? Kakak nikah sama Kak Diva dan tinggal serumah cuma satu minggu, kan?."
Daniel tersenyum.
"Dari caranya mempertahankan rumah tangga kami Do. Aku selalu memintanya menceraikan aku, tapi jawaban dia hanya satu..., bahwa sampai kapanpun, entah aku mencintainya atau tidak, entah aku mencintai perempuan lain sekalipun, satu-satunya hal yang tidak akan pernah terjadi dalam hidupku di masa depan adalah bercerai darinya," jelas Daniel dengan airmata yang menggenang di sudut matanya.
Aldo kembali merangkul Daniel.
"Kalau begitu, Kakak nggak boleh nyerah. Cari terus Kak Diva, dan bawa dia pulang," Aldo meyakinkan.
Daniel tersenyum lalu mengangguk. Aldo benar, ia tak boleh menyerah.
‘Ya..., aku akan terus mencarimu sampai kita bertemu lagi. Bukankah kau sendiri yang mengatakan, bahwa di masa depanku, aku takkan pernah bercerai darimu. Artinya..., aku dan kamu akan selalu bersatu, kan?.’
* * *