“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia, cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
(QS. Ali ‘Imran : 14)
***
10 TAHUN KEMUDIAN
Kehidupan Diva
Tok..., tok..., tok...
Suara ketukan pintu terdengar dari arah depan pintu rumah pondok Pesantren Al-Mu’minin pagi-pagi sekali. Seorang wanita berusia muda bergegas membukakan pintu setelah memakai niqob-nya dengan rapi. Di depan pintu tersebut berdirilah seorang wanita muda lainnya yang sedang tersenyum dari balik niqob-nya yang berwarna cokelat muda.
“Assalamu’alaikum Ukhti Kiana, maaf kalau aku mengganggu aktifitas Ukhti pagi-pagi sekali seperti ini,” ujar Ria – santriwati termuda di Pondok Pesantren tersebut.
Kiana membalas senyumannya.
“Wa’alaikum salam Ukhti Ria, tidak masalah. Ada perlu apa pagi-pagi begini Ukhti?,” tanya Kiana.
“Aku disuruh Bu Nyai untuk memanggil Ukhti Kiana dan Ukhti Diva. Beliau mengatakan bahwa ada hal yang ingin disampaikan terkait pembahasan dalam acara Istighosah nanti malam,” jawab Ria, menjelaskan.
Diva keluar dari dapur dan segera bergabung bersama Kiana dan Ria di teras. Wanita itu tampak sangat anggun dengan gamis berwarna merah maroon dan hijab panjangnya yang berwarna cokelat muda. Niqob yang ia kenakan pun berwarna senada dengan baju gamisnya. Ria tersenyum ke arahnya dan segera mendapat sambutan berupa pelukan hangat dari wanita itu.
“Assalamu’alaikum Ukhti Ria. Sudah sarapan? Ayo kita sarapan sama-sama,” ajak Diva.
“Wa’alaikum salam Ukhti Diva, Alhamdulillah aku sudah sarapan bersama Ukhti Nilam dan Ukhti Risya. Syukron untuk ajakannya, tapi afwan karena aku sudah kenyang Ukhti,” jawab Ria.
Diva hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia mengerti. Kiana menatapnya seraya tersenyum dari balik niqob-nya. ?
“Bu Nyai memanggil kita berdua, Beliau ingin membicarakan pembahasan untuk acara Istighosah nanti malam,” ujar Kiana memberi tahu.
“Oh ya? Kenapa kamu nggak bilang dari tadi Kia??? Ayo, kita ke rumah Bu Nyai sekarang, jangan buat Beliau menunggu,” ajak Diva yang masih berkutat dengan rasa terkejutnya.
Kiana dan Ria pun mengangguk lalu mengikuti langkah Diva menuju rumah Bu Nyai. Sementara di rumah Bu Nyai yang memiliki nama asli Hajjah Dewi Nur Khasanah – Isteri dari Kiayi Haji Yusuf Al-Qodri sang pemilik Pondok Pesantren Al-Mu’minun – sedang bersantai usai tadabbur alam bersama Puteri bungsunya, Zahra.
“Ummi, boleh aku pakai baju gamisku yang baru untuk acara Istighosah nanti malam?,” tanya Zahra.
Bu Nyai tersenyum dari balik niqob-nya pada Puteri bungsunya itu.
“Asalkan bukan untuk pamer pada orang lain, kamu boleh memakai baju gamis barumu,” jawab Bu Nyai, memperingatkan.
Zahra tersenyum lalu mengangguk ke arah Ibunya. Diva dan Kiana pun tiba di depan rumah Bu Nyai, Zahra pun bergegas membukakan pagar untuk mereka berdua.
“Assalamu’alaikum Ummu Zahra..., Bu Nyai...,” ujar Diva dan Kiana bersamaan.
“Wa’alaikum salam,” jawab Zahra dan Bu Nyai, bersamaan.
“Mari masuk Ukhti Diva..., Ukhti Kiana...,” Zahra mempersilahkan.
“Syukron Ummu,” jawab Diva.
Zahra memiliki perbedaan umur yang jauh dari Diva dan Kiana, sehingga banyak para santri dan santriwati yang memanggilnya dengan sebutan ‘Ummu’ untuk menggantikan kata Ibu dalam bahasa Indonesia. Hal itu membuatnya merasa memiliki banyak anak meskipun belum menikah.
Diva dan Kiana duduk di hadapan Bu Nyai setelah mereka berdua mencium tangan wanita paruh baya yang amat dihormati oleh semua santri dan santriwati. Bu Nyai tersenyum pada kedua santriwatinya itu.
“Nanti malam saat acara Istighosah berlangsung, saya mau salah satu di antara kalian berdua membawakan sebuah materi tentang Haramnya Memandang Ke Dalam Rumah Orang Lain,” pinta Bu Nyai.
Kiana dan Diva saling pandang beberapa saat lalu kembali menatap Bu Nyai.
“Bukankah malam nanti seharusnya yang membawakan materi adalah Akh Salman Bu Nyai?,” tanya Kiana.
Bu Nyai tersenyum lagi lalu menggelengkan kepalanya dengan tatapan tak percaya ke arah kedua santriwatinya tersebut.
“Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Saya sangat bersyukur karena telinga kalian berdua betul-betul dijaga oleh Allah swt., sehingga tak secuil pun kabar buruk sampai pada kalian berdua,” ujar Bu Nyai.
“Maksud Bu Nyai?,” tanya Diva yang masih tak mengerti.
“Para santri saat ini sedang mendapat sanksi dari Abah. Banyak di antara mereka yang kedapatan berusaha mengintip ke dalam rumah pondok santriwati,” jelas Bu Nyai.
“Termasuk Akh Salman Bu Nyai???,” Kiana terdengar tak percaya.
“Salman tidak ikut-ikutan, tapi yang namanya sanksi dari Abah ya pasti semua santri kena getahnya.”
Kiana terkekeh pelan seraya menundukkan kepalanya. Diva hanya tersenyum kecil, yang sudah jelas tak di ketahui oleh siapapun karena ia memakai niqob. Bu Nyai kembali menatap mereka dengan serius.
“Jadi..., siapa di antara kalian berdua yang akan membawakan materi nanti malam?,” tanya Bu Nyai tegas.
“Ukhti Diva Bu Nyai...,” Kiana buru-buru menjawab.
Diva menoleh sekilas ke arah Kiana yang sukses membuatnya terpojok. Wanita itu selalu tahu jika dirinya tak bisa menolak permintaan Bu Nyai. Bu Nyai menatap ke arah Diva, seakan meminta persetujuan.
“Iya Bu Nyai, saya yang akan membawakan materi nanti malam,” jawab Diva, mantap.
* * *
Malam mulai merayap di Kota Tanggerang. Para santri dan santriwati sudah bersiap-siap untuk menuju ke Masjid Agung Pesantren Al-Mu’minun. Acara Istighosah akan segera dimulai beberapa saat lagi.
Firman berjalan bersama Ardi, Rasya, dan Salman dari arah rumah pondok santri. Mereka sengaja memisahkan diri dari para santri lainnya agar bisa berbincang sebelum acara Istighosah dimulai.
“Seandainya bukan karena Akh Tio kedapatan berusaha mengintip ke dalam rumah pondok santriwati, pasti malam ini kamu yang akan membawakan materi Akh Salman,” ujar Rasya yang terdengar kecewa.
Salman hanya tersenyum Ikhlas, ia tak menyalahkan Tio atau pun santri lain karena gagal membawakan materi dalam acara Istighosah. Ia merangkul Rasya dengan santai.
“Tidak apa-apa Akh, jadikan saja semua ini sebagai pelajaran agar kita tidak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Akh Tio. Lagipula, Akh Tio memang salah karena berusaha mengintip ke dalam rumah pondok santriwati,” ujar Salman.
“Betul itu Akh, haram hukumnya jika kita berusaha melihat wajah Akhwat yang tertutup oleh niqob. Kecuali mereka sudah menjadi mahrom kita, baru kita boleh melihat wajah mereka,” tambah Ardi.
“Ya sudah, kita lanjutkan pembahasan mengenai ‘intip-mengintip’ ini setelah acara Istighosah selesai. Sekarang ayo, kita ke Masjid,” ajak Firman.
Mereka segera memasuki Masjid beberapa saat setelah acara di mulai. MC, yang memandu acara Istighosah malam itu adalah Ummu Aliya – Puteri Bu Nyai yang kedua. Salman duduk berdampingan dengan Firman, sementara Rasya sudah jelas duduk bersama Ardi. Mereka berdua memang tak pernah terpisahkan selama menjadi santri di Pondok pesantren Al-Mu’minun.
“Alhamdulillah, pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ukhti Sarah telah selesai dengan baik. Sekarang mari kita lanjutkan dengan pembahasan materi yang akan di bawakan oleh Ukhti Diva Najwa Kamil,” ujar Aliya mempersilahkan Diva untuk maju.
Salman mengangkat wajahnya yang tertunduk sejak tadi ketika mendengar nama Diva disebut oleh Aliya. Firman yang duduk di sebelahnya menyikut lengan Salman untuk menggodanya, sementara Rasya dan Ardi memberi kode dari balik punggung Salman. Pria itu tersenyum diam-diam.
Diva yang malam itu mengenakan baju berwarna biru muda dan hijab panjang berwarna biru gelap terlihat sangat anggun. Niqob berwarna senada dengan warna bajunya pun menghiasi wajah wanita itu. d**a Salman seakan bergemuruh ketika melihat mata milik Diva, yang tentu saja tak mengarah kepadanya. Wanita itu sangat menjaga setiap pandangannya, terutama pandangan dari pria yang bukan mahrom-nya.
“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,” ujar Diva beberapa saat setelah sampai di mimbar.
“Wa’alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh,” jawaban serentak dari seluruh santri dan santriwati.
“Allahumma sholi ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali syaidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in, amma ba’du.”
Diva menarik nafas sesaat.
“Malam ini, saya diminta langsung oleh Bu Nyai untuk membawakan materi tentang Haramnya Memandang Ke Dalam Rumah Orang Lain,” ujar Diva.
Deg!!!
Sontak Salman pun terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Diva tentang materi pembahasannya malam itu. Begitu pula dengan Firman, Rasya, Ardi dan santri-santri lainnya.
“Dalam hadits riwayat Sahal bin Saad As-Saidi radhiallahu anhu, Beliau mengatakan bahwa seorang lelaki mengintip pada lubang pintu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam. Ketika itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam membawa sisir yang beliau gunakan untuk menggaruk kepala. Pada waktu Rasulullah melihat orang itu, beliau bersabda ‘seandainya aku tahu engkau memandangku tentu aku tusukkan sisir ini ke matamu’. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam juga bersabda ‘sesungguhnya disyariatkan minta izin itu ketika memasuki rumah hanyalah untuk menghindari penglihatan’. Hadits Riwayat Muslim.”
Semua orang mendengarkan dengan khidmat.
“Jika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam, yang sudah jelas bahwa ia adalah seorang Ikhwan, terhadap Ikhwan lain pun Beliau melarang untuk mengintip ke dalam rumahnya. Lalu bagaimana jika di dalam rumah itu penghuninya adalah seorang Akhwat??? Bukan hanya haram! Tetapi dosa yang amat besar akan diterima oleh Ikhwan tersebut yang mengintip ke dalam rumah seorang Akhwat,” jelas Diva.
Salman kembali menundukkan kepalanya karena merasa malu terhadap apa yang dilakukan oleh Tio.
“Seorang Akhwat yang benar-benar menutup dirinya dari maksiat harus dilindungi. Bagaimana cara melindunginya??? Dengan menjaga kehormatan Akhwat tersebut, bukan dengan m*****i kehormatannya! Seorang Akhwat yang menutup dirinya dengan hijab, menutup wajahnya dengan niqob, menandakan bahwa Akhwat tersebut wajib untuk dilindungi, bukan untuk dipermalukan.”
Diva kembali menarik nafas sejenak.
“Mengintip ke dalam rumah seorang Akhwat dan berharap bisa melihat wajahnya yang selalu ditutupi oleh niqob adalah perbuatan paling tercela dalam kehidupan seorang Ikhwan. Ikhwan yang terhormat adalah Ikhwan yang mampu menjaga kehormatan seorang Akhwat dari maksiat apapun, termasuk maksiat kedua mata. Bukankah selama ini kita semua sudah tahu, bahwa melihat wajah Akhwat yang bukan mahrom adalah perbuatan dosa??? Lalu kenapa kalian begitu penasaran ingin melihat wajah Akhwat yang bukan mahrom kalian??? Apa kalian ingin merasakan bara api neraka di letakkan di kedua bola mata kalian???,” tanya Diva.
Para santri menundukkan kepalanya secara serentak, beberapa dari mereka terlihat seakan mereka berpikir keras dan menyesali apa yang mereka perbuat.
“Apa kalian sadar, bahwa apa yang kalian lakukan adalah sebagian daripada zina??? Allah Subhanahu wa ta'ala telah melarang dengan jelas dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat tiga puluh dua, wa laa taqrobuz-zinaaa innahuu kaana faahisyah, wa saaa'a sabiilaa. Dan janganlah kamu mendekati zina, zina itu sungguh suatu perbuatan k**i, dan suatu jalan yang buruk. Apakah larangan itu masih kurang jelas untuk kalian?,” tanya Diva lagi.
Bu Nyai tersenyum dari tempatnya duduk dalam Masjid itu. Ia benar-benar tak salah pilih ketika meminta Kiana atau Diva agar membawakan materi. Ia merasa sangat puas.
“Maka dari itu, agar kita semua terhindar dari dosa dan maksiat, marilah kita bersama-sama memperbaiki diri. Untuk Akhwat, berusahalah dengan lebih keras untuk menjaga kehormatan kalian, dan untuk Ikhwan, tolong bantu para Akhwat untuk menjaga kehormatan mereka. Sekian pembahasan dari saya, wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,” Diva mengakhiri pembahasannya.
Tatapan kagum yang tertuju ke arah Diva. Saat wanita itu turun dari mimbar, Salman kembali menatapnya diam-diam. Ia mengikuti setiap langkah wanita itu hingga tak terlihat lagi karena Diva sudah bergabung dengan santriwati lain di Masjid itu.
‘Mengapa setiap kali mendengar namamu, rasanya ada yang bergemuruh hebat dalam dadaku?.’
* * *