BAGIAN 7

1818 Words
Dari Ummu Kultsum RA ia berkata: "Saya tidak pernah mendengar Rasulullah SAW memberi kelonggaran berdusta kecuali dalam tiga hal: Orang yang berbicara dengan maksud hendak mendamaikan, orang yang berbicara bohong dalam peperangan dan suami yang berbicara dengan istrinya serta istri yang berbicara dengan suaminya (mengharapkan kebaikan dan keselamatan atau keharmonisan rumah tangga)". (HR. Muslim) * * *   MENCEGAH   Diva terus memperhatikan Kiana yang tampak gelisah sejak pulang dari Majelis Ramadhan semalam. Ia hendak bertanya, namun selalu saja takut jika Kiana akan mengelak darinya. "Kamu kok lihat aku sampai begitu Div?," tanya Kiana, heran Diva terkekeh geli dari balik niqob-nya. "Kamu sadar nggak kalau ekspresimu itu lebih mengherankan daripada caraku melihatmu?," Diva bertanya balik. Kiana tak menjawab namun kembali mengintip keluar jendela rumah pondok tempat mereka tinggal. Diva pun mendekat. "Kamu mau ngintipin santri?," goda Diva. Kiana pun refleks mencubit lengan Diva karena gemas. Diva meringis pelan. "Sembarangan kamu! Aku bukan mau ngintipin santri..., aku cuma mau memastikan kalau Akh Odi nggak berbuat macam-macam sama Akh Salman," jelas Kiana. "Jadi kamu ngintipin Akh Odi??? Jadi Akh Odi itu bukan santri ya???," sindir Diva. Kiana bertambah gemas pada Diva. "Diva!!! Bukan itu tujuannya!!!." Diva kembali terkekeh, lalu menarik tangan Kiana untuk duduk berdua di sofa. "Sekarang jelasin sama aku, apa yang membuatmu berpikir kalau Akh Odi akan berbuat macam-macam pada Akh Salman?," tanya Diva. Kiana menarik nafasnya sesaat sebelum menjelaskan apa yang ia dengar semalam. "Jadi..., semalam itu...," Flashback On Salman turun dari mimbar dan di sambut oleh Ardi, Rasya dan Firman. Tiba-tiba Odi, Setyo dan Fanno pun mendekatinya. "Afwan Akh Salman..., Syukron karena telah menyindir kami secara terang-terangan!!! Tapi ingat, kalau sampai Akh Tio melakukan sesuatu yang buruk dan kami terkena getahnya lagi, maka Akh Salman yang akan bertanggung jawab atas hal tersebut!!!," ancam Odi. Salman hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun, Firman hendak maju ke hadapan Odi namun ditahan oleh Ardi dan Rasya. Mereka pun membubarkan diri. Kiana keluar lebih dulu untuk melihat kemana perginya Odi, Fanno dan Setyo. Mereka ternyata berkumpul di samping timur Masjid dan membicarakan sesuatu. Kiana mendekat diam-diam. "Pokoknya, besok kita harus membuat Salman jera dan nggak berani lagi untuk ceramah macam-macam!!!," ujar Setyo. "Besok aku akan mengambil ponsel milik Tio..., terus aku sms Salman supaya mereka berdua ketemuan di belakang pesantren. Rokok udah siap, mereka berdua tinggal kita adukan sama Abah," usul Fanno. "Ya..., dan setelah itu tamatlah riwayat Salman dan Tio!!! Mereka berdua akan dikeluarkan langsung oleh Abah tanpa pertimbangan lagi," tambah Odi. Flashback Off Diva mengepalkan kedua tangannya karena kesal mendengar apa yang Kiana katakan. "Ayo..., kita pergi ke rumah Ukhti Sarah dan Ukhti Nilam. Kalau benar apa yang kamu katakan, maka Akh Salman dan Akh Tio harus ditolong," ajak Diva. Kiana menurut dan segera mengikuti langkah Diva menuju rumah Sarah dan Nilam. Ketika mereka sampai di sana, mereka pun menceritakan apa yang Kiana dengar semalam. "Astaghfirullah hal 'adzhim!!! Kenapa baru sekarang Ukhti Kiana katakan pada kami???," tanya Sarah, marah. "Afwan Ukhti, saya takut dibilang menyebar fitnah. Jangan sampai mereka tidak jadi melakukan rencananya, lalu saya yang akan disalahkan," jawab Kiana. "Ukhti Kiana hanya ingin memastikan dulu Ukhti Sarah..., apa yang dia lakukan adalah hal yang benar. Perkara fitnah bukanlah hal yang remeh," ujar Diva. "Ukhti Sarah..., sebaiknya kita segera memberitahu Bu Nyai dan Abah tentang perkara ini. Akh Salman dan Akh Tio mungkin masih sempat kita selamatkan jika kita berbicara pada mereka," saran Nilam. "Baiklah..., mari kita semua ke rumah Bu Nyai," jawab Sarah. Mereka pun bergegas menuju rumah Bu Nyai, namun Diva melihat Salman yang sedang berjalan dari arah rumah pondok santri dengan ponsel berada di tangannya. "Ukhti..., kalian semua pergi saja ke tempat Bu Nyai. Ada yang harus mencegah Akh Salman keluar dari area pesantren, saya akan mencari Akh Firman, Akh Ardi atau Akh Rasya," ujar Diva. "Baiklah Ukhti...," balas Nilam. Diva pun bergegas berlari menyusul langkah Salman yang sudah hampir mendekati gerbang samping pesantren. Pria itu masih memegang ponselnya. Tak Ada waktu untuk meminta bantuan siapapun. "Akh Salman!!!," panggil Diva dengan lantang. Ia menyadari bahwa dirinya takkan sanggup menyamai langkah Salman. Salman pun menoleh ke arah Diva dan kembali berjalan menuju tempat Diva berdiri. "Ada apa Ukhti Diva??? Kenapa Ukhti memanggil saya seperti ada yang salah???," tanya Salman, yang merasa khawatir dengan Diva. Diva memutar otaknya dengan cepat. "Afwan Akh Salman..., afwan karena saya berteriak ketika memanggil Akh Salman. Saya tidak mampu mengejar Akh Salman yang berjalan terlalu cepat," jawab Diva dengan nafas yang masih terputus-putus. Seketika, Salman pun merasa bersalah karena berjalan terlalu terburu-buru. "Afwan Ukhti, saya tidak bermaksud membuat Ukhti berlari-lari mengejar saya. Lagipula, ada apa sehingga Ukhti harus mengejar saya?," tanya Salman lagi. "Be..., begini Akh Salman, saya diminta oleh Bu Nyai untuk memanggil Akh Salman ke gudang di samping rumah pondok santri bagian timur. Beliau menunggu Akh Salman di sana untuk membicarakan sesuatu," Diva terpaksa berbohong. Salman pun menganggukan kepalanya lalu berjalan menuju ke arah gudang di samping rumah pondok santri. Diva mengikuti langkah pria itu dari belakang. Salman menoleh sesaat. "Ukhti Diva ikut bersama saya?," tanya Salman, meyakinkan diri. "Ya Akh Salman..., saya harus menemani Akh Salman ke gudang untuk menemui Bu Nyai," jawab Diva. Mau tak mau, Salman pun tersenyum. Ia tahu, bahwa sesungguhnya Diva sedang berbohong padanya. Mereka berdua tiba di depan gudang samping rumah pondok santri. Salman melirik ke arah Diva sesaat. "Jadi..., Bu Nyai ada di dalam?," tanya Salman sekali lagi. "Ya Akh Salman..., Bu Nyai ada di dalam sedang menunggu Akh Salman," jawab Diva. Salman pun membuka pintu gudang lebar-lebar, ia melihat tak ada siapapun di dalam gudang itu. Ia kembali tersenyum. "Ukhti..., apa Ukhti yakin kalau... ." Brukk!!! Salman terjerembab ke dalam gudang setelah Diva mendorong punggungnya dengan keras dan cepat. Diva pun buru-buru menutup pintu dari luar dan menguncinya rapat-rapat. Salman berlari ke pintu. TOK..., TOK..., TOK...!!! "Ukhti Diva!!! Buka pintunya Ukhti!!!," teriak Salman. * * * Odi, Fanno dan Setyo menghadap pada Abah di rumahnya. Mereka duduk berhadapan secara langsung. "Jadi..., benar kalau Tio dan Salman bertemu di belakang pesantren saat ini?," tanya Abah. "Benar Bah..., kami lihat sendiri. Mereka sedang merokok bersama di belakang pesantren," jawab Setyo. Abah mengangguk-anggukan kepalanya. Dengan santainya, pria paruh baya itu meminum teh dalam cangkirnya. "Ayo Bah, kita tangkap basah mereka. Mereka tidak akan mampu mengelak lagi kalau kita tangkap sekarang!," Odi berapi-api. Abah terkekeh. "Kenapa buru-buru sekali? Pelan-pelan..., supaya kita benar-benar tahu letak permasalahan sebenarnya," ujar Abah. "Bah..., kalau ditunda-tunda, nanti mereka keburu pergi," Fanno ikut tak sabaran. "Pergi kemana??? Dari tadi saya ada di sini!!!," ujar Tio dari arah pintu dapur rumah Abah. Mereka pun terpaku di tempatnya. * * * "Ukhti Diva..., tolong..., buka pintunya Ukhti," pinta Salman pelan-pelan. "Afwan Akh Salman, tolong jangan salah paham. Saya tidak bermaksud jahat, saya hanya berusaha menolong Akh Salman," ujar Diva di tengah kekalutan hatinya. Salman berusaha mendengarkan dengan baik dari balik pintu gudang. "Saya tidak marah Ukhti, percayalah. Tapi saya butuh penjelasan dari apa yang sedang Ukhti lakukan saat ini," ujar Salman. Diva berusaha menenangkan hatinya sesaat. Ia bersandar di balik pintu luar gudang itu. "Pertama..., tolong maafkan saya karena telah berbohong pada Akh Salman," ujar Diva. Salman tersenyum dari balik pintu bagian dalam gudang. "Iya Ukhti..., saya memaafkan Ukhti. Saya tahu sejak awal kalau Ukhti sedang berbohong, jadi saya tidak terkejut," balas Salman. "Ini pertama kalinya saya berbohong secara frontal, rasanya seperti saya sedang melukai fisik seseorang. Apa Akh pernah merasakan hal seperti ini?," tanya Diva. "Ya..., saya pernah merasakannya Ukhti. Saya ini manusia biasa yang pernah berbohong dalam keadaan tersudut seperti yang Ukhti lakukan. Ukhti tak perlu merasa bersalah, saya tahu Ukhti melakukan ini untuk kebaikan. Allah itu Maha Pengampun Ukhti..., Allah tahu segalanya," jawab Salman. Diva menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha melepaskan rasa sesak yang menghimpit di dalam dadanya. "Saya tidak punya pilihan lain Akh..., saya tidak tahu bagaimana caranya agar Akh Salman tidak melangkah keluar dari area pesantren. Hanya berbohong yang bisa saya lakukan untuk mencegah hal itu," jelas Diva. "Ada apa jika saya keluar Ukhti? Apa yang akan terjadi jika saya keluar?," tanya Salman. "Afwan Akh Salman, saat ini saya belum bisa memberitahukan yang sebenarnya. Saya takut terjadi fitnah jika saya mengatakannya karena hal tersebut belum terbukti," jawab Diva. "Hal apakah itu Ukhti? Beritahu saja pada saya..., saya tidak akan menyalahkan Ukhti," pinta Salman. "Tunggu saja Akh Salman, akan saya beritahu jika sudah terbukti," balas Diva. "Bagaimana cara membuktikannya? Sementara Ukhti ada di depan pintu gudang ini dan saya berada di dalam...," Salman kebingungan. "Ya Allah..., tolong jauhkan hambaMu yang shaleh ini dari fitnah yang k**i. Aku mohon berikanlah kebaikanMu disetiap langkahnya, berikanlah rahmatMu disetiap waktunya dan berikanlah perlindunganMu di manapun ia berada, amin." Diva terus berdo'a tanpa henti, sementara Salman duduk di lantai seraya bersandar pada pintu gudang. "Ukhti...," panggil Salman. "Ya Akh Salman...," balas Diva. "Tolong jangan pergi...," pinta Salman. Diva terdiam. "Tolong tetap di depan pintu dan temani saya sampai tiba waktunya untuk saya keluar dari sini," lanjutnya. "Ya..., saya tidak akan kemana-mana Akh Salman. Saya akan tetap di sini, Insya Allah," jawab Diva. Salman tersenyum bahagia. "Apakah jawabanmu akan sama jika aku memintamu untuk tetap bersamaku sampai akhir hayat?,"batinnya. "Ukhti Diva!!!," panggil Kiana seraya berlari menghampiri Diva di depan gudang. Keduanya berpelukan beberapa saat. Sarah, Nilam, dan beberapa orang santri mengikuti langkah mereka. "Ukhti Diva..., di mana Akh Salman?," tanya Firman. Diva segera membukakan pintu gudang dan mengeluarkan Salman dari dalam sana. Firman pun segera memeluknya dengan erat. "Alhamdulillah YaAllah..., tidak terjadi apapun pada sahabatku ini," ujar Firman. Rasya dan Ardi pun terlihat memegangi Odi, Fanno, dan Setyo di belakang Abah. "Alhamdulillah, Allah masih menyertai langkah Salman dan melindunginya melalui Ukhti Kiana dan Ukhti Diva. Allah selalu bersama orang-orang yang berhati bersih," ujar Abah. Salman masih kebingungan. "Tunggu dulu..., ada apa ini sebenarnya???," tanya Salman. * * * Sore itu, Abah - mewakili Kiana dan Diva - menceritakan segalanya pada Salman secara detail tentang apa yang terjadi. Salman tak berhenti mengucap syukur dalam hatinya karena masih diselamatkan oleh Allah dari fitnah yang k**i, melalui kebaikan hati Kiana dan Diva. Ardi merangkul Salman ketika mereka kembali menuju rumah pondok santri bersama Rasya dan Firman. "Akh Salman harusnya lihat sendiri bagaimana Ukhti Kiana berlari ke rumah pondok santri bagian barat untuk mencari Akh Tio," ujar Ardi. "Benar Akh..., Ukhti Kiana benar-benar panik luar biasa hanya demi menyelamatkan Akh Tio dari fitnah Akh Odi, Akh Fanno, dan Akh Setyo. Kami saja sampai kaget...," tambah Rasya. Salman tersenyum. "Kalian juga harusnya lihat sendiri bagaimana Ukhti Diva mengejarku demi menghentikan aku agar tidak keluar dari area pesantren. Bahkan aku tak habis pikir, betapa nekat-nya saat dia menguncikan aku di dalam gudang," ujar Salman. Mereka tersenyum. "Tak ada yang tahu bagaimana isi hati seseorang. Begitu juga dengan mereka yang kita pikir tak pernah memperhatikan apapun. Nyatanya..., merekalah yang menyelamatkan Akh Salman hari ini," ujar Firman. ‘Ya..., aku takkan melupakan hari ini. Hari di mana kau - yang tak pernah menatapku namun selalu ada dalam do'aku - menunjukkan rasa pedulimu padaku, dengan caramu. * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD