"Dari mana datangnya (kekalahan) ini?Katakanlah, Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(QS. Ali 'Imran : 165)
* * *
SESAL
Daniel memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah Orang tua Diva, ia datang dengan harapan akan melihat Diva kembali.
Selalu begitu, meskipun tak pernah ada hasil. Daniel masih saja tak putus asa.
Tok..., tok..., tok...!
Pintu rumah itu terbuka beberapa saat kemudian, wajah Ratih -Ibu mertuanya - muncul dari balik pintu.
"Assalamu'alaikum Bu," ujar Daniel seraya mencium punggung tangan Ratih.
"Wa'alaikum salam Nak. Gimana kabarmu dan Ibumu? Sehat?," tanya Ratih.
"Alhamdulillah bu, aku dan Ibu sehat. Bapak di mana Bu?," tanya Daniel.
"Ada di belakang bersama Salwa," jawab Ratih.
"Salwa? Siapa Salwa Bu?," Daniel kebingungan.
"Kakak sepupu Diva yang kami kirim untuk sekolah di Al-Azhar. Dia baru saja pulang seminggu yang lalu," jelas Ratih.
Daniel menganggukan kepalanya lalu bergegas menuju ke halaman belakang untuk menemui Gunawan - Bapak mertuanya.
"Assalamu'alaikum Pak," sapa Daniel sambil menciun punggung tangan Gunawan.
"Wa'alaikum salam. Kamu ke mana saja Niel? Kok baru datang hari ini?," tanya Gunawan.
"Maaf Pak, saya agak sibuk dengan jadwal mengajar," jawab Daniel.
"Oh begitu..., kenalkan, ini Salwa, Kakak sepupunya isterimu," ujar Gunawan.
Daniel menatap Salwa sekilas. Salwa mengulurkan tangannya pada Daniel seraya tersenyum.
"Salwa...," ujarnya.
Daniel menangkupkan kedua tangannya di depan d**a untuk membalas uluran tangan Salwa.
"Daniel..., maaf..., kita bukan mahrom, jadi tidak bisa saling bersentuhan," Daniel mencoba menjelaskan.
Salwa kehilangan senyumnya dan menarik tangannya dari hadapan Daniel. Gunawan terkekeh.
"Kamu sekolah di Al-Azhar, tapi kok tidak tahu hal-hal remeh seperti itu. Kamu betul-betul sekolah atau tidak?," sindir Gunawan.
"Paman bicara apa sih? Aku sekolah kok," jawab Salwa, agak kesal.
Daniel menatapnya tajam.
"Apa kamu menyekolahkan mulutmu juga di Al-Azhar??? Bicara pada orang tua harus pakai sopan santun! Jangan membentak!," Daniel memberi peringatan.
Salwa terdiam, Gunawan menepuk punggung Daniel agar pria itu tidak bertambah marah.
"Sudah Niel..., mari..., kita ke kamar Bapak dan bicara di sana," ajak Gunawan.
Daniel mengikuti langkah Gunawan menuju kamarnya, sementara Salwa tak berhenti menatap punggung pria itu dengan kesal.
"Tunggu..., kamu akan melihat bagaimana aku membalas bentakanmu itu!!!."
* * *
"Diva belum juga kembali, jika itu yang ingin kamu tahu," ujar Gunawan.
Daniel menundukkan kepalanya dengan perasaan yang kacau.
"Maafkan aku Pak, ini semua salahku," ujar Daniel, untuk kesekian kalinya.
Gunawan menatap menantunya itu dengan iba.
"Ini semua salah Bapak juga Niel..., seandainya hari itu Bapak tidak mengusir Diva karena berani kembali ke rumah setelah menikah denganmu, mungkin kalian tetap bisa bersatu saat ini," ujar Gunawan, menyesal.
Daniel tetap terdiam. Gunawan menatap keluar jendela kamarnya dan mengingat masa lalu.
Flashback On
10 tahun yang lalu
"Mau apa kamu kembali ke rumah? Cepat kembali ke rumah mertuamu!!!," bentak Gunawan pada Diva.
"Maaf Pak, tapi saya tidak akan kembali ke sana. Kak Daniel sudah mengusir saya, dia tidak mencintai saya Pak dan dia akan menikah dengan perempuan lain," jelas Diva.
Gunawan menatap Diva dengan murka.
"Bapak tidak mau dengar alasan apapun!!! Pokoknya, kamu harus kembali ke rumah mertuamu dan tinggal di sana. Urusan Daniel mau menikah lagi, tidak menjadi masalah!!! Memangnya Islam melarang laki-laki untuk poligami???."
Diva menatap tak percaya ke arah Gunawan.
"Bapak yang memaksaku untuk menikah di usia muda, dan sekarang bapak memaksaku untuk menerima kalau aku akan dimadu??? Apa yang Bapak pikirkan sebenarnya???," tanya Diva dengan airmata yang sudah tak mampu lagi ia tahan.
"Yang Bapak inginkan adalah kamu kembali ke rumah mertuamu!!! Kalau kamu menolak, silahkan pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali!!! Kamu bukan anakku lagi kalau menentang apa yang Bapak mau!!!."
Bentakan Gunawan kali itu menjadi yang terakhir kalinya sebelum Diva benar-benar pergi dan menghilang tanpa jejak. Ya..., Diva tak pernah lagi kembali sejak saat itu.
Flashback Off
Daniel menyesap tehnya lalu berpamitan pada Gunawan untuk pulang. Ia menuruni anak tangga menuju lantai bawah rumah itu. Salwa telah menunggunya.
"Diva tidak akan pernah kembali..., jadi terima saja nasibmu yang terombang-ambing," ujarnya, tajam.
Daniel berbalik menatap ke arah Salwa dengan marah. Salwa tersenyum atas kemenangannya karena berhasil membuat Daniel marah.
Salwa berjalan mendekat ke arah Daniel.
"Al-jaza min jinsil amal. Balasan akan di dapat sesuai dengan amal perbuatan! Jadi..., orang yang berbuat baik, akan mendapat balasan kebaikan dan orang yang berbuat jahat, akan mendapat balasan yang buruk. Itulah ketentuan ilahi. Salah satu prinsip dari banyak prinsip yang menegaskan bahwa Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana," ujar Salwa.
Daniel terdiam di tempatnya.
"Kamu dijodohkan dengan Diva tanpa syarat apapun, tapi kamu malah menyia-nyiakan dia, mengusir dia, berpoligami tanpa persetujuannya..., sekarang lihat..., apa yang kamu dapat atas semua perbuatanmu itu? Karma!!!," cibir Salwa secara terang-terangan.
Daniel ingin membalas, namun apa yang dikatakan Salwa adalah benar.
"Oh ya..., satu kekejaman lagi yang kamu perbuat..., kamu belum menyentuh Diva sama sekali sejak kalian menikah!!!," tambah Salwa.
Daniel kembali menatap Salwa, kali ini dengan tatapan terkejut.
"Bagaimana kamu tahu tentang hal itu?," tanya Daniel.
Salwa tertawa pelan.
"Aku lebih mengenal adikku sendiri daripada kamu mengenalnya. Dia tidak akan semudah itu pergi dari sisimu kalau kamu sudah menyentuhnya. Dia adalah tipe wanita yang terikat. Tapi karena kamu belum menyentuhnya..., maka ikatan itu tidak pernah ada," jawab Salwa.
Daniel tidak sanggup lagi mendengar apa yang Salwa katakan, ia segera berbalik dan pergi dari hadapan Salwa.
"Aku berdo'a agar Diva diberikan jodoh yang jauh lebih baik daripada kamu. Karena aku yakin..., dia akan lebih bahagia tanpa kamu!!!," tegas Salwa dengan lantang.
Daniel hanya bisa melarikan diri dan bergegas masuk ke dalam mobilnya. Sesaat setelah pintu mobil tertutup, Daniel menatap lagi ke arah foto pernikahannya dengan Diva.
‘Itu tidak benar kan??? Kamu akan kembali padaku kan??? Cintamu hanya untuk aku kan..., Diva???.’
* * *