BAGIAN 9

969 Words
Menuntut ilmu adalah takwa, Menyampaikan ilmu adalah ibadah Mengulang ilmu adalah dzikir, Menuntut ilmu adalah jihad. (Imam Al-Ghazali) * * *   SEBUAH PROSES   Hari itu, beberapa santriwati pergi keluar dari pesantren untuk melakukan tadabbur alam di area persawahan milik Abah. Diva dan Kiana menjadi pembimbing mereka. Pekerjaan rumah setelah waktu sahur telah diambil alih oleh Ria dan Risya. Sebuah rumah kecil di tengah-tengah pematang sawah menjadi tempat yang dipilih Kiana untuk berkumpul, setelah berjalan-jalan menglilingi area pesawahan itu. "Baiklah..., sekarang kita melepas lelah di sini. Beristirahat sejenak, sambil mendengarkan sebuah materi dari Ukhti Diva," ujar Kiana. Mereka semua terlihat antusias dan bergegas mencari tempat duduk paling nyaman untuk menyimak apa yang akan disampaikan oleh Diva. Diva sendiri duduk menghadap ke arah para santriwati itu agar mereka tak terkena sinar matahari dari luar rumah-rumahan itu. "Baiklah adik-adikku yang shalehah, bagaimana perasaan kalian setelah berjalan-jalan dan menikmati udara pagi ini?," tanya Diva. "Alhamdulillah Ukhti..., kami senang," jawab mereka serempak. Diva tersenyum dari balik niqob-nya, begitu pula dengan Kiana. "Kalau begitu, sekarang saya akan menyampaikan sebuah materi berkaitan dengan seberapa kuatnya keimanan kita," ujar Diva. Semua mendengarkan dengan baik tanpa berani menyela. "Kali ini saya akan membahas tentang takwa..., apa ada yang tahu tentang takwa?," tanya Diva. Salah satu santriwati bernama Farah pun mengangkat tangannya, Diva memberinya tanda untuk menjawab. "Takwa adalah istilah dalam Islam yang merujuk kepada kepercayaan akan adanya Allah, membenarkannya, dan takut akan Allah," jawab Farah. "Benar sekali Ukhti Farah..., hebat..., Ukhti Farah sudah tahu apa itu takwa menurut istilah. Lalu..., takwa yang akan saya sampaikan seperti apa ya? Apa ada yang tahu?," tanya Diva lagi. Mereka semua terdiam, Diva kembali tersenyum sesaat. "Takwa yang akan saya sampaikan adalah sesuatu yang lebih dari apa yang kalian tahu. Menurut bahasa, takwa berasal dari bahasa Arab yang berarti memelihara diri dari siksaan Allah subhanahu wa ta'ala, yaitu dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, Imtitsalu awamirillah wajtinabu nawahihi." Diva menatap ke arah Kiana beberapa saat. "Takwa berasal dari kata waqa - yaqi - wiqayah yang artinya memelihara, yakni menjaga diri agar selamat dunia dan akhirat. Kata Waqa juga bermakna melindungi sesuatu, yakni melindungi dari berbagai hal yang membahayakan dan merugikan." "Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan penjelasan mengenai pengertian takwa, yaitu, takwa adalah seseorang beramal ketaatan pada Allah, atas petunjuk dari Allah karena mengharap rahmat-Nya dan ia meninggalkan maksiat karena petunjuk dari Allah karena takut akan siksa-Nya. Tidaklah seseorang dikatakan mendekatkan diri pada Allah selain dengan menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan dan menunaikan hal-hal yang sunnah," tambah Kiana. Seorang santriwati bernama Isna pun mengangkat tangannya. "Ada yang ingin ditanyakan, Ukhti Isna?," tanya Diva. "Ukhti Diva..., hal apa yang dapat membuktikan bahwa kita adalah orang yang benar-benar bertakwa?," tanya Isna. Diva tersenyum sesaat. "Al-Quran menyebutkan, takwa itu adalah beriman kepada hal gaib, di antaranya adalah beriman Kepada Allah, Hari Akhir, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, beriman pada kitab-kitab Allah dengan menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dalam menjalankan hidup. Hal ini juga diterangkan dalam surat Al-Baqarah ayat dua sampai ayat tujuh, kalian bisa membacanya saat pulang nanti," jawab Diva. "Dan juga, ada sebuah hadits yang menyebutkan 'Laksanakan segala apa yang diwajibkan Allah, niscaya kamu menjadi orang yang paling bertakwa.' Hadits riwayat Ath-Thabrani," lanjut Kiana. Para santriwati itu pun menganggukan kepala mereka, menandakan bahwa mereka sudah mengerti. Diva membetulkan cara duduknya agar lebih nyaman. "Orang bertakwa senantiasa meluangkan waktu untuk beribadah dalam pengertian ibadah mahdhoh, yaitu kewajiban utama seperti sholat dan zakat, serta puasa Ramadhan dan haji bagi yang mampu. Allah subhanahu wa ta'ala juga berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi, 'Hai anak Adam, luangkan waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku menghindarkan kamu dari kemelaratan. Kalau tidak, Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan kerja dan Aku tidak menghindarkan kamu dari kemelaratan.'Hadits riwayat Ath-Tirmidzi dan Ibnu Majah," Diva menutup penjelasannya. "Baiklah, karena sekarang hari semakin siang, maka sebaiknya kita kembali ke pondok," ajak Kiana. Mereka pun keluar dari rumah mungil tersebut dan berjalan keluar dari area pesawahan. Abah yang sedang memantau para santri ketika mereka sedang membersihkan tanaman padi dari hama pun melihat ke arah rombongan santriwati. "Assalamu'alaikum..., sudah selesai tadabbur alam-nya?," tanya Abah. "Wa'alaikum salam Abah, Alhamdulillah kami sudah selesai tadabbur alam bersama Ukhti Kiana dan Ukhti Diva," jawab Annisa, ketua santriwati termuda. Diva dan Kiana pun ikut berhenti di tempat para santriwati lainnya. Abah menatap ke arah mereka. "Alhamdulillah kalau begitu, sekarang kalian semua boleh kembali ke pondok bersama Ukhti Kiana. Abah ada urusan sebentar dengan Ukhti Diva," ujar Abah. Kiana pun segera membimbing para santriwati itu untuk kembali ke pondok, sementara Diva duduk di pinggir pematang sawah bersama Abah. Para santri yang tengah bekerja melihat hal tersebut. Salman yang juga berada di antara para santri yang bekerja di sawah pun diam-diam menatap ke arah Diva. "Bagaimana kabar Ukhti? Adakah yang berubah?," tanya Abah. "Kabar saya baik-baik saja Abah, tapi afwan..., belum ada yang berubah dalam hidup saya selama sepuluh tahun terakhir ini," jawab Diva. Abah terlihat menghela nafas. "Ukhti..., apakah Ukhti tidak ingin mencoba untuk pulang dan melihat bagaimana keadaan di rumah Ukhti saat ini? Siapa tahu, dengan begitu Ukhti bisa memutuskan, apakah Ukhti akan tetap mempertahankan pernikahan Ukhti atau mencoba untuk melepaskan," saran Abah. Diva terlihat berpikir keras saat itu. "Hidup Ukhti tidak bisa begini terus, Ukhti harus memiliki pendamping yang benar-benar mendampingi, bukan hanya sekedar mengikat tapi tidak peduli. Pendamping adalah imam dalam rumah tangga, dan saat ini Ukhti belum bisa disebut berumah tangga karena tak bersama dengannya. Jika memang akan berlanjut, silahkan lanjutkan. Jika akan berakhir, maka akhiri secepatnya." Diva meneteskan airmata, Salman melihat hal tersebut meskipun dari kejauhan. Ia tahu betul kalau Diva sedang menangis. Diva terlihat beranjak pergi meninggalkan Abah untuk kembali ke pondok. Wanita itu terlihat mengusap airmatanya yang tak kunjung berhenti. Salman terus menatap kepergiannya dengan hati yang penasaran. Kenapa Diva menangis? ‘Apakah ada hal yang membuatmu tak bahagia?.’ * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD