BAGIAN 10

1044 Words
"Jangan lepaskan mutiara yang ada di genggaman, jika hanya tergoda kilau berlian di kejauhan." * * *   MEMBERI KENYATAAN   Malam mulai beranjak larut, Majelis Ramadhan baru saja usai. Para santri dan santriwati mulai kembali ke pondok mereka masing-masing. Salman mencuri-curi kesempatan untuk menemui Diva diam-diam. Ia berkilah pada Rasya, Firman dan Ardi, bahwa ada barangnya yang tertinggal di masjid. Diva baru saja akan menuju ke pondok santriwati bersama Kiana, ketika Salman berhasil mencegahnya di tengah jalan. "Afwan Ukhti Diva, saya meminta waktu untuk mengajukan beberapa pertanyaan apabila Ukhti tidak keberatan," ujar Salman. Diva dan Kiana saling menatap satu sama lain. Kiana berbisik di telinga Diva agar Salman tak mendengar. Diva terlihat seakan memikirkan bisikan itu. "Akh Salman, saya tidak keberatan untuk berbicara dengan Akh Salman. Namun, saya tidak mau berbicara secara langsung seperti ini," pinta Diva. Salman mengangguk tanda bahwa ia mengerti. "Baiklah Ukhti..., kita akan berbicara di masjid. Ukhti Diva dan Ukhti Kiana bisa duduk di balik tirai pembatas masjid," saran Salman. Mereka menyetujuinya dan segera pergi menuju ke masjid kembali. Salman kembali melebarkan tirai setelah meminta izin pada penjaga masjid. Kiana dan Diva duduk di sisi sebelah selatan dan Salman duduk di sisi sebelah utara. Diva terus menggenggam tangan Kiana. "Apakah tidak apa-apa jika kita saling berbicara dengan cara seperti ini Akh Salman?," tanya Diva. "Wa idzaa sa'altumuuhunna mataa'an fas'aluuhunna miw warooo'i hijaab, dzaalikum ath-haru liquluubikum wa quluubihinn, artinya apabila kamu meminta suatu keperluan kepada mereka, istri-istri Nabi,  maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Saya mengutip ayat ini dari surat Al-Ahzab ayat lima puluh tiga. Apakah Ukhti sudah merasa tenang?," tanya Salman. "Ya..., saya sudah merasa tenang Akh Salman. Silahkan, jika Akh Salman ingin bertanya," jawab Diva. "Afwan Ukhti Diva, jika saat ini saya akan menanyakan pertanyaan yang mungkin saja berkaitan dengan masalah pribadi Ukhti, ataupun sesuatu yang berkaitan dengan diri Ukhti sendiri," ujar Salman, meminta izin. "Apakah tidak masalah Akh Salman, jika seorang Ikhwan bertanya pada Akhwat yang bukan mahrom-nya tentang masalah pribadi?," tanya Kiana yang sebenarnya agak terkejut dengan pernyataan Salman. Salman menarik nafasnya dalam-dalam. "Ukhti Kiana, Insya Allah tidak akan ada masalah hanya karena sebuah pertanyaan. Yang akan menjadi masalah adalah jika saya menyakiti hati Ukhti Diva melalui kata-kata saya," jelas Salman dengan lembut. Akhirnya mereka menerima jawaban itu dan mulai menunggu pertanyaan dari Salman. "Afwan Ukhti Diva, kalau boleh tahu ada hal apa yang terjadi pada Ukhti, sehingga Ukhti menangis di hadapan Abah usai tadabbur alam kemarin?," tanya Salman. Diva menutup matanya sesaat, ia berusaha mengontrol dirinya agar tidak menangis. "Akh Salman..., sebelum saya menjawab pertanyaan Akh Salman, ada hal yang harus saya jelaskan agar Akh Salman tidak salah paham," ujar Diva. "Jelaskanlah Ukhti, saya akan mendengarkan," balas Salman. "Tapi satu hal yang saya minta dari Akh Salman, tolong jangan membenci saya jika Akh Salman tahu tentang apa yang saya sembunyikan selama sepuluh tahun ini," pinta Diva. Salman terdiam sesaat. "Insya Allah Ukhti, apapun yang akan Ukhti beritahu pada saya malam ini, takkan pernah membuat saya membenci Ukhti," balas Salman. Diva menarik nafasnya dalam-dalam, Kiana mengelus punggungnya untuk memberi ketenangan. "Sepuluh tahun yang lalu, saya masih berusia enam belas tahun Akh Salman. Saya masih duduk di bangku SMA kelas dua. Ibu dan Bapak saya datang ke kamar dan meminta sesuatu yang sangat luar biasa dari saya," ujar Diva, pelan-pelan. "Apa yang diminta oleh kedua Orangtua Ukhti?," tanya Salman. "Menikah dengan seorang pria yang telah mereka pilihkan untuk saya," jawab Diva dengan segenap kekuatan yang ia punya dalam dirinya. Deg!!! Jantung Salman seakan berhenti ketika mendengar jawaban itu dari mulut Diva. Hatinya seketika mencelos, seakan ada yang hilang dari sana dan meninggalkan bekas yang menyakitkan. Diva mulai tak mampu menahan airmatanya. Hatinya terasa sesak. "Saya menerimanya karena tidak mau menjadi anak durhaka Akh Salman..., tapi apa yang saya terima dari pria itu ketika sudah menikah dengannya adalah penolakan. Dia mengatakan dengan jujur, kalau dia tidak mencintai saya dan lebih mencintai wanita lain. Dia berkeras pada orang tuanya untuk menikahi wanita itu dan meminta saya untuk menceraikannya...," Diva tenggelam dalam isak tangisnya. Setetes airmata terjatuh di wajah Salman tanpa pria itu sadari. Seolah ada yang mengiris hatinya ketika mendengar fakta yang ada. "Lalu kenapa Ukhti Diva ada di sini? Kenapa tidak hidup bersamanya?," tanya Salman, lirih. Kiana dan Diva tahu betul arti dari lirihnya suara Salman saat itu. Ya..., pria itu menangis. "Dia mengusir saya Akh Salman..., dia terus meminta saya menceraikannya...," jawab Diva. "Apakah Ukhti sudah menceraikannya?." "Belum..., saya tidak sanggup menceraikannya Akh Salman..., saya mencintai imam yang Orangtua saya pilihkan, dan saya tidak mampu meninggalkannya," tangisan Diva semakin menguat saat menjawab pertanyaan itu. "Subhanallah..., kenapa dia harus menyia-nyiakan pemberian Allah yang sebaik Ukhti??? Apa yang membutakan hatinya???," geram Salman. "Cinta,Akh Salman..., dia tidak mencintai saya. Dia hanya mencintai wanita itu...," jawab Diva. "Astaghfirullah..., Astaghfirullah...," hanya itu yang mampu Salman katakan. Kiana memeluk Diva, agar tangisnya mereda. "Jadi Abah menanyakan perkara ini pada Ukhti, sehingga Ukhti menangis?," tanya Salman lagi. "Ya..., Abah menanyakan hal ini, dan meminta saya untuk pulang. Beliau mengatakan pada saya untuk mengambil keputusan, apakah saya akan melanjutkan pernikahan dengan dia, atau saya akan memutuskan untuk mengakhiri," jawab Diva. "Apa yang Ukhti pikirkan saat ini?." "Saya tidak tahu Akh Salman, yang saya tahu hanyalah satu hal. Bahwa saya adalah seorang isteri yang harus mempertahankan rumah tangga dan menjaga hati untuk suami saya, apapun yang terjadi." Salman hampir tak sanggup menahan dirinya untuk tidak menatap Diva agar wanita itu tenang, jika ia tak ingat bahwa ia sedang berbicara dengan 'isteri orang lain'. Hatinya terasa sakit, perasaannya seakan tercabik oleh kenyataan. "Ukhti..., pulanglah! Cari jawaban yang Ukhti nantikan selama sepuluh tahun ini. Jadilah isteri yang sesungguhnya dan bertahan di sampingnya," pinta Salman. Diva dan Kiana mengangkat wajah mereka bersamaan. Mereka terkejut dengan pernyataan Salman saat itu. "Sudah malam, kembalilah ke pondok. Afwan karena saya sudah membuat Ukhti menangis malam ini. Assalamu'alaikum... ." "Wa'alaikum salam...," jawab Diva dan Kiana, bersamaan. Salman pun pergi lebih dulu meninggalkan masjid, ia tak ingin Diva ataupun Kiana tahu bahwa ia sedang menangis. Sementara Diva justru kembali menangis di pelukan Kiana. ‘Ya Allah..., mengapa kau ciptakan wanita berhati mulia, bersifat jujur, dan setia seperti dia dengan nasib seburuk itu? Apakah yang membuat-Mu memberinya cobaan seberat itu? Kenapa Ya Allah???.’ * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD