Lalu Nathan telah berangkat naik pesawat menuju Hawai.
Bersama Anas mereka mengambil kursi kelas VVIP.
Sekitar ribuan dolar telah mereka habiskan untuk memesan tiket itu.
Dan kini Anas hanya sedikit kebingungan, laki-laki yang menyandarkan dirinya di kursi pesawat kelas atas.
"Benarkah laki-laki ini adalah suamiku?" tanya Ana.
Karena bulan madu adalah hal yang tidak ia inginkan.
Lalu Sang mantan, Britney ternyata sedang mengikutinya, hingga mereka ternyata telah berada dalam satu pesawat.
"Nathan tidak bisa lolos dari pengawasanku." kata nya.
Setelah pagi hari, pesawat mereka telah sampai di New York untuk transit dan mereka menginap sehari di sana lalu memesan tiket untuk pergi ke Hawai.
Sekarang mereka sedang menginap di New York.
Sebuah hotel mewah menunggu mereka, saat ia telah menginjakan kakinya di lobby hotel.
"Ana aku pesan kamar dulu." kata Alex.
"Oh jadi mereka ke sini dulu rupanya?" kata sang mantan yang sedang mengikuti Nathan pergi.
Lalu dirinya ikut memesan kamar hotel.
Menggunakan penutup wajah dengan balutan syal dan kaca mata hitam. Dan berdiri sejajar dengan Alex, ia memesan kamar sambil menyimak nomor kamar yang Nathan tempati.
Terdengar Alex mendapat kamar 107.
"Silahkan anda dapat masuk di kamar 107." kata penjaga hotel itu.
Hingga sang penjaga hotel itu bertanya pada Britney.
"Ingin pesan kamar yang mana?" tanya seorang perempuan.
"Bisakah saya melihat tata letak ruangannya?" tanya Britney.
Sang resepsionis menunjukan ruangan yang belum di booking.
"Aku harus mendapatkan kamar terdekat dengan Nathan." Ia terus mencari ruangan yang terdekat dengan Nathan.
"Ini dia, kamar 105. Hanya ini yang paling dekat." kata Britney dalam hati.
"Saya pesan yang ini saja. Kamar 105." kata Britney.
Sang resepsionis lalu memberikan kunci setelah menerima pembayaran.