Chapter 5. Berangkat Bulan Madu

1009 Words
Di dalam ruangan setelah membuka pintu. "Ini dia ruanganku dulu. Aku masih mengingatnya. Aku sangat rindu sekali ketika berada duduk di atas kursi ini. Masih muda dan sudah memiliki jabatan penting. Aku bangga pada diriku." ujar Nathan bahagia. "Ana, tidak bisakah kau menemaniku untuk duduk di sebelahku. Aku ingin merayakan hari kebangkitanku di perusahaan ini. Sini duduklah di dekatku." ajak Nathan. "Tapi tuan. Aku akan terasa begitu berat jika duduk di pangkuanmu. Lebih baik aku duduk di depanmu saja. Ini lebih praktis." kata Ana menuju kursi di depan Nathan. "Hey Ana, dengarkan aku kemarilah kau. Aku ingin merasakan kehangatan darimu. Sini." Nathan menepuk pahanya agar Ana duduk di pangkuan Nathan. "Ta-tapi tuan." kata Ana. Tapi Nathan tetap bersikeras. Akhirnya Ana mendekat ke Nathan dan perlahan melakukan apa yang Nathan suruh. "Kemarilah, aku tak kan menggangumu." kata Nathan ketika pinggang Ana mulai mendekat ke peraduannya. Ia mengambil pinggang Ana lalu merangkulnya dan mendudukan Ana persis di pangkuannya. "Kau tahu sebagai istri dari CEO, kau harus melakukan ini setiap hari. Aku tak kan melepaskanmu." bisik Nathan sambil memeluk pinggang Ana lalu menciumi tubuhnya hingga ke leher dan bibir Ana. Dengan maja tuan CEO itu mencumbui istrinya. Mengecup seluruh bagian tubuh Ana. Hingga ia meremas bagian paling sintal di tubuh Ana. Ana mematung tak tahu apa yang harus ia lakukan duduk di atas paha Nathan. Dan terdiam digerayangi oleh tuan CEO. Hingga seorang sekertarisnya mengetuk pintu ruangan tuan CEO. Tok. Tok. "Permisi tuan." kata sekertaris itu. Sang CEO mendadak panik. Begitu juga dengan Ana yang cepat-cepat berdiri dari pangkuan Nathan. Setelah Ana duduk di kursi depan Nathan. "Ya, masuk." kata Nathan. "Permisi tuan. Maaf menggangu. Ada telepon dari papa tuan. Sepertinya ia ingin mengajak tuan untuk makan siang di luar." kata sekertarisnya. "Oh sambungkan denganku." kata Nathan. "Baik pak." jawab sekertaris itu. Telepon tersambung. "Hallo pah." tanya Nathan. "Hallo Nathan. Papa ingin membicarakan tentang bulan madumu. Hari ini bisa kita bertemu di restoran Jepang?" tanya papanya. "Baik pa. Aku akan mengajak Ana untuk ke sana. Aku akan segera berangkat." jawab Nathan. Telepon terputus. "Ans, papa menyuruh kita untuk makan siang di restoran Jepang. Mari kita ke sana." ajak Nathan. Mereka berdua keluar dari kantor itu. Di dalam mobil. "Hari ini papa akan membicarakan tentang bulan madu kita. Berati sebentar lagi kita akan berlibur. Persiapkan dirimu." kata Nathan. Di sebuah restoran Jepang. Papa dan mamahnya sudah datang. "Nathan, ayo duduk. Makan siang kali ini sangat cocok untuk membahas hari bulan madu kalian. Setelah kau koma. Papa takut tak kan memiliki keturunan darimu. Maka cepat-cepatlah membuat keturunan baru. Agar kami tenang Nathan. Hha." papanya tertawa. "Kalau itu pasti. Oh ya ngomong-ngomong. Tempat yang papa rekomendasikan padaku itu di mana ya?" tanya Nathan. "Kami memiliki trip bagus untuk perjalananmu. Bagaimana jika kalian berlibut ke Hawai saja. Itu destinasi yang cukup menarik." kata papanya. "Baiklah. Papa sudah rencanakan itu semua? Kapan kami akan berangkat?" tanya Nathan. "Dua hari lagi. Kami sudah membooking semua tiket dan kamar hotel di sana." kata papa. "Baik pa. Kami akan berangkat sesuai jadwal yang ditentukan." kata Natha sambil sedikit melihat ke arah Ana. "Bagus. Papa akan mempersiapkan segala sesuatunya. Dan kalian bisa aman berlibur di sana." kata papa. "Oh ya pa. Sudah berapa lama Nathan tidak sadarkan diri? Apa ada sesuatu hal yang Nathan lewsti?" tanya Nathan. "Sudah setahun semenjak kecelakaan itu. Dan kamu tidak bangun juga. Tak ada yang perlu dikhawatirkan selama kamu koma tidak ada masalah yang terjadi kok. Semua aman." kata papa. "Oh ya, seminggu lagi sepupu kamu yang dari Amerika akan pulang ke Indonesia. Kau masih ingat dengan Alex? Anaknya kakak papa yang sedang membangun bisnis di Amerika? Dia ke sini untuk melihat perusahaan keluarga kakek. Jadi kalian akan bertemu setelah kamu pulang dari Hawai." kata papa. "Alex, pa? Dia ke sini dengan siapa?" tanya Nathan. "Dia ke sini berserta kedua orangtuanya yang telah menetap di Amerika. Kakak papa." kata papa. "Apa selama Nathan koma, Alex tahu jika Nathan tidak bangun-bangun pa?" tanya Nathan. "Ya Alex dan keluarganya sempat datang untuk menengok dirimu. Tapi setelahnya ia kembali ke Amerika." kata papa. "Oh jadi begitu. Kalau teman-teman Nathan pa? Apa ada yang datang untuk menjenguk Nathan?" tanya Nathan. "Ya hanya teman-teman dekat kamu seperti Nicho, Sam dan yang lainnya. Tapi selebihnya papa tidak begitu tahu." jawab papa. "Oh begitu. Berati Nathan koma sudah lama sekali ya pa. Aku pikir aku yidak bisa terbangun lagi. Namun akhirnya aku terbangun saat seusai ada Ana di samping Nathan." kata Nathan tersenyum pada Ana. "Ya itu pasti mukjizat yang tuhan kasih kepadamu. Mungkin lewat Ana dia bisa membangunkan dirimu, nak. Ana om berterima kasih ya telah membuat anak kami Nathan terbangun dari tidurnya yang sangat lama sekali." kata papanya. "Iya om. Itu mungkin hanya kebetulan sekali." jawab Ana. Lalu pada hari keberangkatan Nathan dan Ana untuk berbulan madu. Di rumah Nathan semua pelayan menyiapkan koper untuk ditaruh ke mobil Nathan. Papa dan mamahnya Nathan turut ingin melihat keberangkatan putranya berlibur ke hawai. "Kalau sudah sampai di bandara, telepon papa atau beri kabar ke kita ya Nat?" kata papa. "Iya pa." jawab Nathan. "Ana kamu juga baik-baik ya sama Nathan. Kasih tahu tante kalau sudah sampai sana. Ingatkan Nathan juga biar dia tidak terlambat makan. Soalnya Nathan itu sering lupa." kata mamah Nathan. "Iya tante pasti Ana akan ingatkan Nathan untuk makan dan lainnya. Tante nggak usah khawstir." jawab Ana. "Ya sudah pa, mah. Sudah waktunya Nathan dan Ana berangkat ke bandara. Kita mobil dulu ya." Nathan pamit. Setelah mereka bersalaman. Mereka masuk ke mobil. "Dah." kata mamah dan papa. "Ana dengarkan kata mamah, kamu harus selalu ingatkan aku untuk sarapan, istirahat dan lain-lain. Itu sekarang sudah tugas kamu sebagai istriku." kata Nathan. Keberangkatan Nathan ke Hawai pun telah didengar oleh Britney kekasih lama Nathan. "Apa, sekarang Nathan sudah berangkat ke Hawai?" tanya Britney. "Jadwalnya sih hari ini. Untung saya sudah tahu Nathan akan pergi ke sana. Jadi saya akan menemui Nathan di Hawai. Ini sudah jam untuk tiba di bandara. Saya akan susul dia." kata Britney. Britney yang merupakah kekasih Nathan sebelum ia koma. Dan pergi meninggalkan Nathan saat ia sedang sekarat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD