"Apa kau sudah menyelesaikan makan malam mu? Kalau sudah. Mari kita pergi ke kamar." kata Nathan.
"Ahm belum. Masih lama. Aku belum menghabiskannya semuanya. Kelihatannya ini sangat enak untuk dilewati. Nanti saja kita kembali ke kamar." kata Ana.
"Apa kau gugup. Ngomong-ngomong. Berapa umurmu?" tanya Nathan.
"Aku? Umurku masih 18 tahun. Aku masih kecil. Seharusnya belum siap untuk menikah." kata Ana.
"Apa 18 tahun? Masih muda sekali dirimu? Kalau dirimu masih semuda ini. Kau tentu masih kuliah." kata Nathan.
"Tentu saja. Tapi aku sebenarnya tidak mengambil kuliah. Karena sehabis lulus SMA aku langsung bekerja." kata Ana.
"Oh begitukah. Jadi kau telah bekerja? Pas sekali di kantor ayahku kau cocok untuk menjadi karyawan di sana.
Jika malam ini kau melayani ku dengan baik. Aku akan merekomendasikan dirimu di kantor ayahku." kata Nathan.
"Apa? Apa kau tulus sekali menawariku? Kenapa harus melayanimu dulu baru aku bisa bekerja?" kata Ana.
"Hhha. Itu karena kau selalu menggodaku. Lagi pula kamu ini istri sah ku." kata Nathan.
"Oh iya sudah tahun berapakah ini? Apa kau tahu, sudah berapa lama aku terbaring dan koma?" tanya Nathan.
"Kalau itu aku tidak begitu tahu. Cuman ayahmu bilang kau telah lama sekali tidak bangun-bangun.
Dan mereka mulai putus asa untuk mencari penerus perusahaan mereka. Makanya dari itu aku disuruh menikah denganmu.
Padahal aku tidak mengenalmu sama sekali." kata Ana.
"Oh begitu ya. Lalu kenapa kau mau melakukannya?" tanya Nathan.
"I-itu karena hutang keluargaku yang banyak sekali. Jadi terpaksa aku menikah denganmu." kata Ana.
"Hutangmu tak kan lunas. Jika kau tak menurut padaku." kata Nathan.
"Apa bukankah menikah denganmu itu sudah lebih dari cukup." kata Ana.
"Tapi untuk menjadi istriku. Kau harus selalu menunjukan sikap hormatmu padaku. Dan turuti semua kata suamimu ini." kata Nathan.
"Sekarang cepat selesaikan makanmu. Sepertinya sudah selesai. Ayo kita pergi ke kamar." kata Nathan.
Nathan menarik paksa istrinya.
Sampai di kamar.
"Mandilah, setelah itu baru menghadap padaku." kata Nathan.
"Aku mandi?" kata Ana.
"Ya bersihkan dirimu. Cepat." kata Nathan.
Ana menurut mau tidak mau ia harus melakukan apa yang Nathan perintahkan.
Ketika ia kembali hanya memakai handuk kimono.
Nathan metatapnya lekat-lekat.
"Aku ingin ganti baju dulu. Bisakah anda keluar sebentar." kata Ana.
"Apa, buat apa aku harus keluar dari kamarku. Tidak usah berpakaian saja. Sini." kata Nathan.
"Mau apa kau, aku harus berpakaian dulu." kata Ana.
Nathan mendekat ke Ana.
Lalu menarik tangannya.
"Aku ingin melihatnya." kata Nathan.
Lalu membuka paksa handuk kimono mikik Ana.
"Nathan. Sebaiknya jangan sekarang." tolak Ana.
"Jangan tolak aku. Hari ini kubebas untuk melakukannya." kata Nathan.
Nathan menarik handuk kimononya hingga jatuh ke bawah.
Dan sekarang tanpa baju sedikit pun menutupi tubuh Ana.
Ia mulai mendekat ke tubuh Ana.
Ana tidak bisa menghentikannya.
Setelah menciumi tubuh Ana.
Nathan menarik tubuh Ana itu ke bed.
Lalu berada tepat di atas Ana.
Ia mulai mengerayangi tubuh seksi Ana.
Meremas semua bagian tubuhnya.
Lalu tanpa batasan sedikit pun.
Nathan mulai memasukan alat kelelakiannya pada bagian sensitif milik Ana.
Ana mulai menjerit kesakitan saat benda panjang itu menusuk-nusukan ke arah sensitifnya.
Selama beberapa lama Nathan tak membiarkan Ana untuk memberonyak karena Nathan lebih kuat dari Ana.
Ia memasukannya berkali-kali hingga hasrat kelelakiannya terssapuas.
Nathan menindih tubuh Ana dengan kejantannya yang masih di dalam.
Lalu menciumi bibir Ana.
Ana hanya mengerang kesakitan dan mencoba untuk bertahan.
Ia ingin menangis karena pria itu sangat liar sekali.
Bahkan ia tidak bisa berkutik lagi.
Saat Nathan mulai mengeluarkan spermanya.
Ana agak menangis.
Nathan mencoba melakukannya berkali-kali.
Ia juga menciumi bukit milik Ana.
Hingga bagian depan dan belakang milik Ana tutut ia gerayangi.
Lalu tak puas sampai di situ Nathan melakukannya lebih gila lagi.
Berkali-kali ia menyalurkan hasratnya itu pada perempuan muda yang telah sah sebagai istrinya.
Sementara Ana sangat kewalahan dengan aksi liar pria yang baru menjadi suaminya.
Setelah letih Ana dan Nathan tertidur.
Esok harinya, Ana cepat-cepat bangun sebelum Nathan melihatnya berganti baju.
Namun ketika ia kembali untuk membuka lemari.
Tiba-tiba Nathan terjaga.
Ia melihat Ana telah memakai handuk.
Lalu tersenyum jahil pada Ana.
"Kau sudah bangin. Hari ini bagaimana jika kau ikut aku ke kantor papa. Papaku pasti akan memperkerjakan dirimu." kata Nathan.
"Tidak bisa, hari ini aku lebih baik di rumah saja. Kau sendiri pasti sibuk dengan pekerjaan kantor. Lebih baik aku di rumah saja sambil menunggumu pulang." kata Ana.
"Masa kau seorang istri CEO tak menemani suaminya ke kantor. Ana, ingat kau harus menemaniku saat ini." kata Nathan.
"Aku berganti baju dulu. Tapi apakah di luar sepi. Aku hanya memakai handuk kecil ini. Bagaimana jika ada orang lain lewat." gumam Ana.
"Makanya kau tak usah malu lagi padaku. Gantilah di sini saja. Lagian aku sudah melihat semua bagian darimu." kata Nathan.
Karena tidak ada jalan lain, akhirnya Ana memakai pakaian itu di depan Nathan.
Walaupun ia masih merasa malu dan risih.
Setelahnya tanpa berkedip sedikit pun pada Ana, Nathan lalu terkekeh menyaksikan adegan itu.
Lalu menghampiri Ana sebelum ia pergi ke kamar mandi.
Di meja makan.
"Ana, lebih baik kau ikut saja denganku. Hari ini ku akan pergi ke kantor." ajak Nathan.
"Tapi aku merasa tak enak badan.
Tidak apakah aku beristirahat saja di rumah." jawab Ana.
"Apa kau sakit? Tidak mungkin, setelah semalam kau begitu menikmatinya. Mungkinkah sekarang kau jadi sakit. Ayolah Ana, sebentar saja. Ini tentang penyambutanmu di kantor lagi." kata Nathan.
"Tidak bisa, aku tidak mau. Kau saja yang pergi." kata Ana.
"Kau ini?" kata Nathan.
Selanjutnya Nathan tetap bersikukuh untuk membawa Ana ke kantor.
Mereka pun akhirnya pergi juga.
Karena Nathan memaksanya dan menarik dirinya untuk segera masuk ke mobil.
"Ana, kau tahu kita sudah menikah jadi selayaknya kau harus terus berada di sampingku. Jangan buang-buang diriku. Kau paham. Tak semudah itu wanita lain bisa mendapatkan pria sesempurnaku. Kau mengerti." kata Nathan.
Di tempat kantor Nathan.
Semua karyawan menyambut kehadiran Nathan bahkan mereka memberikan selamat untuknya.
"Selamat ya pak Nathan, atas kesembuhannya. Kami berharap anda bisa menjadi pemimpin lagi di perusahaan sebesar ini. Kami menantikan tugas dari bapak." kata seorang sekertaris di sana.
Begitu pula yang lainnya memberikan tepuk tangan untuk mereka.
"Terima kasih, mulai hari ini aku akan bekerja di temani oleh istriku, Ana." kata Nathan.
Lalu mereka masuk ke ruangan Nathan.