Lily menyadari tatapan Kania yang masih menyelidik. Hal itu membuatnya berpikir cepat menyusun kalimat penyelamat sebelum situasi makin canggung. Ia menarik napas cepat, kemudian tersenyum manis, mengubah raut gugupnya menjadi ekspresi penuh kekaguman yang terlatih. "Bukan gitu, Tante." Lily menggenggam kedua tangannya di depan daada. Nada bicaranya melembut penuh perhitungan. "Aku tuh, sebenernya udah punya beberapa sketsa sendiri di rumah. Tapi begitu liat desain-desain Tante di sini, aku jadi mikir, kenapa harus maksain pake punya sendiri kalau ada karya Tante yang jauh lebih bagus?" Kania mengangkat alis, memperhatikan Lily yang kini melanjutkan kalimatnya dengan mata berbinar penuh ketulusan yang dibuat-buat. "Lagi pula, Tante kan, calon mertua aku." Lily tersenyum lebih lebar, sen

