"Apa pun, Aira?" tanya Respati rendah, menundukkan kepalanya hingga hembusan napas dinginnya menyapu wajah Aira. Respati melirik sejenak ke arah kaca spion tengah. Dari kejauhan, bayangan sebuah mobil sports hitam tampak melaju kesetanan, membelah kepadatan lalu lintas dengan raungan mesin yang meraung gila. Kallandra makin dekat. Respati menyandarkan punggungnya rapat-rapat, mengalihkan pandangannya kembali pada Aira. Pria itu mengangkat satu tangannya, menyentuh bibirnya sendiri dengan ujung ibu jari sembari melemparkan senyum tipis yang sarat akan d******i beracun. "Kamu tahu apa yang paling saya sukai dari situasi seperti ini, Aira?" Aira tidak menjawab. Ia menggeser tubuhnya lebih rapat ke sudut pintu, menjaga jarak sejauh yang bisa ia usahakan di dalam ruang sesempit itu. "Saya

