Respati menelan ludah dengan kasar sewaktu melihat bibir Aira yang pecah dan berdarah. Rasa asin dari darah pria itu sendiri di bibirnya tidak sedikit pun menyurutkan amarah yang telah membakar sisa akal sehatnya. Pria itu sengaja merapatkan tubuhnya, membiarkan bobotnya mengunci gerak sang mantan istri di bawah kekuasaannya. Tanpa sedikit pun kepedulian atas kondisi fisik Aira yang sudah dipenuhi memar dan trauma, tangan Respati merayap kasar menyapu area daada mantan istrinya. Jemarinya yang dingin menyusup di balik bra, mencari dan melepaskan pengait kain penyangga bagian tersebut dengan satu sentakan cepat hingga terlepas sepenuhnya. “Stop, Mas!” seru Aira dengan suara nyaring. Aira terengah-engah, dadanya naik turun memburu dalam kepanikan yang cukup besar. Rintihan kesakitan lolo

