Bab 179

4928 Words

Tiga hari kemudian .... Jarum infus di punggung tangan Aira akhirnya dilepas pagi ini. Meski kondisinya dinyatakan cukup stabil untuk rawat jalan, tubuh perempuan itu masih amat lemah. Wajahnya pucat bagai kertas tanpa warna dan pancaran matanya meredup, menyimpan kehampaan mendalam seolah jiwanya telah ikut dikubur bersama buah hatinya yang gugur. “Ra? Kamu yakin nggak mau saya antar? Kondisi kamu masih lemah,” tanya Dokter Rivanda seraya mengamati Aira yang sibuk merapikan pakaian sederhananya dengan jemari yang gemetar. Aira memiringkan kepala lalu menggeleng pelan, menolak tawaran tersebut tanpa sedikit pun keraguan. “Saya ... saya mau pergi sebelum Respati datang, Dok,” lirih Aira dengan nada lemah. Suaranya terdengar begitu tipis dan bergetar, dibalut ketakutan bahwa bayang-bayan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD