Ruang kerja pribadi Biantara terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Lampu meja menyala redup di sudut ruangan, melemparkan bayangan panjang ke sepanjang dinding berpanel kayu. Di dalam sana, Biantara sudah duduk di kursi kebesarannya dengan kedua tangan tertaut di atas meja. Kania berdiri tidak jauh dari sisi suaminya, tangannya mengusap-usap lengan sendiri dengan gelisah. Pintu ruangan terdorong pelan. Kallandra melangkah masuk dengan langkah berat, wajahnya masih menyimpan sisa kelelahan dan mata yang sembap. Ia berhenti beberapa langkah dari meja, tidak berniat mendekat lebih jauh. “Papa mau bicara apa?” Biantara tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu menatap putranya lama, membiarkan keheningan menggantung berat di antara mereka. Ada sesuatu di sorot matanya yang sulit terba

