“Perempuan itu adalah takdir saya, Rasti,” tegas Kallandra tanpa ragu, memberikan jawaban pemungkas yang mematahkan seluruh harapan Rasti seketika. “Dan tidak ada seorang pun, termasuk kamu atau kesalahan masa lalu kita yang bisa menggantikan dia di hidup saya.” Rasti mengepalkan tangan erat-erat, menatap Kallandra dengan tatapan penuh luka dan kebencian yang mulai menjalar. Sementara pria di hadapannya tetap berdiri kaku di bawah rindangnya pohon taman, membiarkan keheningan pahit mengunci percakapan mereka yang tidak lagi memiliki jalan keluar. “Apa nggak ada sisa rasa buatku, Ndra? Sekejam itu kamu melupakanku cuma karena aku harus pindah keluar kota buat ikut orang tuaku?” Tangis Rasti pecah, dadanya sesak menahan kegetiran yang membuncah. Ia menatap Kallandra dengan pandangan meng

