Kalimat itu. Alasan itu. Kata dan kepedulian kaku yang polos sama persis dengan apa yang pernah diucapkan oleh Ava, gadis kecil dari masa lalunya yang menjadi akar dari segala dendam dan kehancurannya. Respati menatap Aira dengan binar mata yang berkilat liar bercampur kepedihan, murka, dan kerinduan yang mendadak membuncah tidak terkendali. Sosok Aira yang berdiri berselimut kain di hadapannya seakan tumpang-tindih dengan bayangan Ava yang paling benci melihatnya menyalakan tembakau. Dengan jemarinya yang mendadak gemetar kaku, Respati mencengkeram pergelangan tangan Aira. Cengkeramannya amat kuat, tetapi kali ini bukan sekadar untuk mengintimidasi, melainkan wujud kejutan luar biasa yang menghantam relung batin terdalamnya. “Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu, Aira?” tanya Resp

