"Sedangkan dengan saya saja kamu selalu menjaga jarak!" Aira membuka matanya lebih lebar. Ada sesuatu yang pecah di dalam dadanya mendengar kalimat tersebut. Bukan marah. Bukan pula sedih. Ada semacam kelelahan yang begitu dalam sampai ia tidak lagi tahu harus mulai membantah dari mana. Melayani. Kata itu terus berputar di kepalanya. Aira ingin berteriak. Ingin memberitahu pria itu bahwa bekas di lehernya bukan hasil dari apa pun yang ia inginkan. Bahwa ia dibius, dibawa paksa, dan terbangun di dalam mobil dengan jilbab yang sudah terlepas. Bahwa ia melawan sampai tangannya sendiri lecet, sampai suaranya habis, dan tetap tidak ada gunanya. Aira ingin mengatakan bahwa satu-satunya alasan ia menjaga jarak dengan Kallandra justru karena perempuan tersebut menghormati pria itu. Karena ia i

