Aira menatap tangannya sendiri. Ia harus bicara. Sekarang. Inilah kesempatan yang harus ia gunakan dengan baik. Namun, begitu ia membuka mulut, bayangan lain lebih dulu muncul. Wajah Bunda Sarah. Anak-anak panti yang berlarian di halaman. Suara Respati yang begitu tenang menyebut nama tempat itu, seolah sedang menyampaikan alamat biasa dan bukan ancaman. Perempuan tersebut menutup mulutnya kembali. “Aira.” Kallandra memanggil pelan. “Aku cuma jalan-jalan, Mas.” Kalimat tersebut keluar dengan sendirinya, terdengar begitu datar bahkan di telinganya sendiri. Kallandra menatapnya lama. Ia tahu jawaban itu bukan yang sebenarnya. Setiap otot di wajah Aira mengatakan hal tersebut. Namun, ia juga menyadari sesuatu yang lain, sesuatu yang baru pria tersebut sadari sore ini setelah menonton rek

