Dunia Aira serasa berhenti berputar dalam hitungan detik. Pandangan matanya terkunci rapat pada ukiran nama tersebut. Lidahnya mendadak kelu, rasa panas membakar bagian belakang matanya jauh lebih hebat daripada demam yang sedang melanda tubuhnya. Nama itu bukan sekadar hiasan kulit, melainkan bukti otentik yang terpahat abadi tentang siapa pemegang takhta sesungguhnya di dalam hati seorang Kallandra. Mata abunya enggan berkedip dalam beberapa saat. Ingatan Aira berputar kilat secara menyakitkan, momen saat Rasti hadir di rumah Hanggara, kesigapan Kallandra yang refleks meraih tubuh Rasti di teras saat perempuan itu kehilangan keseimbangan, hingga tatapan mata pria itu yang tidak pernah benar-benar lepas dari masa lalunya. Ya. Aira bisa melihatnya. Ia bisa memahami bagaimana perasaan

