"Kania? Om Bian?" Wanita itu memanggil dengan nada ragu. Matanya membelalak, seakan tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat di hadapannya. Tangannya yang semula menggenggam tas kecil sedikit gemetar. Ia butuh waktu untuk meyakinkan diri bahwa wajah-wajah yang berdiri di teras tersebut memang benar sosok yang sudah lama ia rindukan. Biantara dan Kania berdiri mematung sejenak. Mata mereka berdua menatap tajam ke arah pasangan yang baru saja turun dari mobil tersebut. Wajah keduanya seketika memucat, campuran antara keterkejutan dan ketidakpercayaan yang begitu jelas terpancar. Untuk sesaat, waktu seperti berhenti berputar hanya demi mempertegas kenyataan yang sedang mereka saksikan. "Na-Nala?" Kania memanggilnya gagap. Suaranya bergetar menahan haru yang mendadak menyeruak begit

