Adrian menghela napas panjang. Ia menatap Respati dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada penyesalan mendalam sekaligus ketegasan yang terpancar jelas dari garis-garis raut wajah pria paruh baya itu. Keheningan di antara mereka berdua terasa begitu menekan, membius atmosfer ruang tamu yang megah. Respati sendiri berdiri kaku dengan daada naik turun menahan debar kecemasan yang kian memuncak. "Kesehatan Lily akhir-akhir ini memburuk, Res," ujar Adrian akhirnya, membuka suara dengan nada amat berat. Pria itu membetulkan posisi berdirinya seraya menatap calon menantunya tanpa berkedip. "Kondisi fisiknya drop drastis karena kelelahan yang menumpuk. Belum lagi dia harus fokus ke persiapan wisudanya yang semakin dekat." Respati mengernyitkan dahi, merasakan ada ketidaksesuaian antara ala

