Bab 116

4789 Words

Respati berdiri dengan wajah yang sulit dibaca. Tatapannya sempat beralih dari Aira kepada Mahendra, lalu kembali lagi kepada istrinya. Keheningan yang tercipta terasa menekan, seakan satu kata yang salah dapat kembali memantik pertengkaran. Aira segera bangkit dari kursinya. Tubuhnya masih lemah, tetapi ia memaksakan senyum tipis yang sama sekali tidak sampai ke mata. "Nyonya Besar sudah bangun?" tanyanya hati-hati. Respati hanya mengangguk. "Dia menunggu kamu dari tadi. Jangan buat mama saya capek." Nada datarnya membuat Aira menahan napas. Ia melirik Mahendra sekilas. Adik iparnya itu membalas dengan tatapan penuh harap, mengingatkan kesepakatan yang belum sempat mereka jalankan. Tanpa berkata lagi, Aira mengikuti Respati masuk ke dalam mansion. Koridor menuju kamar Kania terasa jau

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD