Bella menggenggam tali cadar Aira dengan tatapan penuh kelicikan. Perempuan itu berdiri sangat dekat, cukup dekat untuk membuat Aira bisa mencium aroma parfum menyengat yang dikenakannya. Tatapan Bella menyapu wajah bercadar di depannya dengan rasa penasaran yang bercampur sinis. Hanya dengan satu tarikan kecil, cadar itu bisa terlepas dan memperlihatkan wajah Aira secara langsung. Namun sebelum niat itu benar-benar terjadi, Respati lebih dulu bergerak. Tangannya mencengkeram pergelangan Bella, lalu menariknya menjauh dalam satu gerakan cepat tanpa memberi kesempatan wanita itu membuka cadar Aira. Bella langsung menoleh dengan wajah penuh kekecewaan. “Kenapa, Mas?” Helaan napas kasarnya terdengar jelas. “Harusnya kamu biarin aku buka cadar dia.” Tatapannya kembali bergeser ke arah Aira d

