Kallandra menatap Rasti tajam, tidak sepenuhnya percaya pada penjelasan tersebut. “Kalau cuma soal itu, kenapa harus repot-repot cerita ke Papa soal Aira? Kamu bisa saja jaga hubungan baik tanpa perlu ikut campur urusan pribadi saya.” Rasti terdiam sejenak, mempertimbangkan jawaban yang tepat. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan, suaranya lebih pelan, meski tidak meninggalkan kesan tegasnya. “Karena aku nggak tega, Andra. Aku lihat sendiri gimana Aira diperlakukan nggak adil, dituduh macam-macam padahal dia nggak salah apa-apa. Aku cuma pengen Papa tau kebenarannya, bukan cuma dengar cerita sepihak dari satu orang aja.” Kalimat itu membuat Kallandra terdiam, rahangnya masih mengeras, meski ada sesuatu yang mulai melunak dalam sorot matanya. Ia tahu betul siapa yang d

