Biantara duduk tegak di sofa, menatap Rasti dengan sorot mata yang masih menyimpan kewaspadaan seorang kepala keluarga. Sejenak sebelum percakapan berlanjut, Biantara memperhatikan Rasti lebih saksama. Ia mengenakan pakaian seksi, tapi jauh dari kesan murahan yang biasa melekat pada perempuan di sekeliling keluarganya. Tidak ada kesan berlebihan dalam caranya duduk, tidak ada usaha menarik perhatian. Entah kenapa, itu justru membuat Biantara semakin percaya pada ketulusan dari setiap kata Rasti. “Aira bukan orang asing bagi saya, Pa,” ucap Rasti pelan, suaranya bergetar menahan beban yang lama ia pendam. “Dia perempuan baik. Sejak awal lihat dia, saya sudah bisa lihat itu.” Biantara menatap Rasti lekat, alisnya bertaut. Kalimat itu terdengar ringan, tapi sarat makna yang membuatnya ing

