Bab 151

4995 Words

Respati berlari menyusuri koridor dengan langkah yang begitu berantakan, kertas catatan dan gelang bernoda darah masih tergenggam erat di tangannya. Begitu sampai di depan kamar Aira, tanpa mengetuk pintu lebih dulu, ia mendorongnya kasar. Membiarkan pintu tersebut membentur dinding dengan bunyi yang cukup keras. Ruangan tersebut sepi. Lampu masih menyala redup, meninggalkan bayangan panjang di setiap sudut kamar yang terasa begitu asing baginya, meski ini adalah kamar istrinya sendiri. Matanya bergerak liar, mencari tanda-tanda kehidupan yang seharusnya masih ada di sana. Namun, setelah matanya sibuk menelusuri, yang ia temukan hanyalah kekosongan yang begitu mencekam. Tatapannya jatuh pada sebuah koper tua yang tergeletak terbuka di atas ranjang, isinya berserakan sebagian, seakan seng

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD